Energi pedang bagaikan pelangi
Jiang Yi menebas kekuatan telapak tangan itu dalam satu gerakan, lalu meliukkan tubuhnya di udara. Jubah hitamnya berkibar tertiup angin, melesat menembus udara bagaikan anak panah tajam yang meluncur ke arah Iblis Ular.
Sring!
Bilah pedang hitam itu bergetar hebat, berubah menjadi seberang kilat yang membentang di langit, menebas ke arah kepala Iblis Ular.
"Mati!"
Iblis Ular membelalakkan matanya yang merah padam, memusatkan seluruh tenaga dalamnya ke telapak tangan kanannya. Telapak tangan itu memancarkan kilau kuning pucat, dan tanpa gentar ia menyambut terjangan cahaya pedang hitam tersebut.
Bum!
Bilah pedang dan tenaga telapak tangan itu berbenturan dengan dahsyat.
Kekuatan telapak tangan Iblis Ular yang berat hanya mampu bertahan sesaat, sebelum akhirnya robek dan terbelah oleh ketajaman pedang yang tak tertandingi. Selepas itu, bilah pedang menembus maju, mengiris telapak tangannya, dan menggoreskan lengkungan yang menebas putus lengan kanannya.
Ciprat!
Darah memancar deras bagaikan air terjun.
"Argh!"
Iblis Ular menjerit kesakitan, dan keganasan di dalam matanya seketika lenyap. Saat itulah ia menyadari bahwa tingkat kultivasi Jiang Yi jauh berada di atasnya.
Ia tidak lagi berani memikirkan niat untuk membalaskan dendam Sang Naga. Ia membuka mulutnya dan menyemburkan kabut beracun ke arah Jiang Yi, lalu menghentakkan kakinya, bersiap untuk kabur memanfaatkan kesempatan itu.
Jiang Yi menarik mundur tubuhnya untuk menghindari kabut beracun, lalu mengayunkan pedang di tangannya.
Sring!
Pedang Bulu Hitam mengeluarkan getaran nyaring. Sebuah qi pedang tak kasat mata melesat keluar dari ujung pedang, menembus masuk ke dalam kabut beracun berwarna ungu pucat itu.
Argh!
Iblis Ular baru saja mundur setengah langkah ketika qi pedang tersebut menembus dadanya. Disertai jeritan ngeri, ia tewas seketika!
Mendengar jeritan sekarat Iblis Ular, Qin Sironi, Bibi Merah, dan Budak Darah merasakan hati mereka mencelos. Ketika melirik sekilas, mereka melihat tubuh Iblis Ular yang kehilangan sebelah lengan jatuh menghantam tanah dengan suara gemuruh, lalu tak bernyawa lagi.
Ketiga orang itu sangat memahami kekuatan Iblis Ular dan tahu bahwa ia adalah pendekar kelas satu yang sesungguhnya. Mereka tidak menyangka ia akan tewas begitu cepat di tangan seorang pemuda tak dikenal, sehingga perasaan terkejut dan heran bergelayut di hati mereka.
Usai membunuh Iblis Ular, Jiang Yi berbalik dan menatap tajam ke arah Budak Darah yang tengah bertarung melawan Yi Jifeng, dengan tatapan dingin membeku.
Seketika itu juga, ia melompat dan menerjang ke arah Budak Darah bagaikan angin badai.
Trang!
Diiringi dering pedang yang jernih, bilah pedang hitam itu menyambar turun dari langit dengan kemarahan bagaikan sambaran petir.
Budak Darah melihat Jiang Yi menyerangnya, memicu naluri bahaya yang kuat di dalam hatinya dan membuatnya berniat untuk mundur. Namun, ia terhalang oleh Yi Jifeng sehingga tidak bisa melepaskan diri, dan hanya bisa menyaksikan dengan keputusasaan saat bilah pedang yang tajam itu meruruk dari atas.
Melihat bilah pedang kian mendekat dan dirinya akan segera menyusul nasib Iblis Ular yang tewas di bawah pedang musuh.
