Bab Delapan: Melaju ke Final
Siapa yang bisa menyangka, putra sulung keluarga Gu yang selama ini dianggap paling tak berguna, kini berdiri di hadapan semua orang dengan sikap begitu kuat dan tegas. Tiga puluh tahun di timur sungai, tiga puluh tahun di barat sungai, jangan pernah meremehkan pemuda miskin!
Di tribun, Qi Yue menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya bahwa pemuda yang pernah menyelamatkannya ternyata memiliki kekuatan sehebat ini. Jika dibandingkan dengan kakak-kakaknya sendiri, kekuatannya bahkan tak kalah, bahkan bisa dibilang melampaui mereka.
“Fan’er.” Gu Zhongshan berlinang air mata karena haru. Di saat keluarga mereka berada dalam kegelapan, akhirnya ada seseorang yang bisa berdiri tegak. Dan orang itu adalah putranya sendiri.
Para anggota keluarga Gu pun sangat gembira, beberapa tetua bahkan tak bisa menahan diri untuk berjingkrak-jingkrak. “Lihatlah, ini putra keluarga Gu kita, cepat lihat!”
“Bagaimana mungkin?” Para kepala keluarga lain tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Apakah ini masih orang yang sama yang dulu dianggap sampah? Hasil seperti ini benar-benar mengguncang rencana mereka, bahkan bisa saja membawa bencana bagi mereka.
“Dia pasti menggunakan trik licik! Benar, dia pasti memakan ramuan rahasia, ya, ramuan rahasia!” Gao Zhuang menunjuk Gu Fan dengan nada penuh curiga.
“Diam!” Kepala Keluarga Gao langsung menahan Gao Zhuang yang bicara sembarangan. Mana bisa bertindak seceroboh itu? Jika mereka mempertanyakan hasil ini, sama saja dengan mempertanyakan perdana menteri dan kerajaan Qi.
“Aku gagal membimbing anakku, mohon maaf atas tingkah lakunya,” kata Gao Sheng buru-buru meminta maaf kepada semua orang.
Perdana Menteri pun terkejut. Ada bibit sehebat ini, jika bisa direkrut ke kerajaan Qi, tentu akan menjadi prestasi besar baginya. Setelah melalui masa pelatihan, anak ini pasti akan menjadi pilar utama negeri mereka. Karena itu, hatinya pun diliputi kegembiraan.
Dengan santai ia berkata, “Tak apa, lain kali hati-hati saja.”
Barulah Gao Sheng diam-diam menarik napas lega.
“Bagus, bagus sekali,” kata sang kaisar sambil tertawa. “Akhirnya kita punya jenius yang bisa menyaingi orang dari Suku Serigala Utara.”
“Selamat, Sri Baginda,” ucap salah seorang pengikut yang berdiri di sampingnya.
“Kerajaan Li juga hebat, bisa menemukan bakat seperti ini. Kerajaan Qi pun datang di saat yang tepat,” ucap utusan dari kerajaan Qi turut memuji.
Semua orang tampak senang; menyaksikan lahirnya seorang jenius adalah keberuntungan tersendiri.
Satu-satunya yang wajahnya suram bagai mayat hanyalah Pangeran Kedua. Penyerangan terhadap keluarga Gu memang ide darinya, kini rencananya jelas tak mungkin dilanjutkan. Namun, anak panah sudah di busur, tak bisa lagi mengundur diri. Ia hanya bisa memilih berjudi dan mempertaruhkan segalanya.
Ia memutuskan untuk mengambil langkah berbahaya.
“Ayahanda, hamba merasa kurang sehat, mohon izin kembali ke istana untuk beristirahat,” katanya berpamitan, lalu bergegas menuju kamar pribadinya. Ia harus segera menyusun rencana baru.
“Cuit...” Seekor burung merpati pos yang sudah terlatih terbang menghampiri setelah mendengar peluit. Pangeran Kedua memasukkan secarik kertas ke tabung di kaki burung itu, lalu melepaskannya terbang.
Menjatuhkan keluarga Gu hanyalah langkah pertama dari rencananya. Ia masih punya rencana yang jauh lebih besar dan harus segera melaksanakannya.
Sementara itu, di luar, suasana semakin ramai oleh perbincangan.
“Lanjutkan ke babak berikutnya,” titah sang kaisar. “Gu Fan, tunjukkan kemampuanmu.” Hanya beberapa kata singkat, namun sudah sangat menunjukkan betapa besar perhatian sang kaisar pada Gu Fan.
