Bab 141 Sungguh Kurang Ajar
Yin Niang menatap Kang'er yang sedang melahap makanannya dengan lahap, hatinya pun merasa jauh lebih tenang.
"Yin Niang, tidak disangka ramuan dari Nyonya Xia itu benar-benar sangat berkhasiat. Bukankah dikabarkan bahwa Wei Qi memiliki ilmu kedokteran nomor satu di dunia? Mengapa kemampuannya tidak tampak sehebat ini?"
"Tuan Muda kecil kita tampaknya sudah jauh membaik pencernaannya, kelihatannya akan segera pulih total."
Hong Ying di samping menyaksikan Tuan Muda kecilnya makan dengan begitu lahap, hatinya turut merasa gembira. Perlu diketahui bahwa Yin Niang telah merasa cemas selama sekian lama karena kondisi Kang'er. Kini setelah Kang'er menunjukkan tanda-tanda pemulihan, hati Yin Niang akhirnya bisa sedikit merasa lega.
Beberapa hari belakangan ini Yin Niang merawat Kang'er, membuat penampilannya tampak begitu kuyu, seolah-olah kecantikannya memudar dalam semalam.
Kang'er mengaduk-aduk mangkuknya, menatap mangkuk yang sudah kosong itu dengan wajah cemberut, lalu memajukan bibir kecilnya dan berkata dengan nada imut kekanak-kanakan,
"Ibu, kenapa makanannya sudah habis? Padahal aku masih lapar."
Mendengar ucapan Kang'er, Yin Niang merasa sedikit terkejut.
Nafsu makan Kang'er hari ini jauh membaik dan ia sudah menghabiskan dua mangkuk. Si anak pelahap ini kenapa masih saja menatap mangkuknya dengan tampang memelas.
Yin Niang tersenyum pasrah, lalu mengusap perut Kang'er yang membuncit bundar.
"Masih mau makan lagi? Nanti perutmu bisa sebesar buah semangka."
"Tapi bubur ubi buatan Kakak Hong Ying enak sekali, Kang'er masih ingin makan."
Kang'er menatap Yin Niang dengan penuh harap, menunjukkan ekspresi paling menyedihkan yang ia bisa.
Hong Ying mengambil mangkuk dari tangan Yin Niang, lalu berkata kepada Kang'er sambil tersenyum ramah,
"Tuan Muda kecil jangan makan lagi ya. Kalau makanan lain mungkin tidak apa-apa, tapi ubi ini membuat perut kembung, jadi jangan makan lagi."
Mendengar perkataan Hong Ying, Kang'er hanya bisa menghela napas panjang dan menjawab dengan suara lemas tanpa tenaga,
"Baiklah..."
"Yin Niang."
Pada saat itu, seorang pelayan menunduk masuk dari ambang pintu, lalu membungkuk hormat di hadapan Yin Niang dan berkata,
"Kawasan Paviliun Xiyue sudah mulai lagi."
Yin Niang terdiam sejenak, lalu saling bertukar pandang dengan Hong Ying di sampingnya.
Beberapa saat kemudian, Yin Niang baru tersenyum dan berkata kepada Kang'er,
"Waktunya sudah larut, Kang'er jalan-jalan sebentar untuk mencerna makanan lalu tidur ya? Demam tinggimu baru saja turun belum lama ini, jadi masih butuh banyak istirahat."
Kang'er menatap Yin Niang dengan kebingungan, memiringkan kepalanya dan bertanya,
"Kalau Kang'er tidur, Ibu mau pergi ke mana?"
Yin Niang tertegun sejenak sebelum menjawab,
"Belakangan ini Kakak Bailing juga sedang sakit, Ibu harus pergi menjenguknya. Bukankah Kang'er sangat menyukai Kakak Bailing? Kamu pasti tidak ingin Kakak Bailing terbaring sakit di tempat tidurnya selama itu seperti Kang'er, kan?"
