Bab Empat Puluh Dua: Hadiah dari Yuan Haidong
Setelah menyelesaikan urusan penting dan mengobrol santai sejenak dengan sang Komandan di Paviliun Xuanling, Chen Zheng bangkit dan pamit undur diri.
Begitu melangkah keluar pintu, ia langsung melihat Yuan Haidong yang telah lama menantinya.
Luka-luka di tubuhnya baru saja pulih; balutan perban putih masih terlihat jelas di beberapa bagian kulitnya yang terbuka, dan auranya pun tidak sekuat sebelumnya.
Untuk apa dia datang kemari?
Sebelum Chen Zheng sempat berbicara, Yuan Haidong sudah melangkah maju, memaksakan senyum di wajahnya yang justru terlihat jauh lebih buruk daripada tangisan.
"Chen... Penjaga Chen."
"Pengurus Yuan, ada keperluan apa Anda datang mencari saya?"
Pandangan Chen Zheng justru tertarik oleh wanita cantik di belakang Yuan Haidong. Wanita itu adalah tangan kanan Yuan Haidong, Nyonya Ziyuan, seorang juru lelang yang pernah ditemuinya sepintas di pelelangan pasar.
Saat ini, Nyonya Ziyuan mengenakan gaun beludru hitam, wajahnya sedingin es, dan sorot matanya memancarkan kesedihan serta keputusasaan. Kelembutan dan keramahan yang ia tunjukkan saat pelelangan telah lenyap, membuatnya tampak bagaikan mawar hitam berduri.
Namun, kontras semacam itu justru semakin mengoyak hati.
Chen Zheng merasa dirinya mulai goyah lagi.
Yuan Haidong tampaknya telah menyiapkan mentalnya terlebih dahulu. Melihat sikap Chen Zheng yang tampak santai, ia justru merasa tersanjung secara berlebihan.
Ia tadinya mengira Chen Zheng akan mempermalukannya saat mereka bertemu.
"Penjaga Chen, beberapa hari lalu saya telah melakukan kesalahan. Setiap kali mengenangnya akhir-akhir ini, saya selalu merasa sangat menyesal.
Saya telah menyiapkan sedikit hidangan di kediaman saya dan ingin menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada Anda.
Selain itu, Ziyuan telah mengagumi Penjaga Chen sejak lama. Kebetulan sekali kesempatan ini bisa dimanfaatkan untuk mempererat hubungan dengan Penjaga Chen."
Yuan Haidong mengucapkan kalimat-kalimat yang bahkan tidak dipercayainya sendiri, tetapi semakin ia ucapkan, semakin ia tampak natural, dengan nada bicara yang teramat memikat.
Chen Zheng mengerutkan kening, menarik perhatiannya kembali dari sang wanita, dan secara naluriah merasa ada yang tidak beres.
Lagi pula, sudah untung jika Yuan Haidong tidak menghindarinya, bagaimana mungkin pria itu malah menjamunya di rumah.
Jangan-jangan ini adalah sebuah jebakan.
Ataukah orang ini telah mengetahui kabar bahwa sekte sedang memandangnya penting, sehingga ia berniat mengambil jalan pintas untuk melenyapkannya lebih awal?
Jika tidak, begitu dirinya menjadi orang penting, ia tidak akan memiliki kesempatan untuk membalas dendam dan harus selalu khawatir nyawanya terancam setiap saat.
Memikirkan hal itu, wanita secantik apa pun sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nyawanya sendiri.
Chen Zheng tersenyum sinis dan berkata:
"Pengurus Yuan, Anda telah bersumpah atas nama surga, dan saya pun telah menerima ganti rugi dari Anda. Anggap saja sedikit perselisihan di antara kita berlalu begitu saja bersama angin. Saya ini orang yang tidak suka menyimpan dendam, jadi Anda tidak perlu memasukkannya ke dalam hati.
Mulai sekarang, kita bekerja di pasar yang sama, dan saya justru berharap Anda bisa banyak membantu saya."
Mendengar itu, Yuan Haidong kontsk menarik napas dingin.
Ucapan Chen Zheng beberapa hari lalu, "Aku akan terus mengincarmu seumur hidupku", masih terngiang jelas di benaknya. Pria itu bahkan berani bilang tidak menyimpan dendam, omong kosong macam apa itu.
Semakin ia berkata demikian, semakin terbukti bahwa ia mengingatnya dengan sangat lepat.