Para jenius dari tiga keluarga besar lainnya pun menggertakkan gigi. Si Gu Fan yang dianggap sampah itu ternyata justru merebut perhatian mereka. Padahal, seharusnya inilah panggung utama bagi mereka. Tapi jika dibandingkan dengannya, merekalah yang sebenarnya tak berarti. Pikiran itu membuat mereka semakin iri pada Gu Fan.
“Sekarang umumkan hasil babak kedua. Nama yang dipanggil silakan maju satu per satu,” kata Perdana Menteri. Di antara sepuluh besar, tak satu pun berasal dari kota lain. Maklum, tanpa sumber daya latihan dan guru yang baik, hanya mengandalkan bakat saja untuk sampai ke tahap ini sudah luar biasa.
“Peringkat pertama, Gu Fan. Kedua, Han Meng. Ketiga, Gao Zhuang... Jika berada di tingkat yang sama, yang lebih muda diutamakan,” jelas Perdana Menteri sambil mengangguk pada peserta yang maju ke depan.
“Sebentar lagi kita mulai babak ketiga. Saya akan jelaskan aturannya dulu,” ujar Perdana Menteri saat para pelayan membersihkan arena.
“Total ada dua puluh orang. Sepuluh besar akan memilih lawan bertarung mulai dari peringkat terbawah ke atas. Hanya bisa memilih lawan yang belum bertanding. Para pemenang akan kembali bertarung dengan aturan yang sama. Sebelum final, akan ada dua pertandingan sekaligus.”
Semua orang mengangguk setuju. Karena sudah siang, aturan seperti ini memang perlu agar kompetisi bisa selesai hari itu juga. Namun, waktu ini sangat tidak menguntungkan para praktisi elemen air. Beberapa jenius dengan elemen air pun tampak muram, namun tak bisa berbuat apa-apa.
“Selain itu, peserta dilarang memakai senjata dan meminum ramuan rahasia. Jika lawan menyerah, tidak boleh lagi menyerang, juga tidak boleh sengaja melukai,” tambah Perdana Menteri.
“Sekarang, mulai!” serunya.
Peserta peringkat sepuluh pun melangkah ke depan, memberi hormat, “Aku memilih Zhou Er.” Zhou Er berada di peringkat dua puluh, bertubuh besar, namun tampak jujur.
Keduanya berjalan ke arena pertempuran.
“Lanjutkan,” kata Perdana Menteri dengan tenang.
Peserta lain pun memilih lawannya satu per satu. Gu Fan memilih peserta peringkat dua belas sebagai lawan.
“Aku menyerah.” Lawannya tahu, perbedaan kekuatannya dengan Gu Fan terlalu besar, jika memaksakan diri pasti cedera. Ia pun putra dari keluarga cukup terpandang, tak ingin pulang membawa luka.
Gu Fan hanya mengangguk dan turun dari arena.
Setelah itu, beberapa pertandingan babak kedua juga diakhiri dengan penyerahan diri, terutama jika harus melawan anggota keluarganya sendiri. Meski tak rela, mereka harus mengalah demi menjaga stamina yang lebih kuat.
Gu Fan kemudian bertemu Han Long, peringkat kedelapan. Han Long hanya ingin menguras tenaga Gu Fan, sebab di keluarga mereka masih ada Han Meng. Tugasnya adalah menyeret Gu Fan agar kelelahan.
“Ayo, biar kulihat sekuat apa si ‘sampah’ sekarang,” tantang Han Long sambil bersiap.
“Setidaknya cukup untuk mengalahkanmu,” jawab Gu Fan. Ia melepaskan pukulan, menghantam lengan Han Long yang menahan serangan.
Han Long langsung terlempar ke belakang. Ledakan tenaga itu membuatnya sangat kesulitan untuk berdiri kembali.
Han Long berusaha menyesuaikan posisi tubuh, tapi kecepatan Gu Fan terlalu tinggi. Belum sempat ia berdiri tegak, sebuah pukulan lain mendarat kembali.
Bum!
Tubuh Han Long terlempar jauh, jatuh menghantam tanah.
“Siapa yang sampah sekarang?” ejek Gu Fan dengan dingin.
“Rasakan ini!” Tubuh Han Long tiba-tiba meloncat, tinju kanannya berputar-putar membawa pusaran angin. Ini adalah jurus andalannya, Tinju Angin Kencang. Meski bukan teknik bela diri sejati, ia yakin kekuatan tinju itu cukup untuk melukai Gu Fan.
