Bab Seratus Lima Puluh Enam: Yang Kuat Dihormati (Pertama)
Qin Hao menyambutnya. “Begitulah,” katanya.
Mendengar itu, wajah Nie Wushuang dan yang lainnya tampak muram. Semula mereka bergegas maju dengan penuh percaya diri, berharap menjadi orang pertama yang mendapatkan biji Teratai Abadi. Namun, mereka tak menyangka boneka penjaga di dalam akan menghalangi mereka, sampai-sampai mereka semua terpaksa kabur dengan kondisi mengenaskan.
Kalau saja boneka-boneka penjaga itu tidak berniat membunuh mereka, mungkin mereka tak akan bisa kembali.
“Apa yang terjadi di dalam?” tanya Xiang Shang dengan penasaran.
Ia memang belum pernah bertarung melawan Nie Wushuang dan yang lainnya, tetapi ia tahu bahwa kemampuan mereka sama sekali tidak lemah. Jika mereka saja terhalang, jelas kekuatan boneka penjaga di aula itu jauh melampaui perkiraannya.
“Jumlahnya ada sepuluh. Kalau hanya satu orang yang masuk, hanya satu boneka yang akan diaktifkan. Orang itu harus mengalahkan boneka penjaga tersebut sebelum diizinkan mengambil biji Teratai Abadi dari Teratai Penciptaan. Kalau dua orang masuk bersama, dua boneka penjaga akan aktif...” Qin Hao berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Tadi semua orang belum tahu situasinya dan masuk bersama-sama. Akibatnya, delapan boneka penjaga aktif sekaligus. Kekuatan mereka saat bertarung bersama terlalu mengerikan. Kami bukan tandingan mereka, jadi kami diusir keluar.”
Saat menceritakan hal itu, bahkan Qin Hao yang biasanya selalu tenang pun tampak masih diliputi rasa gentar.
“Lalu, apa kalian sudah mencoba menantang mereka seorang diri?”
Xiang Shang tak kuasa menahan diri untuk bertanya.
“Mana mungkin belum? Sayangnya, bahkan Nie Wushuang yang paling kuat di antara kami hanya mampu bertahan selama seperempat jam sebelum dipukul mundur,” sahut Qian Xiaoming.
Saat melihat Xiang Shang menoleh ke arahnya, wajah Nie Wushuang memerah. Dengan canggung, ia memalingkan muka.
Pada saat itu, Xiang Shang pun tiba di depan pintu aula. Dari ambang pintu, ia melihat dengan jelas sebuah kolam selebar satu zhang di bagian dalam aula. Kabut spiritual mengepul tipis dari permukaannya.
Inilah Kolam Penciptaan yang dimaksud oleh instruktur mereka, Jiang Donglai.
Di tengah kolam tumbuh sebuah teratai yang putih sekujur tubuhnya, anggun dan suci. Di atasnya terdapat satu bonggol yang dipenuhi biji teratai. Kini biji-biji itu telah matang, memancarkan aura spiritual yang membuat siapa pun tahu bahwa itu adalah harta langka dari alam.
“Jadi, ini Teratai Abadi Penciptaan.” Mata Xiang Shang berkilat. Dengan susah payah, ia mengalihkan pandangan ke bagian lain aula.
Tak lama kemudian, ia melihat lima boneka setinggi satu zhang berdiri di masing-masing sisi Kolam Penciptaan, berjajar rapi.
Boneka-boneka itu berbentuk manusia, tetapi senjata yang mereka genggam berbeda-beda. Mereka berdiri tegak seperti para prajurit penjaga, memancarkan kesan kokoh tak tergoyahkan.
“Apa rencanamu?” tanya Nie Wushuang, tak sanggup menahan rasa ingin tahunya.
Setelah beberapa kali mencoba tanpa hasil, ia pun menaruh harapan pada Xiang Shang.
Pertarungan Xiang Shang melawan Chen Dingqian telah sepenuhnya membuktikan kekuatan sekaligus kedudukannya. Meski dalam hati enggan mengakuinya, mereka paham bahwa kemampuan Xiang Shang lebih tinggi daripada mereka.
Bahkan Chen Dingqian pun tak berkata apa-apa kali ini. Jelas ia setuju dengan tindakan Nie Wushuang dan menunggu pendapat Xiang Shang.
Begitulah adanya: yang kuat dihormati.
“Tunggu dulu,” kata Xiang Shang setelah berpikir sejenak.
“Tunggu?” Nie Wushuang menatapnya dengan heran.
Yang lain juga tampak kebingungan.
Xiang Shang tak memberi penjelasan. Ia membawa Qian Xiaoming dan yang lainnya ke sebuah sudut.
Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada mereka.
Qian Xiaoming yang tanggap segera mengeluarkan Jimat Peredam Suara dan mengaktifkannya.
Ekspresi Chen Dingqian dan yang lainnya seketika berubah-ubah.
Namun, Xiang Shang tidak berkewajiban membantu mereka memecahkan masalah, sementara kemampuan mereka sendiri tak cukup untuk mengalahkan boneka penjaga. Karena itu, meski kesal, mereka tetap tak berani mengeluh.
Beberapa orang yang tak sabar hanya bisa menyerbu kembali ke dalam aula untuk melawan boneka penjaga.
Sayangnya, belum sampai seperempat jam, orang itu berlari keluar dengan wajah berdebu dan kusut. Pipinya bahkan membengkak merah, membuatnya tampak semakin mengenaskan.
……
“Waktu kalian melewati anak tangga tadi, apakah kalian mendapatkan sesuatu?” tanya Xiang Shang.
Tadi, saat melangkahi anak tangga terakhir, ia samar-samar merasakan sesuatu melesat masuk ke dalam benaknya. Setelah itu, kekuatan mentalnya mengalami perubahan.
Meski perubahan itu tampaknya mengarah ke sesuatu yang baik, ia tetap merasa khawatir dan ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi.
“Tidak. Apa kau mendapatkan kesempatan istimewa lainnya?” Qian Xiaoming menggeleng, lalu menatap Xiang Shang dengan kaget. Raut wajahnya begitu rumit, antara merasa iri dan teraniaya.
“Memang kami tidak mendapatkan apa pun. Tapi setelah kau bilang begitu, aku jadi teringat sebuah kabar,” ujar Zhang Yuyang. Ia juga menggeleng, lalu seolah teringat sesuatu dan mulai menjelaskan.
“Konon, jika seseorang mampu menahan sendiri tekanan mental di anak tangga batu hijau dan mencapai puncak dengan kekuatannya sendiri, ia akan mendapat hadiah dari suatu keberadaan misterius di dalam gua langit ini. Namun, ujiannya sangat sulit dan hanya diadakan sekali setiap sepuluh tahun, jadi hampir tak ada yang berhasil. Karena itulah kabar tersebut tak pernah terbukti. Jangan-jangan kabar itu benar?”
Sambil berbicara, Qin Hao memandang Xiang Shang dengan iri.
Namun, saat teringat betapa dahsyatnya tekanan mental di anak tangga batu hijau—bahkan sampai sekarang ia masih merasakan gentar—ia segera menghapus rasa iri dari wajahnya. Sebagai gantinya, rasa kagum muncul.
Xiang Shang memang pantas mendapat hadiah itu. Ia sama sekali tidak beruntung secara kebetulan. Qin Hao benar-benar tak punya perasaan lain selain kagum.
“Begitu rupanya. Kalau begitu, aku lega.”
Mendengar penjelasan itu, Xiang Shang akhirnya menghela napas lega. Ia pun tak banyak bicara, langsung mencari tempat untuk duduk bersila dan memejamkan mata guna menenangkan diri.
Dari penuturan Nie Wushuang dan yang lainnya, kekuatan boneka penjaga jelas sangat besar. Ia tentu tak akan bertindak gegabah sebelum tubuhnya pulih sepenuhnya.
Saat melewati ujian tadi, kekuatan mentalnya terkuras hebat. Meski kini berangsur pulih, kondisinya masih jauh dari puncak.
Karena itu, ia lebih baik membuang sedikit waktu daripada gegabah menerobos masuk dan bertarung melawan boneka penjaga.
Dalam keheningan, kekuatan mental di benak Xiang Shang pulih perlahan tetapi pasti. Benang-benang energi mental keemasan yang nyaris berwujud terkumpul di dalam pikirannya, membuatnya semakin menyadari betapa kuatnya energi itu.
Xiang Shang menduga bahwa setelah kekuatan mentalnya pulih sepenuhnya, perubahan yang terjadi pasti tidak kecil.
Ia menantikannya dalam diam.
Waktu berlalu. Beberapa jam pun segera lewat.
Tepat pada saat itu, semua orang melihat sesosok tubuh berjalan mendekat dari luar, perlahan tetapi mantap. Ketika melihat semua orang berkumpul di luar aula, sosok itu sama sekali tak tampak terkejut. Ia hanya mencari tempat, lalu duduk bersila seperti Xiang Shang.
Sosok itu adalah Mei Fanggu.
Dengan kekuatan mentalnya sendiri, ia berhasil melewati ujian tekanan mental di anak tangga dan akhirnya mencapai puncak.