Tiba-tiba, seberang qi pedang yang luar biasa megah melesat membelah kegelapan, menyambar ke arah Jiang Yi bagaikan seberkas cahaya.
Jiang Yi terpaksa mengubah serangannya. Ia membalikkan tubuhnya di udara, dan Pedang Bulu Hitam menggoreskan lengkungan untuk menangkis qi pedang yang sanggup membelah logam tersebut.
Bum, gelombang tenaga yang tajam berhamburan ke segala arah.
Tubuh Jiang Yi melayang mundur sejauh beberapa meter dengan anggun.
"Mundur!"
Diikuti oleh sebuah bentakan rendah, beberapa benda berbentuk tabung panjang dan ramping tiba-tiba melayang keluar dari kegelapan di sisi jalan, melesat ke tengah kerumunan padat dengan sumbu menyala yang memercikan bunga api sambil mendesis nyaring.
"Itu Bom Gentantara, cepat menghindar!"
Seseorang mengenali benda itu sebagai bahan peledak militer, lalu berseru kaget.
Kening Jiang Yi mengerut. Tangan kirinya bergerak mengibas, kelima jarinya memetik laksana sedang memainkan kecapi pipa, melepaskan beberapa gelombang tenaga jari yang lembut namun mematikan untuk menghantam tepat sasaran pada bom-bom gentantara tersebut.
Enam buah bom gentantara tiba-tiba berubah arah dan melesat tinggi ke udara. Disusul oleh rentetan suara ledakan yang menggelegar membelah awan, bom-bom itu meledak berkeping-keping.
Enam bola api merah menyala mekar di langit, menerangi separuh cakrawala bagaikan kembang api.
Salah satu bom gentantara meledak terlalu dekat dengan atap sebuah kedai, menyebabkan bagian atap itu hancur berkeping-keping. Serpihan genting berhamburan turun ke jalan bagaikan hujan.
Di tengah situasi yang kacau balaur ini, Budak Darah tiba-tiba melesat menghujam ke dalam tanah. Tubuhnya menyusut seketika, lalu menghilang tanpa jejak bagaikan seekor tikus yang masuk ke dalam liang.
Bibi Merah juga melompat mundur secara tiba-tiba, melambaikan tangannya untuk menebarkan kelopak bunga memenuhi udara, sementara sosoknya mendadak lenyap.
Jiang Yi tidak membuang tenaga untuk mengejar mereka, sebab ia tahu kedua belah pihak akan segera bertemu kembali.
Terlebih lagi, orang yang diam-diam mengeluarkan qi pedang tadi memiliki kultivasi yang sangat tinggi, kemungkinan besar berada di alam melampaui tingkat pertama. Jika ia nekat mengejar dan terjebak dalam kepungan musuh bersama dua iblis wilayah barat itu, ia bisa saja mengalami kekalahan telak.
Jika dugaannya tidak meleset, orang tersebut pastilah paman dari tokoh utama Zhang Junbao, yaitu Zhang Qiqiao. Sekaligus murid sulung dari Wang Xiaoyao, si Pencabut Roh.
Omong-omong, Wang Xiaoyao ini bukan hanya memiliki ilmu silat yang tak tertandingi di dunia, tetapi juga sangat piawai dalam mendidik murid. Ketiga muridnya masing-masing adalah pendekar tingkat atas yang luar biasa.
Kemampuan mengajar semacam ini bahkan melampaui sekte-sekte besar aliran persilatan di Daratan Tengah.
Qin Sironi menyarungkan pedangnya, menatap sejenak pada mayat Iblis Ular, lalu melirik Jiang Yi tanpa mengubah ekspresi, sementara secercah rasa gentar melintas di lubuk hatinya yang paling dalam.
Ia tidak menyangka bahwa dalam pertemuan dunia persilatan kali ini akan muncul seorang ahli sekelas Jiang Yi, yang kekuatannya bahkan melampaui Yi Jifeng.
Sebelum ini, ia sama sekali belum pernah mendengar nama Jiang Yi, dan tidak tahu dari mana asal pemuda itu.