Bodoh, pikir Gu Fan. Melihat Han Long yang nekat, ia menggerakkan energi dalam tubuhnya, menyalurkan api ke tinjunya. Ia pun membalas serangan Han Long.
Dum!
Kedua tinju saling beradu, mereka bertahan seimbang sesaat.
Gu Fan melanjutkan, kini tinju kirinya juga diliputi api. Ia menghantam tubuh Han Long.
“Aaaargh!” Han Long kembali terhempas ke tanah, memuntahkan darah, beberapa tulang rusuknya jelas patah. “Sampah, hah!” gumam Han Long dengan suara parau. Ia berharap Gu Fan kembali memukulnya agar Gu Fan didiskualifikasi karena melanggar aturan.
Namun, harapan itu tak pernah terwujud.
“Gu Zhongshan, anakmu benar-benar kejam, tega sekali memperlakukan teman seumurannya seperti ini,” tegur Kepala Keluarga Han dengan tajam.
“Kalau namanya sparring, cedera tak bisa dihindari. Sebaiknya segera bawa untuk diobati, kalau tidak benar-benar bisa jadi orang cacat,” jawab Gu Zhongshan santai. Karena sesuai aturan, ia tak merasa bersalah.
Gu Fan memberi hormat kepada Han Long yang tergeletak, lalu duduk bersila memulihkan tenaga.
Tinju Angin Kencang itu merupakan jurus pamungkas Han Long, banyak orang pernah merasakan kedahsyatannya, tahu betapa berbahayanya. Namun Gu Fan menang dengan sangat mudah. Selain bajunya yang sedikit robek akibat efek angin, ia nyaris tak terlihat kelelahan.
“Kau luar biasa, pukulan itu sangat indah,” puji Tetua Bulan, yang sudah lama memperhatikan Gu Fan.
“Dia jelas berniat jahat. Kalau aku tak menyerang, tinjunya itu pasti akan melumpuhkanku,” jawab Gu Fan.
“Memang pantas menerima akibatnya sendiri,” Tetua Bulan pun setuju dengan tindakan Gu Fan.
Setelah babak kedua berakhir, hanya tersisa lima orang di arena: Gu Fan di peringkat pertama, Han Meng kedua, Gao Zhuang ketiga, Yu Fei keempat, dan Gao Yong di peringkat keenam.
Di babak ketiga, Gao Yong memilih Yu Fei sebagai lawan, Gao Zhuang memilih Han Meng. Tak ada yang mau bertarung melawan Gu Fan. Jika kalah, hanya akan menguras tenaga Gu Fan dan malah menguntungkan pesaing lain.
Gu Fan tak peduli, ia terus bermeditasi memulihkan tenaga.
“Gao Zhuang itu mencurigakan,” tiba-tiba Tetua Bulan berkata.
“Hm?” Gu Fan membuka mata, memperhatikan Gao Zhuang yang tengah bertarung sengit melawan Han Meng.
“Apa yang mencurigakan?” tanya Gu Fan tak paham.
“Dengan tingkatmu sekarang, kau memang belum bisa melihatnya. Selain aku, tak ada yang bisa melihatnya di sini,” jawab Tetua Bulan, jumawa.
“Langsung saja, jangan bertele-tele,” sahut Gu Fan dengan jengkel.
“Baiklah, lihatlah setiap kali Gao Zhuang berhasil memukul Han Meng, auranya semakin kuat, sedangkan aura Han Meng menurun. Saat tak menyerang, aura Gao Zhuang perlahan melemah,” jelas Tetua Bulan.
Gu Fan mengernyit, “Jadi, Gao Zhuang bisa menyerap kekuatan orang lain?”
“Benar, ilmu seperti ini sangat jahat. Kau harus hati-hati,” kata Tetua Bulan.
“Baik,” jawab Gu Fan.
Dengan kemampuan seperti itu, Gao Zhuang sepertinya akan mudah mengalahkan Han Meng tanpa banyak menguras tenaga. Sementara di sisi lain, Gao Yong juga menekan Yu Fei. Jika dibiarkan, Gu Fan akan menghadapi pertarungan beruntun. Ia pun mulai merasa cemas.
Benar saja, Perdana Menteri mengumumkan, “Tersisa tiga orang, mulai dari yang terakhir, silakan pilih lawan.”
Gao Yong menunjuk Gu Fan yang duduk bersila, “Kau, kemarilah.”
Gu Fan bangkit, merapikan pakaiannya.
“Pertarungan beruntun? Akan kulawan semuanya!”