Sialan, delapan ribu batu spiritual saja ternyata belum cukup untuk mengisi perutmu!
Dengan wajah muram seperti orang melayat, Yuan Haidong memohon hampir seperti merengek:
"Penjaga Chen, saya benar-benar hanya ingin meminta maaf dengan tulus kepada Anda. Katakan apa yang harus saya lakukan agar Anda bisa memaafkan saya, selama itu bisa saya penuhi, saya pasti akan menyanggupinya."
Chen Zheng sama sekali bergeming.
Dalam hal menyangkut keselamatan nyawanya sendiri, ia jauh lebih tenang daripada situasi apa pun.
"Pengurus Yuan, saya tidak mendendam pada Anda, jadi dari mana pula datangnya kata memaafkan. Baiklah, saya masih ada urusan, silakan minggir."
Ia melangkah melewati sisi Yuan Haidong dan mencium aroma harum yang samar—itu adalah wangi tubuh Nyonya Ziyuan, yang membawa daya tarik yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Sialan!
Chen Zheng mempercepat langkahnya, merasa tekadnya kembali runtuh.
Benar kata pepatah, terlalu menikmati kesenangan hanya akan melemahkan daya tempur.
Melihat pemandangan itu, Yuan Haidong buru-buru mendorong Ziyuan yang berada di sisinya, dengan tatapan yang memohon sekaligus penuh tekad.
"Sekarang hanya kau yang bisa menyelamatkanku."
Tatapan mata Ziyuan yang tadinya mati mendadak berkedip. Dengan langkah gontai, ia buru-buru mengejar.
...
Kawasan kumuh.
Chen Zheng mencari sebuah penginapan dan menyewa sebuah kamar.
Di ambang pintu, Chen Zheng menoleh ke arah Ziyuan yang terus membuntutinya dari belakang, tatapannya membara bagaikan serigala lapar.
"Nyonya Ziyuan, Anda mengikuti saya sepanjang jalan, membuat amarah di dalam dada saya meluap-luap."
"Jika Anda berani masuk, berarti Anda menyetujuinya."
Usai berkata demikian, ia membuka pintu kamar dan melangkah masuk.
Ziyuan berdiri terpaku di depan pintu selama beberapa saat sebelum akhirnya melangkah masuk dan menutup pintu dengan tangannya sendiri.
Belum sempat ia membuka mulut, ia mendengar sebuah benturan dingin bergeming di telinganya.
"Berlutut!"
Ziyuan menoleh ke arah Chen Zheng dan melihat pria itu sedang duduk di atas bangku bundar dengan tatapan dingin. Sikap itu sangat bertolak belakang dengan sosok bangsawan yang lembut saat pertama kali ia temui. Meski demikian, ia tidak berani melawan dan dengan tubuh gemetar berlutut di hadapan Chen Zheng.
"Dongakkan kepalamu."
Chen Zheng mencengkeram dagu Ziyuan.
"Katakan, apa sebenarnya mau Yuan Haidong, sampai-sampai kau pun diantarkan ke hadapanku."
Menahan rasa terhina, mata indah Ziyuan berkaca-kaca, memancarkan pesona yang begitu mengiba:
"Tuan mendengar kabar bahwa Anda menaruh minat pada hamba, jadi beliau menyuruh hamba memastikan agar Anda merasa puas."
"Sialan, siapa yang tidak tahu kalau selama ini aku tidak tertarik pada wanita, dia dengar dari mana omong kosong itu?"
Chen Zheng menyilangkan kakinya, berkata tanpa mengubah ekspresi sedikit pun.
Wajah Ziyuan merona merah, lalu ia berucap, "Tuan telah menghabiskan banyak biaya untuk mengumpulkan informasi tentang Anda, dan seseorang sempat mendengarkan percakapan antara Anda dan Penjaga Liu di pelelangan hari itu."
Wajah tua Chen Zheng memerah seketika, diliputi rasa malu karena fantasinya secara pribadi kedapatan didengar orang lain secara terang-terangan.
Sialan, privasi di aula utama itu terlalu buruk, lain kali ia pasti harus memesan kamar pribadi.
Ia melanjutkan pertanyaannya: "Kenapa Yuan Haidong bersikeras menyuruhmu melayaniku, apakah hanya sesederhana untuk meminta maaf padaku?"
Ziyuan tersenyum getir, nada bicaranya dipenuhi rasa getir yang mendalam.
