Bab 34: Rasa Ingin Tahu yang Membawa Petaka
Bunga bermekaran di dua tempat, masing-masing memperlihatkan keindahan tersendiri.
Yeladonia mengikuti di belakang Luskena, akhirnya meninggalkan tempat yang telah menahannya selama berhari-hari. Setidaknya menurutnya itu adalah penjara bawah tanah, meskipun di dalamnya tersedia tempat tidur, perabotan, bahkan anggur merah dan alat untuk membuat kopi. Lorong-lorong di dalamnya juga saling terhubung ke berbagai arah.
Misalnya kali ini, tempat mereka keluar tampaknya adalah sebuah gudang. Jiwa petualang Yeladonia membara dengan semangat. Istana ini begitu luas, ia ingin menjelajahinya.
Saat melewati sebuah tikungan, Yeladonia memanfaatkan kelengahan Luskena dan menyelinap ke sebuah ruangan yang pintunya setengah terbuka.
Yeladonia menutup pintu itu pelan dan menghela napas lega. Jika ia bisa memilih lagi, ia sama sekali tak akan datang ke Wina. Padahal desas-desus mengatakan keluarga Habsburg tak terlalu cerdas. Kenapa justru satu demi satu begitu sulit dihadapi, bahkan ia tertangkap oleh seorang anak kecil.
Untung saja Adipati Franz tidak langsung menghabisinya atau menyerahkannya pada penjaga. Jika benar sampai diserahkan ke para penjaga, lebih baik ia dihabisi saja saat itu juga.
Metode interogasi di zaman ini memang lamban, tetapi sangat kejam.
Di belakangnya, aroma amis darah tercium tajam di hidung Yeladonia, membuat seluruh syarafnya menegang. Ia berbalik.
Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan celemek putih penuh noda darah di pinggangnya, sedang menggenggam pisau khusus untuk menguliti daging.
“Ah! Gadis cantik, apa yang mempertemukan kita di sini? Apakah ini takdir? Sungguh aku beruntung sekali.”
Palinka menggoyangkan rambutnya yang berminyak, mengambil sebatang brokoli dan menggigitnya miring, lalu mengusapkan kembali minyak di tangannya ke rambut. Matanya yang kecil berkedip, entah karena kemasukan kotoran atau sedang menggoda Yeladonia.
Rasa dingin menjalar dari tulang ekor hingga ke ubun-ubun Yeladonia, membuatnya merinding.
Apa sebenarnya pekerjaan pria ini? Apakah ini ruang interogasi? Celemek penuh darah, pisau tajam untuk memisahkan tulang, dan daging-daging yang tergantung di sekelilingnya. Jangan-jangan... Yeladonia bahkan tak sanggup melanjutkan pikirannya, perutnya bergejolak hebat.
Melihat wanita di hadapannya hanya terdiam, Palinka teringat jurus andalan yang diajarkan oleh Putra Mahkota.
Palinka melangkah cepat mendekat, menempelkan telapak tangannya ke pintu dengan keras, menghalangi jalan keluar Yeladonia. Ia memanjangkan lehernya, menatap Yeladonia dalam-dalam, seolah ingin menembus pikirannya, lalu menarik napas panjang dan memberanikan diri...
“Gadis cantik, maukah kau menemaniku malam ini?”
Namun Yeladonia yang ketakutan setengah mati bahkan tidak mendengar, apalagi berniat mendengarkan. Ia menendang selangkangan Palinka lalu segera kabur keluar.
“Luskena! Nona Luskena! Tolong aku!” Yeladonia berlari sambil berteriak, mengejar ke arah Luskena pergi tadi.
Ia membuka sebuah pintu, cahaya matahari terasa menyilaukan baginya. Udara segar, di sekelilingnya para pembantu perempuan sedang mencuci pakaian. Mereka semua menatap Yeladonia, seakan melihat makhluk aneh.
Saat ia masih kebingungan, pintu di belakangnya tertutup otomatis dan terkunci. Seorang wanita paruh baya bertubuh tinggi besar berjalan ke arahnya dengan wajah serius, tahi lalat besar di pipi membuatnya tampak lebih garang.
“Kamu ini anak baru ya, kenapa tak tahu aturan? Mau bermalas-malasan?” Wanita itu langsung memelintir telinga Yeladonia dan menyeretnya ke samping.
