Bab 39: Hubungan Mendalam antara Tuan dan Pelayan
Xia Chu Tao berusaha menahan kesedihan di hatinya, lalu bertanya,
“Di mana Cui Yan sekarang?”
“Nyonya muda…” Qiao Yun tampak ragu, menatap Xia Chu Tao dan perlahan berkata,
“Sekarang Cui Yan ada di sebuah rumah kosong di Taman Timur, Nyonya muda, kalau ingin melihatnya, sebaiknya jangan. Itu pertanda buruk.”
“Cui Yan pelayanku sendiri, apa yang tidak baik dari itu?”
Xia Chu Tao menegur dengan tegas, merasa ucapan Qiao Yun terlalu dingin hati.
Ia merasa sangat menyesal dan sedih, Cui Yan yang usianya baru sekitar enam belas tahun sudah harus pergi seperti ini. Semua hal tentang kejadian ini penuh misteri, kematian Cui Yan apakah benar kecelakaan atau ada yang sengaja, masih sulit untuk dipastikan. Xia Chu Tao merasa dirinya harus melihat langsung.
“Ya ampun, bagian dari permainan ini terlalu nyata, ya?”
“Ini benar-benar ada yang mati? Xiao Tao, kau mau lihat?”
“Aduh, aku agak takut untuk lanjut menonton.”
Komentar para penonton pun bertaburan, meski mereka tahu dalam intrik rumah tangga seperti ini pasti ada hal-hal semacam itu, tapi baru kali ini mereka melihatnya begitu dekat.
Hati Xia Chu Tao juga diliputi kecemasan, tapi ia merasa ia harus menyaksikan kondisi Cui Yan.
“Tapi…”
Qiao Yun tampak bimbang, dan saat hendak bicara lagi, Xia Chu Tao langsung memotongnya.
“Kalau kau fikir itu pertanda buruk, kau tak usah ikut. Tunggu saja aku di sini.”
Setelah berkata demikian, Xia Chu Tao segera melangkah keluar, meninggalkan Qiao Yun berdiri terpaku di kamar. Qiao Yun pun berpikir sejenak, akhirnya tetap mengikuti Xia Chu Tao dari belakang.
Xia Chu Tao berlari kecil menuju Taman Timur. Tempat itu benar-benar penuh dengan nuansa suram dan rumah-rumah tua. Sulit baginya membayangkan Cui Yan harus meninggal di tempat seperti ini, sungguh menyedihkan.
Di depan pintu rumah tempat mayat Cui Yan disemayamkan, beberapa pelayan berkumpul, ramai membicarakan sesuatu.
Ketika melihat Xia Chu Tao datang, para pelayan itu serempak berlutut,
“Salam hormat, Nyonya Muda Xia. Semoga Nyonya muda sehat.”
Tapi Xia Chu Tao tidak mempedulikan mereka, langsung ingin masuk, namun tak disangka ia dihalangi oleh seorang pengurus tua.
Pengurus tua itu menatapnya dengan dingin, suaranya tajam dan sedikit mengolok,
“Tempat seram begini, sebaiknya Nyonya muda jangan masuk. Tak takut sial?”
“Ini pelayanku sendiri, tidak apa-apa. Aku tidak takut.”
Xia Chu Tao hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tak peduli dengan hal lain.
“Lho, Nyonya muda bicara begitu tidak tepat. Meski Nyonya muda tidak takut sial, tapi Anda adalah orang dekat Jenderal. Setiap hari bersama Jenderal, kalau pun tidak memikirkan diri sendiri, setidaknya pikirkanlah Jenderal.”
Pengurus itu tetap saja tak mau menyingkir, berdiri tegak menghalangi pintu, sampai Xia Chu Tao pun tak bisa melihat ke dalam.
“Minggir!”
Xia Chu Tao tahu bicara dengan pengurus tua itu hanya buang-buang waktu. Ia langsung mendorong pengurus itu dan menerobos masuk.
“Nyonya muda Xia!”