Kang'er mendengarkan perkataan Yin Niang dengan sangat serius. Ia memiringkan kepalanya sambil berpikir sejenak, lalu mengangguk kecil.
"Apa yang dikatakan Ibu benar. Kalau begitu Kang'er akan menuruti kata-kata Ibu, tapi Ibu harus cepat kembali ya."
Yin Niang tersenyum tipis, lalu mengelus kepala Kang'er yang mirip kepala harimau kecil.
"Baiklah, Ibu pergi sebentar dan akan langsung kembali."
Selesai berkata demikian, Yin Niang melirik ke arah Hong Ying di sisinya.
"Kau tetaplah di sini untuk menjaga Tuan Muda kecil baik-baik, aku mau pergi menemui Jenderal terlebih dahulu."
Hong Ying mengerti dalam hati. Mendengar instruksi Yin Niang, ia tidak membantah dan hanya mengangguk pelan.
Yin Niang lantas bangkit berdiri dan melangkah keluar pintu, berjalan perlahan menuju ruang kerja Fu Lin.
Pada jam sekian, Fu Lin biasanya selalu berada di ruang kerja untuk membaca buku-buku strategi militer. Kehidupan Fu Lin selalu sangat disiplin, bahkan pada waktu selarut ini pun ia belum beristirahat.
Fu Sheng yang sedang berjaga di depan pintu kamar melihat Yin Niang datang, segera menyambutnya dengan senyuman lebar di wajah dan membungkuk hormat,
"Mengapa Yin Niang datang kemari sudah larut malam begini? Bagaimana keadaan Tuan Muda kecil?"
Yin Niang tersenyum anggun tanpa kehilangan kewibawaannya, lalu mengangguk.
"Sekarang sudah hampir pulih total, tidak ada masalah besar lagi."
Senyuman di wajah Fu Sheng semakin lebar.
"Kalau begitu itu benar-benar berkah dari Surga. Tuan Muda kecil adalah anak yang mulia, musibah semacam itu pasti bisa terhindarkan."
Yin Niang hanya tersenyum, lalu melirik ke arah belakang Fu Sheng dan bertanya,
"Apakah pantas menghadap Jenderal pada waktu selarut ini?"
"Pantas, sangat pantas."
Fu Sheng langsung menimpali dengan antusias.
"Jenderal sedang membaca buku di dalam, biar saya antarkan Yin Niang masuk."
Usai berkata demikian, Fu Sheng dengan hati-hati mendorong pintu ruang kerja Fu Lin. Yin Niang melirik sekilas dan benar saja melihat Fu Lin sedang fokus membaca buku strategi militer di tangannya.
Awalnya Fu Lin mengangkat lengan bajunya berniat mengambil kuas untuk menulis sesuatu, namun saat mendongak ia melihat Fu Sheng dengan senyum cerianya mengantar Yin Niang masuk.
Fu Lin memandangi Yin Niang sejenak. Mengingat wanita itu jarang sekali datang ke tempatnya, Fu Lin mau tidak mau merasa sedikit heran.
"Sudah larut malam begini, ada urusan apa datang ke sini?"
Mendengar pertanyaan itu, Yin Niang menatap Fu Sheng dengan ekspresi serba salah. Fu Sheng langsung menangkap maksudnya, mengangguk paham, dan dengan penuh hormat mundur keluar ruangan.
Melihat Fu Sheng sudah keluar, Yin Niang baru berkata kepada Fu Lin,
"Sebaiknya Jenderal pergi ke Paviliun Xiyue untuk menjenguk Nona Bailing."
Fu Lin mengangkat pandangannya, mengerutkan kening menatap Yin Niang, tidak mengerti apa maksud dari ucapannya itu.
Namun hanya sesaat saja, Fu Lin menarik kembali pandangannya. Ia kembali mengambil kuas di sampingnya, mencelupkannya ke dalam tinta, lalu bertanya tanpa mendongakkan kepalanya lagi,
"Ada apa? Apakah keonaran di dalam kediaman masih saja terjadi?"