"Apakah Anda tidak percaya? Hamba pun tidak mempercayainya saat pertama kali mendengarnya, tetapi inilah kenyataannya. Di mata Tuan, hamba selamanya hanyalah sebuah alat, sebuah hadiah yang bisa diberikan kepada siapa saja kapan pun ia mau."
Hati Chen Zheng tergerak, lalu ia bertanya:
"Apakah kau ingin membalas dendam kepadanya?"
Wajah Ziyuan menegang, kemudian ia menggelengkan kepala dan berkata:
"Tidak bisa, seluruh nyawa keluargaku berada di tangan Tuan. Jika hamba tidak patuh, beliau tidak akan melepaskan hamba, juga tidak akan melepaskan keluarga hamba."
"Tuan, mohon beri hamba kesempatan, ambillah hamba."
"Selama Anda mau mengambil hamba, hamba juga bisa memberikan jawaban kepada Tuan."
Chen Zheng mencengkeram leher jenjang Ziyuan, telapak tangannya perlahan merayap turun.
"Kau tidak menyesal?"
Ziyuan menatap Chen Zheng dengan malu-malu, suaranya bergetar: "Tuan memiliki ketampanan bagaikan dewa, sementara hamba hanyalah wanita berwajah biasa. Bisa bersama Anda adalah kehormatan bagi hamba, hanya saja hamba tidak dapat menerima sikap Tuan yang memperlakukan hamba bagaikan barang usang."
Chen Zheng meremasnya dengan erat, lalu bangkit berdiri, menggunakan tekad yang luar biasa untuk menekan hasrat di dalam hatinya.
Ia menggelengkan kepala dan berkata: "Alasannya belum cukup kuat."
"Meskipun aku sangat ingin menidurimu, aku lebih menyayangi nyawaku sendiri."
Siapa yang tahu apakah wanita ini menaruh racun di tubuhnya? Kehilangan nyawa hanya demi kesenangan sesaat adalah lelucon terbesar di dunia.
Ia saat ini sama sekali tidak memiliki tubuh yang kebal terhadap segala racun.
Ngomong-ngomong soal kebal racun, selain teknik kultivasi ganda, tampaknya ia juga harus mencari kitab jurus racun.
Jika tidak, di masa depan ia tidak akan berani tidur dengan wanita mana pun yang datang menawarkan diri.
Pikiran Chen Zheng melayang ke mana-mana.
"Katakan pada Yuan Haidong, entah apa pun informasi yang ia terima, entah dia benar-benar ingin mendamaikan masalah di antara kita atau berniat balas dendam terselubung, aku sedang tidak punya waktu untuk mengurusnya. Selama dia tidak muncul di hadapanku, aku tidak akan mencari masalah dengannya."
Tentu saja, jika nanti ia tiba-tiba teringat, maka jangan salahkan dirinya.
Adapun untuk saat ini, menjaga sikap pengendalian diri yang diperlukan sangat baik untuk meningkatkan citra positifnya, serta menunjukkan kepada orang-orang dari tim inspeksi sekte bahwa dirinya adalah orang yang mementingkan gambaran besar.
Lagi pula, bagaimana mungkin seseorang dengan watak rendahan dan pendendam bisa mendapatkan kepercayaan sekte, dan bagaimana ia bisa dipercaya untuk memegang tanggung jawab besar di masa depan?
Orang seperti itu, semakin tinggi bakat dan potensinya, justru akan mendatangkan malapetaka yang semakin besar.
Chen Zheng berjalan menuju pintu, lalu teringat sesuatu. Ia menoleh dan tersenyum:
"Oh ya, satu hal lagi, mulai sekarang aku melarang Yuan Haidong menyentuhmu."
Setelah mengucapkan kalimat itu, seolah ia baru saja menyelesaikan sebuah permainan usil yang menyenangkan, tawanya terdengar sangat menyebalkan.
Ziyuan ambruk tak berdaya di atas lantai, menatap kosong ke arah punggung Chen Zheng yang semakin menjauh, sementara dua baris air mata mengalir dalam keheningan.
Baik di mata Yuan Haidong maupun di mata Chen Zheng, dirinya tidak lebih dari sekadar mainan belaka.
Beberapa saat kemudian.
Ia merapikan pakaiannya yang berantakan di bagian dada, menyapu bersih air matanya, dan begitu melangkah keluar kamar, ia kembali menjadi Nyonya Ziyuan yang anggun dan berkelas, suci serta tak tersentuh.