Mengingat tugasnya adalah meruntuhkan pasukan pemberontak dunia persilatan, Qin Sironi merasa misi kali ini akan sangat sulit diselesaikan. Kekuatan Yi Jifeng saja sudah hampir setara dengannya, ditambah lagi dengan keberadaan Jiang Yi, ia pasti tidak akan sanggup mengatasinya.
Berbagai pikiran berkelebat di benak Qin Sironi. Ia menilai bahwa menggunakan akal licik adalah jalan terbaik, setidaknya untuk mencari tahu identitas dan latar belakang Jiang Yi terlebih dahulu.
Yi Jifeng memandang para praktisi persilatan yang merintih kesakitan dan terluka parah di sekujur tanah, lalu buru-buru berkata:
"Saudara-saudara sekalian, tempat ini telah bocor. Kita harus segera pergi dari sini. Jika tidak, para ahli anak buah Qin Hui akan datang lagi untuk menyerang kapan saja."
Luo Zi-you memutar bola matanya, melangkah maju, lalu mencecar dengan nada bertanya:
"Pahlawan Muda Yi, kami tahu bahwa lokasi pertemuan persilatan ini dipilih olehmu. Mengapa tempat ini bisa ditemukan oleh orang-orang Qin Hui, hingga membuat kita diserang tanpa persiapan dan menyebabkan begitu banyak orang tewas? Kurasa kau harus memberikan penjelasan kepada semua orang."
"Benar, kau harus bertanggung jawab kepada kami."
Para tokoh persilatan yang terluka itu mendengarnya dan melampiaskan kekesalan mereka kepada Yi Jifeng, memicu kemarahan massa.
Jiang Yi melirik sekilas ke arah kelompok orang persilatan itu, lalu membatin dalam hati: Yi Jifeng mengundang begitu banyak orang persilatan untuk hadir, tetapi orang-orang ini sama sekali tidak memiliki kesadaran untuk menjaga kerahasiaan.
Bahkan orang luar seperti Qin Sironi dan dirinya saja bisa menyusup masuk kapan pun mereka mau. Bisa dibayangkan bahwa pertemuan persilatan ini sebenarnya tidak ada bedanya dengan saringan ayak.
Pikir-pikir memang benar, orang-orang persilatan meskipun memiliki ilmu silat yang tinggi, tetapi sifat mereka bebas dan urakan tanpa disiplin apa pun. Menyuruh mereka bertarung masing-masing mungkin masih bisa, tetapi jika diminta untuk bersatu padu melakukan suatu hal besar, itu jelas merupakan hal yang sangat sulit.
Meskipun kekacauan ini disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi sebagai Pemimpin Aliansi Persilatan dan sebagai penggagas pertemuan persilatan ini, Yi Jifeng tetap harus memikul tanggung jawab penuh.
Yi Jifeng hanya bisa tersenyum pahit dan berkata: "Kejadian ini memang akibat tindakanku yang kurang cermat dan kurang matang, semoga semuanya bisa memaklumi. Namun, hal yang paling mendesak saat ini bukanlah mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan segera meninggalkan tempat berbahaya ini."
Mendengar hal itu, orang-orang untuk sementara waktu tidak lagi mempermasalahkan Yi Jifeng, melainkan mulai berdiskusi ke mana mereka harus pergi selanjutnya.
Luo Zi-you tidak menyangka Yi Jifeng begitu cepat mengalihkan perhatian orang-orang. Ia mendengus dalam hati, namun tidak lagi mendesak atau menyudutkan Yi Jifeng secara agresif, lalu berkata dengan suara lantang:
"Jika kalian berkenan, bagaimana kalau semuanya pergi ke penginapan tempatku menginap? Tempat di sana cukup luas, dan memadai untuk menampung kita semua."
Sebagai Wakil Ketua Geng Guntur Melesat, Luo Zi-you masih memiliki pengaruh yang cukup besar. Orang-orang tidak berpikir panjang dan langsung menyatakan persetujuan mereka mendengarnya.