Bab 123: Putri Chang-le
Beizhao.
Gerbang istana terbuka lebar menyambut para duta dan bangsawan dari berbagai penjuru negeri yang datang untuk memberi penghormatan. Kemegahan istana Beizhao, jika dibandingkan dengan Dawan, terasa jauh lebih agung dan luas, layaknya gurun pasir yang menjadi ciri khas negeri ini.
Diiringi suara nyaring para kasim, gerbang-gerbang istana terbuka satu demi satu, bergema di seluruh kompleks istana kuno Beizhao. Aula utama tempat bertahta sang penguasa, Istana Bichen, diselimuti kabut tipis yang membuatnya tampak seperti negeri khayangan. Hanya dengan berdiri di luarnya saja, seseorang sudah bisa merasakan aura kewibawaan yang membuat siapa pun merasa segan.
Di dalam aula, aroma anggur yang harum semerbak, meja-meja giok hijau tertata rapi, cawan emas dan piring zamrud tersaji mewah. Makanan tampak seperti lukisan, anggur mengalir bak mata air, alunan kecapi guqin terdengar syahdu, denting lonceng berpadu dengan kepulan dupa, sementara para penari meliuk-liuk dengan anggun, seolah-olah suasana di sana bukanlah milik dunia manusia.
Di atas takhta emas, sesosok tubuh jelita berbalut pakaian merah terbaring malas. Ia adalah seorang wanita dengan kecantikan yang luar biasa. Ia mengenakan gaun merah tua yang menjuntai hingga ke lantai, dihiasi sulaman motif rubah sakti yang menyapu langit. Pinggangnya yang ramping diikat dengan sabuk awan berwarna kuning cerah, mempertegas lekuk tubuhnya yang indah.
Kepalanya dihiasi mahkota burung phoenix dari giok hijau, dengan juntaian manik-manik yang berdenting lembut saat tertiup angin, menyempurnakan wajahnya yang secantik bunga teratai. Sepasang mata phoenix-nya memancarkan pesona alami namun penuh wibawa. Rambut hitamnya tergerai di sandaran takhta emas, memancarkan aura kemegahan dan keanggunan. Ia adalah penguasa Beizhao, Sang Permaisuri—Liu Xuanying.
"Yang Mulia, Pangeran Keempat telah kembali."
Seorang kasim yang memegang kemoceng berbisik lembut di telinga sang Permaisuri.
Mata phoenix Liu Xuanying yang semula terpejam perlahan terbuka. Ia menatap kuku tangannya yang dicat merah menyala dengan malas, lalu menyunggingkan senyum sinis di bibirnya sebelum berkata dengan santai, "Sudah begitu lama kau di Dawan, aku pikir kau telah terpikat oleh kecantikan wanita Dawan hingga tak bisa pulang."
Liu Hezhi yang berada di bawah aula segera memberi hormat dengan khidmat sebelum menjawab, "Yang Mulia terlalu memuji. Seberapa pun mempesonanya wanita Dawan, mereka tidak ada bandingannya dengan seujung kuku Yang Mulia."
Liu Xuanying terkekeh dingin. Ia perlahan bangkit dari takhta emas, alisnya yang tipis sedikit mengernyit, lalu melambaikan tangan kepada para penari di tengah aula, memberi isyarat agar mereka mundur. Seketika itu juga, tarian berhenti, alunan musik pun lenyap, dan aula besar itu menjadi sunyi senyap.
Pandangan dingin Liu Xuanying menyapu sosok di belakang Liu Hezhi. Matanya berbinar saat melihat seseorang di sana, dan dengan nada penuh selidik, ia berkata, "Bukankah ini Putri Youlian? Sepuluh tahun meninggalkan Beizhao, akhirnya kau kembali."
Youlian tidak menjawab. Ia hanya mengatupkan bibirnya rapat, wajahnya tampak lebih dingin dari sebelumnya. Meski begitu, demi etika, ia tetap memberi hormat dengan sopan kepada sosok di atas takhta.
"Yang Mulia, sudah lama tidak bertemu. Anda tampak sehat."
"Heh."
