152. Dallas di Tengah Keputusasaan
Pertandingan kelima pada tanggal 2 Mei kembali digelar di American Airlines Center, namun aroma keputusasaan mulai menyelimuti markas besar di Dallas tersebut.
Ketertinggalan satu banding tiga untuk melakukan *comeback* sangatlah jarang terjadi dalam sejarah, terlebih lagi melawan sang juara bertahan yang begitu tangguh. Para pemain Mavericks bukan tidak berusaha, bahkan pada detik ke-47 menit ke-48 di kandang lawan mereka masih memimpin atas sang lawan, namun tembakan tiga angka krusial Tracy McGrady saat pertandingan menyisakan 0,6 detik menghancurkan segalanya.
Kini sebuah pandangan telah populer di kalangan pendukung Dallas, bukan karena Mavericks tidak kuat, melainkan karena Rockets yang terlalu perkasa. Para pendukung yang lebih radikal terus mengirimkan surel protes kepada pihak liga, memprotes fakta bahwa pemuncak Wilayah Barat Laut, SuperSonics, bisa memanfaatkan celah aturan untuk menempati posisi ketiga Wilayah Barat, sementara dua kekuatan Wilayah Barat Daya harus saling bunuh di peringkat keempat dan kelima dan terpaksa bertemu lebih awal. Di mata para pendukung ini, kekalahan dari Rockets bukanlah sebuah aib, melainkan sistem kompetisi yang tidak adil lah yang memalukan.
Para penonton saja sudah mulai mencari-cari alasan atas kekalahan tersebut, masikah para pemain memiliki keyakinan untuk menciptakan keajaiban? Setidaknya pemilik klub, Mark Cuban, masih mempercayainya, pada detik ini ia tetap yakin bahwa timnya mampu membalikkan keadaan. Tentu saja, bahkan jika mereka kalah, Cuban yang sangat mencintai bola basket akan tetap merogoh koceknya dalam-dalam untuk terus mendatangkan pemain baru. Bagaimanapun, kontrak Nowitzki telah diperpanjang jauh-jauh hari hingga tahun 2008, selama ia ada di sana maka fondasi Mavericks tetap terjaga.
Rockets yang sudah di atas angin tidak memikirkan tentang fondasi, melainkan memikirkan lawan berikutnya, bahkan lawan di final wilayah hingga final NBA. Dalam pertandingan sehari sebelumnya, Suns berhasil mengalahkan Grizzlies, menyapu bersih lawan dengan skor empat kosong untuk melangkah ke babak kedua. Di mata para pemain Rockets, merekalah yang akan menjadi lawan berikutnya. Bahkan beberapa pemain mulai mendiskusikan tim mana antara SuperSonics dan Spurs yang akan menghadapi Rockets di final wilayah.
Semangat yang berbeda dari kedua tim langsung terlihat jelas pada kuarter pertama. Saat tip-off dimulai, Yao Ming berhasil memenangi perebutan bola, Bosh menerima umpan dari Billups dan langsung melakukan *jump shot* untuk membuka keunggulan.
Terry yang tampil seperti dewa pada pertandingan sebelumnya dengan mencetak 32 poin juga melakukan kesalahan, dribblenya berhasil direbut langsung oleh Billups, Jefferson memanfaatkan serangan balik cepat untuk mencetak angka melalui layup.
Dampier menerobos ke bawah keranjang untuk melakukan *layup* namun gagal, Howard merebut *offensive rebound* dan mencoba memasukkan bola kembali namun digagalkan oleh blok telak dari Yao Ming, Finley merebut bola dan mencoba memasukkannya lagi, namun kembali mentah oleh blok luar biasa dari Jefferson. Rockets akhirnya menguasai bola, McGrady mengangkat tangan dan melepaskan tembakan tiga angka yang meluncur mulus, tujuh banding nol!
Satu-satunya andalan Mavericks hanyalah Nowitzki, tembakan *fadeaway* andalannya yang stabil membantu tim memecah kebuntuan.
Tembakan *layup* terobosan Billups gagal, tetapi Yao Ming berhasil merebut *offensive rebound* dan memaksa Dampier melakukan pelanggaran, memasukkan kedua tembakan bebas.
Terry memasukkan satu tembakan tiga angka untuk membangkitkan moral tim, tetapi Rockets hanya butuh waktu lima detik untuk memberikan balasan. McGrady membalas dengan tembakan tiga angka dan juga masuk, dua belas banding lima.