Fu Lin hanya mendengar kabar tentang kehebohan hantu di Paviliun Xiyue, namun ia sendiri belum pernah pergi melihatnya secara langsung. Ia hanya mengikuti permintaan orang lain dengan mendatangkan seorang pertapa Buddha untuk mengadakan ritual bagi Bailing.
"Benar... Nona Bailing sangat ketakutan hingga sudah beberapa malam tidak bisa memejamkan mata."
"Bukankah sudah dicarikan pertapa untuk melakukan ritual di sana?"
Bagaimanapun cara Yin Niang berbicara, Fu Lin tampak bersikap acuh tak acuh dan seolah sama sekali tidak ingin ambil pusing dengan masalah ini.
"Memang benar begitu... namun Nona Bailing tampaknya mengatakan bahwa para pertapa itu tidak berguna... Sebanyak apa pun dupa yang dibakar dan doa yang dilantunkan pada siang hari, suasana di malam hari tetap saja sangat menyeramkan."
"Sekarang Nona Bailing tidak bisa makan dengan baik maupun tidur dengan nyenyak, tubuhnya menjadi sangat kurus kering."
"Oh? Ada hal seperti itu?"
Fu Lin mengangkat sebelah alisnya, lalu mendengus dingin dengan nada meremehkan.
"Mereka semua adalah biksu agung dari Kuil Daguo, bagaimana mungkin berani dikatakan tidak berguna? Seberapa jahatkah hantu itu hingga para biksu tinggi Kuil Daguo pun tidak mampu meredakannya?"
Yin Niang hanya menatap Fu Lin dan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun lagi. Tatapan matanya tampak menyimpan sesuatu yang tersembunyi, seolah-olah ia ingin mengatakan sesuatu namun ragu-ragu.
Karena Fu Lin tidak berkata apa-apa lagi, Yin Niang pun tidak berani bersuara. Ia hanya berdiri dengan tenang di samping, memperhatikan Fu Lin yang sedang menulis sesuatu dengan kuasnya.
Setelah menyelesaikan goresan terakhir pada sebuah karakter, Fu Lin meletakkan kuasnya dan menatap Yin Niang dengan pandangan penuh arti.
"Kudengar akhir-akhir ini kau terus merawat Bailing dengan telaten?"
"Benar..."
Yin Niang mengangguk.
Fu Lin tersenyum, namun senyuman itu sulit ditebak artinya.
"Sungguh luar biasa kau memiliki hubungan yang begitu mendalam dengannya."
"Hanya saja, Paviliun Xiyue sedang dilanda kehebohan hantu, semua orang memilih menjaga jarak dan berharap bisa menjauh sejauh-jauhnya dari sana. Kenapa kau, Yin Niang, justru tampak tidak takut sama sekali dan merawat Bailing di Paviliun Xiyue selama sekian waktu?"
Yin Niang menatap sorot mata Fu Lin yang berkilau tajam, ia seolah bisa membaca sesuatu dari balik pandangan itu. Sebagai wanita yang cerdik dan pandai, Yin Niang menutup mulutnya sambil tersenyum ringan, lalu berkata kepada Fu Lin,
"Jenderal sedang bergurau. Yin Niang sama sekali tidak melakukan apa pun. Ada pepatah yang mengatakan, 'hati yang lurus tidak takut bayangan miring'. Selama aku tidak berbuat kesalahan yang merugikan orang lain, untuk apa aku harus takut pada hal-hal gaib dan mistis seperti itu?"
Fu Lin melirik Yin Niang sekilas, tentu saja ia bisa menangkap makna tersirat di balik perkataan wanita itu.
"Apa yang ingin kaukatakan kepadaku?"
Yin Niang justru tersenym dan berkata,
"Perkataan Yin Niang tidak bisa dijadikan patokan, lebih baik Jenderal pergi menyaksikannya sendiri dengan mata kepala sendiri."