Pengurus tua itu berteriak-teriak di belakangnya, namun tidak bisa berbuat banyak kecuali mengikuti dari belakang, takut Xia Chu Tao melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
Xia Chu Tao masuk ke dalam, melihat selembar papan kayu sederhana, ditutupi kain putih seadanya, dan Cui Yan terbaring kaku di atasnya.
“Benarkah Cui Yan jatuh sampai mati?”
Xia Chu Tao masih sulit menerima kenyataan seseorang yang hidup mendadak pergi begitu saja, tanyanya dengan suara dingin.
“Wah, kalau bukan jatuh lalu apa? Masa ada yang membunuhnya?”
Pengurus tua itu menjawab dengan nada kesal, sama sekali tak memperlihatkan belas kasih atas kematian Cui Yan.
“Di keluarga besar seperti ini, tiap tahun ada saja pelayan yang mati karena berbagai sebab, masa semuanya ada yang sengaja membunuh?”
Xia Chu Tao tak peduli pada ucapan pengurus itu, ia malah mengangkat kain putih yang menutupi tubuh Cui Yan. Tindakan berani itu membuat para pelayan dan pengurus yang ada di belakang mundur beberapa langkah.
Pengurus tua itu malah makin ketakutan, langsung berseru,
“Nyonya muda, Anda sudah gila!”
Xia Chu Tao tak mau mempedulikan semua itu. Walau dalam hati ia juga takut, namun ia lebih ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Akhir-akhir ini terlalu banyak masalah yang menimpanya, ia khawatir kematian Cui Yan juga ada kaitannya dengan dirinya.
Karena itu, ia berusaha keras menatap wajah Cui Yan yang hancur akibat jatuh, lalu perlahan-lahan memeriksa tangannya.
“Gila, benar-benar gila! Nyonya muda sudah tidak waras!”
Pengurus tua itu tak pernah melihat perlakuan seperti ini, ia mundur terus ke luar ruangan, tak berani satu ruangan dengan Xia Chu Tao.
“Benar-benar gila! Cepat panggil Nyonya Besar! Cepat!”
“Ya…” Para pelayan memang sangat ketakutan, mereka pun segera pergi satu persatu, menyisakan pengurus tua dan Qiao Yun yang baru datang.
Namun Xia Chu Tao tak peduli. Ia ingin menemukan sedikit petunjuk, meski hanya secuil.
“Kalau takut, tutup saja pintunya. Ribut sekali.”
Xia Chu Tao merasa pengurus tua itu terlalu berisik, membuatnya sulit berkonsentrasi, ia pun melirik tajam sebagai peringatan.
Melihat tatapan Xia Chu Tao, pengurus tua itu langsung menutup mulut, menunggu dengan diam di depan pintu menanti kedatangan Nyonya Besar.
Setelah ruangan sunyi, Xia Chu Tao mulai mencari petunjuk. Ia memperhatikan tangan Cui Yan yang kotor, penuh noda, bahkan ada bercak darah.
Ia mengangkat tangan Cui Yan, dingin tanpa tanda-tanda kehidupan.
Saat itu, Xia Chu Tao memperhatikan kuku Cui Yan patah-patah, dan di sela-selanya penuh dengan darah.
Dulu Xia Chu Tao sering membaca buku tentang kasus kejahatan, ia paham ini adalah tanda seseorang telah berjuang keras sebelum mati, dan darah itu kemungkinan milik pelakunya.
Hatinya berdesir: mungkinkah Cui Yan sebenarnya bukan jatuh sendiri… tapi ada yang sengaja mendorongnya dari jembatan?
Sambil berpikir, Xia Chu Tao hendak memeriksa tangan Cui Yan yang lain, tapi tangan satunya menggenggam erat sesuatu, susah sekali dibuka.
Setelah berusaha keras, akhirnya ia berhasil membuka sedikit dan mendapati di dalamnya ada liontin giok. Dengan susah payah ia mengambil liontin itu dan menatapnya lekat-lekat.
Jawabannya pun jelas di hati Xia Chu Tao: kematian Cui Yan bukanlah kecelakaan, melainkan karena didorong orang lain…
Menatap liontin di tangannya, Xia Chu Tao yakin inilah milik pelakunya.