Liu Xuanying tertawa sinis. Sudah sekian lama, namun nada bicara Youlian yang tidak sopan itu ternyata tidak berubah sedikit pun. "Tampaknya di dalam hatimu, kau masih sangat berharap agar aku segera mati..."
Mendengar itu, Youlian justru semakin menunjukkan sikap hormatnya dan berkata pelan, "Saya tidak berani setuju dengan perkataan Yang Mulia. Saya merasa cemas."
"Tidak perlu berpura-pura. Apa yang kau pikirkan di dalam hatimu, aku mengetahuinya dengan sangat jelas." Liu Xuanying mengalihkan pandangannya dari Liu Hezhi, lalu kembali berbaring di takhta emas dengan sikap yang sangat santai.
"Karena kau sudah meninggalkan Beizhao begitu lama dan menetap di ibu kota Dawan, aku bisa saja menuduhmu berkhianat. Namun kau berani kembali ke Beizhao, apakah kau tidak takut aku akan menghukummu?"
Menanggapi hal itu, wajah Youlian tidak berubah sedikit pun. Ia menjawab dengan tenang, "Kesetiaan saya pada Beizhao dapat dibuktikan oleh langit dan bumi. Namun, jika Yang Mulia bersikeras ingin menghukum saya, saya tidak memiliki pembelaan diri."
"Heh, kesetiaan?" Liu Xuanying menatapnya dengan pandangan penuh penghinaan. "Aku rasa kau telah meninggalkan seluruh kesetiaanmu pada jenderal besar Dawan yang bernama Fu Lin itu."
Pandangan Youlian tak sadar meredup, dan semua itu tertangkap jelas oleh mata Liu Xuanying.
"Saya sadar diri bahwa saya adalah orang yang bersalah. Kepulangan saya ke Beizhao kali ini adalah untuk mengabdi kembali pada negara."
Ucapan Youlian terdengar sangat meyakinkan, namun Liu Xuanying bukanlah orang yang mudah percaya. Setelah mendengar hal itu, Liu Xuanying perlahan berkata, "Baiklah. Jika kau bilang kesetiaanmu bisa dibuktikan oleh langit dan bumi, maka buktikan padaku. Setelah sekian lama, menurutmu apa yang bisa kau lakukan?"
Saat ditanya demikian, Youlian merasa memiliki peluang. Ia mengangkat kepalanya, menatap Liu Xuanying dengan tatapan tajam, lalu berucap kata demi kata, "Saya telah menemukan Putri Yang Mulia yang hilang bertahun-tahun yang lalu."
Begitu kalimat itu terucap, bukan hanya ekspresi Liu Xuanying yang berubah, Liu Hezhi di sampingnya pun terkejut bukan main. Ia menatap Youlian dengan tidak percaya. Sepanjang perjalanan pulang dari negeri yang jauh, Youlian tidak pernah menyinggung hal ini sedikit pun.
"Youlian, kau..." Liu Hezhi tidak tahu apa tujuan Youlian. Ia merasa wanita itu memiliki rencana sendiri, namun ia tidak bisa menebak apa yang sedang direncanakan. Liu Hezhi menyipitkan mata, mengamati Youlian, namun Youlian tetap menatap tajam ke arah Liu Xuanying, mengabaikan keberadaan Liu Hezhi sepenuhnya.
Liu Xuanying bangkit dari takhta emasnya, menatap Youlian dengan tatapan dingin dan penuh wibawa. "Putri yang mana?"
Liu Xuanying tampak sangat sensitif terhadap topik ini. Nada bicaranya sedingin es, bahkan Youlian bisa melihat kemarahan yang meluap di matanya. Youlian tersenyum tipis di dalam hati; ternyata ini adalah titik lemah Liu Xuanying. Hanya dengan menyebut hal ini, wajahnya langsung berubah.
Youlian merasa puas karena berhasil memegang kelemahan sang Permaisuri. Hal ini tidak hanya menjadi pelindung baginya, tetapi juga bisa digunakan untuk meraih posisi di depan Liu Xuanying. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
"Tentu saja anak yang lahir sebelum Yang Mulia naik takhta."