Performa kedua tim bagaikan bumi dan langit, selisih dua digit langsung tercipta pada kuarter pertama. Namun Mavericks tidak menyerah begitu saja, mengandalkan penampilan stabil Nowitzki, mereka terus bertahan dan bertarung sengit dengan Rockets. Saat babak pertama berakhir, skor menunjukkan lima puluh sembilan banding empat puluh empat, Rockets memimpin lima belas poin.
Avery Johnson kembali tidak bisa menahan emosinya, ia berteriak marah di ruang ganti, "Pertama-tama mari kita bahas tembakan kalian, Jerry Stackhouse, apakah kamu tidak sarapan pagi ini? Atau apakah beberapa hari terakhir ini kamu kekurangan latihan menembak? Tujuh kali tembakan masuk dua, apa artinya itu? Josh, apalagi kamu, tujuh kali memasukkan satu dan melanjutkan tren buruk akhir-akhir ini. Jika bukan karena penampilan bertahanku yang masih lumayan, aku sudah sejak lama menarikmu keluar!"
Stackhouse dan Howard menundukkan kepala karena malu, sama sekali tidak berani menjawab.
"Jason Terry, apakah kamu meninggalkan paket kemampuan menembakmu di dalam gim? Babak pertama bahkan melakukan tiga kali turnover, bagaimana bisa kamu melakukan begitu banyak kesalahan mendasar!"
Terry membuka mulutnya seolah ingin menjelaskan, namun setelah dipikir-pikir ia kembali menutup mulutnya.
"Dirk dan Michael, di manakah jiwa kepemimpinan kalian sebagai dua pemain veteran? Bisakah kalian membantu tim melewati masa sulit ini?"
Finley menunduk tanpa berkata apa-apa, sementara Nowitzki menatap langsung ke arah sang pelatih dengan tatapan tenang sambil menganggukkan kepala.
"Erick Dampier, bisakah kamu tidak selalu dihancurkan sedemikian rupa oleh Yao? Bukankah kamu pernah bilang bahwa dirimu adalah center terbaik di Wilayah Barat? Apakah itu masih bisa diwujudkan?"
Dampier merasa kehilangan muka dan wajahnya terasa panas membara.
"Lalu pertahananmu, kerja kakimu, sikapmu, dan kamu!" Mulut Johnson tidak berhenti bergerak, ia telah masuk ke dalam kondisi kegilaan dan bersiap memarahi para pemain satu persatu hingga tuntas!
Sementara itu di ruang ganti tim tamu suasananya sangat kontras, para pemain bersemangat bagaikan api, masing-masing memiliki energi yang tak ada habisnya.
"Pertandingan ini harus dimenangkan, dan kita harus mengerahkan kemampuan terbaik kita, lebih baik menang dengan selisih skor yang besar," kata Billups setelah berpikir matang-matang, "Suns baru saja menyapu bersih lawan mereka, kita juga harus menang besar atas Mavericks. Dengan begitu kita bisa memiliki keunggulan psikologis sebelum saling berhadapan di babak kedua."
"Haha, aku sudah tidak sabar ingin berhadapan dengan Stoudemire," Yao Ming masih sangat memikirkan rekan satu angkatan tersebut, banyak media mengatakan bahwa Amar'e adalah rival seumur hidupnya, hal ini sedikit banyak telah memberikan sugesti psikologis tertentu padanya.
"Yao, berhati-hatilah. Kita bahkan belum memenangi pertandingan ini!" McGrady yang biasanya santai justru memberikan peringatan kepada Yao Ming yang biasanya lebih serius.
"Kamu benar, aku akan berhati-hati. Tapi tenang saja, performaku saat ini sedang berada di puncak!" Keyakinan Yao Ming beralasan, pada babak pertama ia telah mencetak lima belas poin dan enam rebound, membuat lini interior Mavericks kocar-kacir.
Pelatih Tomjanovich memandang para pemain ini dengan penuh kasih sayang, usianya telah menginjak 56 tahun dan kondisi fisiknya semakin memburuk, ini mungkin menjadi musim terakhirnya. Berjuang bersama anak-anak muda ini di ujung kariernya membuat dirinya merasa sangat beruntung.
Mungkin suasana ruang ganti saat jeda babak penutup telah menentukan hasil pertandingan. Sebagai pelatih kepala yang masih tergolong hijau, sang pelatih muda belum mengerti bahwa tidak ada kejuaraan yang bisa diraih hanya dengan makian.
