Bab 12.2 Kekacauan di Pesta Dansa
Dia pun pernah mendambakan hari di mana seorang putri bertemu dengan pangerannya.
Kakek Mirajane dulunya adalah seorang pejabat tinggi di pemerintahan pada masa Alexander. Seharusnya ia tumbuh sebagai putri bangsawan yang hidup bergelimang harta dan dikelilingi pelayan. Namun, kakeknya mendukung Liga Penyelamat Negara (kaum Dekabris) dan secara terbuka menyatakan sumpah setia kepada Adipati Agung Konstantin.
Karena dekrit Kaisar Alexander I yang menetapkan Nicholas sebagai pewaris takhta adalah wasiat rahasia, para menteri tidak mengetahuinya. Saat itu, banyak menteri di Saint Petersburg bersumpah setia kepada Konstantin dan mendukungnya menjadi kaisar.
Namun, Konstantin sendiri telah menikahi seorang wanita Polandia sehingga ia tidak lagi berhak mewarisi takhta. Ia menolak naik takhta dan mengumumkan penyerahan kedudukannya kepada Nicholas. Nicholas, yang bercita-cita menjadi seorang jenderal, juga tidak bersedia menjadi kaisar dan justru berbalik bersumpah setia kepada Konstantin.
Di saat Konstantin dan Nicholas saling melempar tanggung jawab, sejumlah bangsawan dan perwira tinggi militer merencanakan kudeta. Kakek Mirajane adalah salah satu perencana paling awal, namun karena ia menentang penghapusan perbudakan dan hak istimewa kaum bangsawan, ia justru ditangkap sebagai pengkhianat.
Ketika Nicholas meraih kemenangan di depan Senat, banyak pejabat dan bangsawan yang tidak terlibat langsung dalam kudeta mendapatkan pengampunan. Namun, kakek Mirajane yang baru saja lolos dari tangan kaum Dekabris, justru dijatuhi hukuman pengasingan selama sepuluh tahun di Siberia oleh pengadilan Rusia.
Sejak saat itulah nasib keluarganya berubah. Karier ayahnya yang seharusnya cemerlang hancur. Setelah peristiwa itu, pihak istana tidak lagi memercayai para bangsawan yang pernah terlibat kudeta, sehingga ayahnya hanya bisa menjadi pegawai sipil rendahan seumur hidup.
Di sisi lain, kaum Dekabris menganggap kakek Mirajane sebagai pengkhianat dan bahkan mengirim orang ke Siberia untuk membunuhnya. Namun, sang pembunuh justru dianggap sebagai kaum revolusioner yang datang untuk membebaskan Grinievski (kakek Mirajane) oleh gubernur setempat, yang kemudian segera melaporkannya kepada Tsar.
Tsar murka, sehingga hukuman Grinievski di Siberia ditambah menjadi lima belas tahun (dari yang seharusnya sepuluh tahun). Semua ini terjadi sebelum Mirajane lahir, dan kini ayahnya hanyalah seorang pegawai sipil tingkat terendah.
Rumah mereka pun sudah lama tidak lagi berada di pusat kota Saint Petersburg, melainkan pindah ke pinggiran kota yang keamanan lingkungannya sangat buruk. Sejak kecil, ia telah berkali-kali menyaksikan perkelahian berdarah dan transaksi kotor di jalanan, di mana anak-anak hanya bisa bertahan hidup dengan mencuri atau memulung sampah.
Demi melarikan diri dari lingkungan itu dan mewujudkan harapan orang tuanya, ia berlatih balet sejak kecil. Pada usia tujuh tahun, ia akhirnya terpilih masuk ke Akademi Balet Kerajaan Saint Petersburg.
Ia sering berkhayal mengenakan gaun indah dan membungkuk di atas panggung dengan penuh haru, dikelilingi lautan manusia, tepuk tangan yang bergemuruh, bunga-bunga yang berjatuhan bak hujan, orang tuanya yang menangis bahagia, serta kakeknya yang bisa tersenyum padanya...
Namun, ia justru dipaksa menjadi orang lain dan diperlakukan layaknya barang dagangan untuk dipilih. Orang itu bahkan tidak pernah meliriknya sekali pun, dan kini ia harus menjilat para putri bangsawan di sekitarnya.
Semua itu dilakukan hanya agar ia bisa kembali ke Akademi Balet Kerajaan dengan tenang, karena ia telah menyamar sebagai putri seorang adipati. Di Rusia, menyamar sebagai bangsawan adalah kejahatan berat yang cukup untuk membuat ia dan keluarganya mendekam di Siberia seumur hidup.
Beberapa nona bangsawan yang iri dengan kecantikannya menjambak rambutnya, merobek pakaiannya, dan mengancam bahwa jika ia berani membocorkan rahasia itu, mereka akan mengirimnya beserta keluarganya ke Siberia.
Menghadapi kerasnya hidup, ia telah belajar untuk mengalah dan menahan diri, namun ia tetap optimis dan menantikan hari esok yang indah.
Ia bersandar di jendela, menatap bintang-bintang di langit malam yang begitu damai dan tenang. Apakah ada satu bintang yang menjadi miliknya? Pikirnya sembari tertawa kecil.
Namun, para nona bangsawan lain di ruangan itu tidak berpikir demikian. Mereka merasa si penipu itu sedang mengejek mereka, karena pesta dansa malam ini hanya dihadiri oleh para putri dan nona dari kalangan yang paling terhormat.
Di sisi lain, di alun-alun pusat Kota Nord-Savie yang baru dibangun.
Plak! Plak! Plak...
Cambuk menghantam punggung yang kokoh itu dengan keras, satu demi satu, seolah tak akan pernah berhenti.
Mata Karemi merah padam, ia mengatupkan giginya erat-erat. Kemeja putih yang dikenakannya telah hancur, kulit yang terkelupas dan darah yang mengalir membuat segalanya tampak mengerikan.
"Jangan berhenti! Pukul sampai seratus kali!" Darah bercampur air liur mengalir dari mulut Karemi.
Perwira yang melakukan eksekusi sudah bermandikan keringat. Meskipun ia telah menahan kekuatannya, seratus cambukan kemungkinan besar akan membunuh sang Adipati Agung itu.
Matahari musim gugur terasa begitu menyengat, membuat darah dengan cepat mengering menjadi kerak hitam.