“Nyonya Besar.”
Saat Xia Chu Tao sedang berpikir, ia mendengar pengurus tua dengan hormat menyapa seseorang. Xia Chu Tao buru-buru menyimpan liontin itu dan berbalik, melihat Nyonya Besar yang didampingi Sui Yu muncul di pintu.
“Salam hormat, Nyonya Besar. Semoga Nyonya Besar sehat.”
Xia Chu Tao menundukkan kepala dengan hormat.
“Apa yang kau lakukan di sini? Tak takut nasib buruk menular ke Jenderal?” Nyonya Besar melirik Cui Yan, lalu Xia Chu Tao, nadanya penuh rasa muak.
“Seorang selir Jenderal, berlutut di samping pelayan mati dan menangis, sungguh memalukan!”
“Nyonya Besar, Cui Yan adalah pelayan yang paling setia padaku. Aku hanya ingin mengantarnya pergi.”
Suara Xia Chu Tao tetap tenang, tanpa emosi berlebihan.
“Hanya kematian seorang pelayan saja sudah membuat keributan seperti ini.” Sui Yu mencibir dari samping, “Kalau aku, takkan datang, soalnya benda semacam ini tidak bersih.”
“Haha, kalau memang kalian begitu dekat,” Nyonya Besar tersenyum tipis,
“Sui Yu, ambilkan kitab suci Buddha dan suruh Nyonya Muda Xia menyalin tiga ratus kali sebelum mengubur Cui Yan, anggap saja berbuat baik.”
Perintah Nyonya Besar itu membuat Sui Yu dan Xia Chu Tao sama-sama tertegun.
Xia Chu Tao menatap Nyonya Besar, tak menyangka perempuan tua itu begitu kejam.
Namun Sui Yu segera paham, matanya melirik sinis ke arah Xia Chu Tao,
“Baik, akan segera kuambil.”
Tak lama kemudian, Sui Yu membawa tumpukan kitab suci Buddha dan menaruhnya di depan Xia Chu Tao tanpa banyak bicara.
“Nyonya Besar, ini tidak adil.”
Xia Chu Tao menatap kitab-kitab itu, tiga ratus kali kapan akan selesai…
“Apa yang tak adil? Bukankah kalian dekat?” Sui Yu menyambung ucapan Nyonya Besar sambil menutup mulut dan tertawa,
“Nyonya Besar memberimu kesempatan, orang bilang menyalin kitab dengan tulus akan membawa hasil baik, mungkin pelayan kesayanganmu bisa segera lepas dari penderitaan.”
Xia Chu Tao menggigit bibir, memilih diam. Ia merasa sangat lelah, seolah tak punya tenaga lagi untuk berdebat dengan dua orang di depannya.
Kini, hatinya penuh dengan kesedihan yang tak terbendung.
“Baik…” jawab Xia Chu Tao lemah.
Melihat Xia Chu Tao untuk pertama kalinya tampak kalah dan tak berdaya, Sui Yu semakin puas dengan senyumnya.
“Nyonya Besar, Nyonya Muda Fang, Qiao Yun ingin menemani Nyonya Muda menyalin kitab suci.” Saat itu Qiao Yun masuk dan secara sukarela berlutut di samping Xia Chu Tao.
“Cui Yan sudah lama bekerja bersamaku, kami seperti saudari, dan Nyonya Muda sangat baik padaku. Aku rela membantu menyalin kitab demi arwah Cui Yan.”
Xia Chu Tao tertegun menatap Qiao Yun yang biasanya pendiam dan tak banyak bicara, tak percaya kali ini dia berani membelanya.
“Qiao Yun…”
“Ternyata memang kalian dekat,” Nyonya Besar tak menahan lagi,
“Salinlah di sini, sebelum selesai tak boleh ada yang pulang.”
“Pengurus, kau berjaga di sini.”
Setelah berkata demikian, Sui Yu pun menggandeng Nyonya Besar pergi.