Terry yang bermental baja berhasil disadarkan oleh makian tersebut, ia mulai berani melakukan *isolation* dan memasukkan beberapa tembakan loncat. Sang *gentleman* tua Nowitzki juga tersadar dari makian, ia mulai berani berduel fisik menembus ke dalam area cat sempit menghadapi Bosh. Namun, jauh lebih banyak pemain yang justru tertekan, ciut, dan semakin tidak berani bermain akibat dimaki.
Pada kuarter ini, sang *Jet* dan Raja Dirk berkolaborasi mencetak tujuh belas poin, sementara pemain Mavericks lainnya hanya mencetak tiga poin saja. Di sisi lain, Rockets tampil merata, pada kuarter ini ada tujuh pemain yang mencetak angka, dan seluruh tim berhasil mengumpulkan total tiga puluh tiga poin!
Sembilan puluh dua banding enam puluh empat, para pendukung Dallas sudah mulai berangsur-angsur meninggalkan arena. Selisih dua puluh delapan poin dalam satu kuarter, hampir tidak ada harapan lagi.
"Aman!" Saat itu Yuan Fei sudah dengan penuh semangat berpelukan merayakannya bersama Curry. Perlu diketahui bahwa rekor *comeback* terbesar di paruh kedua babak playoff sebelumnya hanya delapan belas poin saja, itu pun tercipta pada semifinal Wilayah Barat tahun 1994. Saat itu Rockets yang dipimpin oleh Hakeem Olajuwon memimpin delapam belas poin atas Suns di akhir kuarter ketiga, namun penampilan tangguh Charles Barkley membantu Suns menyamakan kedudukan dan meraih kemenangan di babak tambahan. Meskipun demikian, seri tersebut pada akhirnya tetap dimenangkan oleh Rockets dengan skor empat banding tiga.
Pada kuarter terakhir, Mavericks yang kebingungan kehilangan semangat juang, Johnson meminta *time-out* untuk menarik keluar para pemain inti sebagai tanda menyerah. Namun Nowitzki menolak usulan tersebut.
"Para pendukung tuan rumah datang untuk melihat kita menang, kegagalanku memenangi pertandingan sudah membuat mereka kecewa. Setidaknya biarkan aku bertahan sampai akhir pertandingan!" begitu jawabnya.
Nowitzki bersikeras bermain penuh di kuarter tersebut dan terus menerus melepaskan tembakan, seolah-olah Mavericks masih bisa membalikkan keadaan kapan saja.
"Biarkan aku juga turun beristirahat," Jefferson merasa tidak tega melihatnya lalu mengusulkan, "Kita sudah menang sebanyak ini, sudah bisa berhenti kan?"
"Aku menolak!" Yuan Fei maju dan berkata, "Nasib Mavericks sudah ditentukan kalah, namun Nowitzki tetap bertahan dalam pertandingan, mohon hormati dia! Cara terbaik untuk menghormati seorang pemain adalah dengan mengerahkan seluruh kemampuan kita untuk bertanding!"
"Kata-kata yang bagus!" "Begitu saja!" McGrady dan Yao Ming sama-sama menyatakan dukungan mereka kepada Yuan Fei.
Begitu melihat sang pemilik muda dan sang pemimpin tim sudah angkat bicara, Jefferson tentu saja menyatakan persetujuannya.
Skor akhir terkunci pada angka seratus enam belas banding tujuh puluh enam, Rockets menang besar atas tuan rumah dengan selisih empat puluh poin. Nowitzki yang terus bertahan hingga akhir mencetak dua puluh sembilan poin, semangat juangnya yang pantang menyerah memenangkan rasa hormat dari setiap pemain dan penonton. Usai pertandingan, para pemain Rockets maju satu persatu untuk menyapa dan memberikan penghormatan kepadanya. Sang Raja Jerman yang tadinya begitu tangguh akhirnya tidak kuasa menahan rasa kecewa di bawah pelukan hiburan McGrady dan meneteskan air mata di atas lapangan.
Dalam sejarah klub Mavericks, ada lima kali kekalahan dengan selisih lebih dari empat puluh poin, semuanya terjadi pada musim reguler abad yang lalu. Selisih empat puluh poin pada pertandingan ini menciptakan rekor kekalahan terbesar Mavericks di babak playoff, sekaligus menciptakan rekor kekalahan terbesar mereka di abad ini.
Rockets, melangkah ke semifinal Wilayah Barat!