Begitu kalimat itu terlontar, Liu Hezhi tidak bisa lagi menahan diri. "Youlian! Lancang sekali kau!"
Semua orang tahu bahwa anak itu adalah topik terlarang bagi Liu Xuanying. Orang-orang di istana tidak berani membahasnya, namun Youlian berani mengungkitnya tepat di depan wajah sang Permaisuri. Ia benar-benar telah kehilangan akal sehatnya. Liu Hezhi tidak takut pada siapa pun, namun ia selalu memiliki rasa hormat pada Liu Xuanying. Ia tidak menyangka Youlian akan memprovokasi sang Permaisuri secara terang-terangan.
"Omong kosong."
Liu Xuanying menyipitkan matanya, lalu mengibaskan lengan bajunya dengan marah. "Anak itu sudah lama meninggal dunia! Di mana kau bisa menemukannya? Ini sungguh lelucon."
"Yang Mulia, Anda lebih tahu dari siapa pun bahwa makam Putri Chang Le hanyalah makam kosong tanpa jenazah. Keberadaan sang putri hingga hari ini tidak pernah ada kepastian. Bagaimana mungkin Yang Mulia bisa bersikeras bahwa sang putri telah tiada?"
Sudut bibir Youlian terangkat membentuk senyuman sinis. Ia mengagumi pengendalian diri Liu Xuanying yang belum meledak. Ia berpikir, tampaknya dalam sepuluh tahun ini, watak Liu Xuanying telah ditempa menjadi jauh lebih tenang.
"Kau, bagus sekali." Liu Xuanying tampak terpojok oleh kata-kata Youlian. Ia kembali duduk di takhta emasnya dan berkata dengan nada dingin, "Kalau begitu, katakan padaku, apa buktimu bahwa sang putri masih hidup?"
"Saat saya berada di Dawan, saya pernah mengobati seorang wanita. Di bahunya terdapat tanda teratai emas. Saya rasa Yang Mulia tidak asing dengan tanda itu, bukan?"
Begitu Youlian mengucapkannya, wajah Liu Xuanying berubah total. Ia menatap Youlian dengan tatapan tidak percaya. "Tidak mungkin... Mungkinkah Chang Le-ku benar-benar masih hidup?"
"Apa yang kau maksud adalah..." Liu Hezhi yang baru tersadar dari keterkejutannya menatap Youlian dengan semakin tidak percaya.
Youlian menatap Liu Hezhi dengan senyum penuh arti tanpa menjawab. Ia justru mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya kepada kasim untuk diberikan kepada Liu Xuanying.
"Jika Yang Mulia tidak percaya, ini adalah surat tulisan tangan dari Ibu Gongsun yang dulu melayani di sisi Anda."
"Ibu Gongsun..." Liu Xuanying menyipitkan mata. Ia tentu ingat wanita tua yang telah lama mengabdi padanya itu. Sejak ia masih kecil hingga naik takhta, wanita itu selalu ada di sisinya sebelum akhirnya pensiun.
Menerima surat dari seseorang yang sudah lama tidak ditemuinya, hati Liu Xuanying bergetar hebat. Ia menerima surat itu dan membukanya dengan perasaan bimbang. Begitu melihat tulisan tangannya, ia langsung mengenali bahwa itu memang tulisan tangan Ibu Gongsun.
"Beberapa hari lalu, Ibu Gongsun kebetulan bertemu dengan wanita itu. Tanda teratai emas di balik bahunya adalah hasil karya tangan Ibu Gongsun sendiri."
"Sebagai ahli tato terbaik di Beizhao, setiap tato yang ia buat bersifat unik. Tanda teratai emas itu persis sama dengan tanda yang ada di bahu Putri Chang Le saat itu. Ibu Gongsun tentu saja bisa mengenalinya."
"Siapa nama wanita itu? Di mana dia sekarang?"
Tangan Liu Xuanying yang memegang surat itu gemetar. Sang Permaisuri yang dikenal kejam itu kini menunjukkan sisi lembut yang jarang terlihat saat berurusan dengan darah dagingnya sendiri.
"Wanita itu bernama Xia Chutao, dan sekarang dia berada di kediaman Jenderal Besar Dawan."