“Kamu di bawah pengawasan siapa? Berani-beraninya belum mengikat rambut, mau menggoda siapa? Jangan kira karena cantik bisa menguasai tempat ini, dasar rendahan!”
Yeladonia yang pernah belajar bela diri, langsung membalikkan keadaan, membuat wanita itu menjerit kesakitan.
Baru saja ia merasa berhasil membela diri, belum sempat senang, situasi berbalik.
“Tolong! Anak baru ini memberontak! Dia penyihir!” wanita paruh baya itu berteriak.
Yeladonia belum sempat bereaksi, sekelompok wanita paruh baya sudah menekannya di tepi sumur.
“Katakan, siapa yang mengawasimu?” Yeladonia mengenakan pakaian pelayan, tentu saja tak ada yang menganggapnya istimewa.
“Aku baru saja datang, Nona Luskena yang membawaku.”
“Luskena? Semua orang tahu vampir itu hanya muncul malam hari, masih berani berbohong? Biar kuajar kau bagaimana aturan di sini. Kalian, pegang dia erat-erat!”
“Baik, Nyonya Zunk!”
Yeladonia ditahan kuat, tiba-tiba pahanya terasa perih, ia hendak berteriak namun mulutnya sudah dibekap kain kumal dengan cekatan.
Paha, pinggul, punggung, ketiak—jarum-jarum baja menusuk keluar-masuk menembus kain dan kulitnya.
Tubuhnya meronta kesakitan, namun pikirannya tetap jernih. Ia sangat menyesal, kenapa harus kabur? Seandainya menurut saja pada Luskena, setidaknya masih bisa menikmati status tamu beberapa hari.
Sekarang, ia malah dianggap pelayan cuci, jadi sasaran kekerasan para wanita paruh baya ini.
“Ya Tuhan, sakit sekali. Untung dulu pernah latihan semacam ini. Tapi, apa yang kutunggu? Sial betul, bagaimana cara kabur dari sini?” pikir Yeladonia.
Tiba-tiba dunia terasa gelap, sosok cantik yang dikenalnya muncul di hadapannya. Wajah Luskena sedingin es, sementara Nyonya Zunk menghentikan tangannya.
“Vampir?” Seorang pelayan berceletuk.
Nyonya Zunk langsung menampar pelayan itu keras-keras.
“Berani-beraninya kau kurang ajar pada Nona Luskena!” Tatapannya galak, tetapi sebenarnya memberi isyarat agar segera minta maaf.
“Maaf, maaf, Nona Luskena, aku tidak sengaja. Aku benar-benar minta maaf.”
“Lepaskan dia.”
“Nona Luskena, dia melanggar aturan, kami sedang memberinya pelajaran.”
“Aku ulangi, aku ingin membawanya. Nyonya Sophie ingin menemuinya.”
Mendengar nama Nyonya Sophie, tangan Nyonya Zunk langsung gemetar sampai jarum bajanya jatuh ke tanah. Di istana ini, tak ada yang lebih menakutkan daripada membuat marah Nyonya Sophie. Bahkan pelayan Ratu Anna pun bisa saja lenyap tanpa jejak.
Semua pelayan segera melepaskan Yeladonia, ia baru saja berdiri ketika melihat Luskena memungut jarum baja di lantai.
Luskena menancapkan jarum itu ke bahu pelayan yang tadi memanggilnya vampir, menekannya dalam-dalam. Yeladonia mengerutkan kening, meski ia baru saja merasakan sakitnya, tak seberapa jika dibandingkan dengan tindakan Luskena yang sangat kejam, bahkan menancapkan seluruh jarum.
Pelayan itu langsung meringkuk dan menjerit, tapi tak ada satu pun yang berani menolongnya.
“Jika aku menemukan kejadian seperti ini lagi, jarum ini akan kutancapkan ke kepalamu.”
Di bawah tatapan cemas para pelayan, Luskena membawa Yeladonia pergi.
“Tak kusangka, kau bisa sekejam itu,” ujar Yeladonia, lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan karena melihat wajah Luskena yang tak senang.
“Kita mau ke mana sekarang?”
“Ke kamar Nyonya Sophie.”
“Hah? Bukankah kita sudah jauh dari situ? Tak perlu bicara begitu lagi, mereka pasti tak dengar.”
“Nyonya Sophie ingin menemuimu.”
“Serius?”
“Sungguh. Kalau kau kabur lagi, yang mencarimu bukan aku.”