Melihat sikap Yin Niang yang begitu penuh teka-teki, Fu Lin akhirnya mulai menangkap maksud sebenarnya.
Ia pun bangkit berdiri dari kursinya, lalu memanggil Fu Sheng yang masih berjaga di luar pintu,
"Fu Sheng, ganti pakaianku, kita ke Paviliun Xiyue."
Fu Sheng membuka tirai pintu dengan ekspresi tidak percaya,
"Untuk apa Jenderal pergi ke Paviliun Xiyue selarut ini?"
Fu Lin melirik Fu Sheng dengan dingin, bibirnya yang tipis terangkat melontarkan pertanyaan bernada teguran,
"Ada apa? Apakah aku harus meminta izinmu dulu jika ingin pergi ke suatu tempat?"
"Hamba tidak berani."
Fu Sheng merasa sangat ketakutan akibat lirikan Fu Lin itu dan sadar betul bahwa dirinya memang telah bersikap lancang dalam urusan ini.
Ia hanya merasa heran di dalam hati, tanpa sadar mengucapkannya begitu saja tanpa berpikir panjang.
Di hadapan Yin Niang dan Fu Lin, Fu Sheng menampar wajahnya sendiri dengan keras tanpa ragu,
"Hamba telah lancang berbicara."
Melihat tindakan Fu Sheng, Fu Lin tidak berkomentar apa-apa. Sesaat kemudian ia berkata dengan suara dingin,
"Jika sudah tahu salah, kenapa masih belum bergerak?"
"Baik, baik, hamba segera bersiap sekarang."
Sembari tergopoh-gopoh, Fu Sheng bergegas mengambil pakaian ganti untuk Fu Lin.
Usai berganti pakaian, Fu Lin berjalan di belakang Fu Sheng ditemani oleh Yin Niang, perlahan-lahan melangkah menuju Paviliun Xiyue.
Setibanya mereka di depan pintu, tampak Cui Juan sedang berdiri dengan bingung. Begitu melihat kedatangan Fu Lin, Cui Juan seperti melihat sebatang jerami penyelamat hidup, ia langsung melangkah maju dan berlutut di hadapan Fu Lin.
"Hamba menghadap Jenderal, semoga Jenderal senantiasa sehat."
"Jenderal akhirnya datang juga. Nona kami sudah beberapa hari tidak mau makan, minum, maupun tidur. Jika terus dibiarkan begini, Nona pasti tidak akan sanggup bertahan."
"Hm, aku datang hanya untuk melihat keadaan."
Fu Lin berkata dengan suara rendah, nadanya tidak menunjukkan kepedulian yang mendalam.
"Di mana Nona kalian sekarang?"
Begitu Fu Lin bertanya, Cui Juan menunjukkan ekspresi serba salah. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, menunjuk ke dalam ruangan sambil terbata-bata,
"Di... di dalam sana... Beberapa hari ini Nona mengurung diri dan menolak menemui siapa pun. Setiap kali melihat orang, beliau langsung histeris ketakutan."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Fu Lin langsung mendorong pintu hingga terbuka.
Belum sempat kaki Fu Lin melangkah melewati ambang pintu, sebuah perupaan dupa melesat kencang terbang ke arahnya, sontak membuat Yin Niang yang berada di samping memucat pasi karena terkejut. Bersamaan dengan itu terdengar suara teriakan murka dari dalam yang dilontarkan oleh Bailing,
"Jangan mendekat! Aku tidak takut padamu! Kau sudah mati! Kau tidak bisa berbuat apa-apa padaku!"
Dengan gerakan yang tangkas, Fu Lin mengulurkan tangan dan berhasil menangkap perupaan dupa tersebut. Ia mengamatinya sejenak, lalu wajahnya berubah menjadi sangat dingin dan suram.
"Sungguh kurang ajar!"