Bab 70: Belum Berhasil Sudah Gugur di Tengah Jalan
Setelah mendengar permintaan Gao Qiu, Li Fei hanya mengusap hidungnya dan tertawa pelan, “Tuan Taibi, bolehkah Anda melepas gelang tangan itu? Begitu aku memakai sihir, aku pastikan Anda akan segera melihat arwah penasaran itu.”
Gao Xin buru-buru melambaikan tangan, “Sudahlah, tidak usah, apa bagusnya melihat benda seperti itu, kita...”
Gao Qiu mendengus, membuat Gao Xin langsung terdiam.
Kemudian, Gao Qiu melepas gelang tangannya dan menyerahkannya pada Li Fei, berkata, “Silakan lakukan sihirmu, aku juga ingin melihat seperti apa rupa arwah penasaran itu.”
Raut wajah Li Fei langsung menjadi sangat serius, lalu dengan penuh khidmat berkata, “Silakan kalian berdua mundur sedikit, supaya saat arwah itu muncul, hawa jahatnya tidak melukai kalian.”
Gao Xin, yang benar-benar mempercayai hal-hal gaib, segera mundur jauh, sampai ke ambang pintu.
Gao Qiu tetap duduk santai di tempatnya, tak mengindahkan peringatan Li Fei.
Li Fei pun tidak memaksanya. Ia mengeluarkan dua botol porselen dari tubuhnya, satu berisi pil penyegar tenaga, satunya lagi berisi jiwa Wei Ling.
Ia mengambil satu pil dan menelannya, lalu menjelaskan, “Meskipun aku punya sedikit ilmu, menghadapi arwah penasaran tetap harus hati-hati. Aku harus menelan obat ini agar bisa menahan hawa jahatnya. Tuan Taibi, sebaiknya Anda juga minum satu.”
Gao Qiu khawatir kalau pil itu sudah diracuni, jadi ia menolak, “Tak perlu, aku tidak takut hawa jahat.”
Li Fei mengangguk, lalu menggenggam gelang tangan itu di telapak tangannya, melantunkan mantra yang terdengar aneh dan rumit. Setelah itu, ia berteriak keras dan melempar gelang itu ke atas meja, lalu mundur beberapa langkah seakan-akan sangat ketakutan terhadap gelang tersebut.
“Tunjukkan dirimu, arwah penasaran!” serunya.
Bersamaan dengan itu, Li Fei diam-diam membuka tutup botol berisi jiwa Wei Ling.
Wajah Gao Qiu penuh dengan senyum sinis, menganggap semua ini hanya lelucon. Namun, sesaat kemudian, senyuman itu lenyap dari wajahnya.
Di hadapannya, perlahan muncul sosok manusia samar yang wajahnya nyaris sama persis dengan Wei Ling, dengan ekspresi penuh kebencian.
“Ibu...!” seru Gao Xin ketakutan. Meskipun ia berdiri cukup jauh, kemunculan arwah itu nyaris membuatnya mati ketakutan. Ia langsung berbalik hendak kabur. Namun karena terlalu tergesa-gesa, ia tersandung ambang pintu dan jatuh menelungkup sambil menjerit.
Gao Qiu pun tak kalah parah, keningnya mulai berkeringat dingin, namun ia tetap membentak keras, “Berani sekali kau, arwah penasaran! Aku ini Taibi negara, berani-beraninya kau mencelakakanku?!”
Jiwa Wei Ling memang tampak menakutkan, namun sebenarnya tak punya daya membunuh.
Li Fei dalam hati menahan tawa, lalu secara diam-diam membentuk segel sihir dan melemparkan “Mantra Kebutaan” ke arah Gao Qiu.
Begitu terkena, Gao Qiu langsung sadar matanya tiba-tiba tak bisa melihat apa pun.
Kehilangan penglihatannya secara mendadak membuat Taibi yang satu ini benar-benar panik. Ia refleks berdiri dan meraba-raba ke depan.
“Mataku tak bisa melihat! Cepat, tolong! Selamatkan aku!” serunya panik.
Li Fei berseru, “Tuan Taibi, jangan khawatir, tetaplah di tempat, aku akan membantumu. Hati-hati, jangan sampai jatuh.”
Namun Gao Qiu sudah terlalu ketakutan untuk mendengarkan. Ia berlarian kacau di ruang tamu, terjatuh berkali-kali, sampai akhirnya bersembunyi di bawah meja dan gemetar ketakutan.
Li Fei menahan tawa, lalu segera mengembalikan jiwa Wei Ling ke dalam botol porselen, kemudian menuang secangkir teh untuk dirinya sendiri, meneguknya untuk membasahi tenggorokan.
Saat itu, dari luar terdengar suara langkah kaki. Li Fei pun berjongkok, meraih lengan Gao Qiu, yang membuat pria tua itu kembali berteriak ketakutan.
“Jangan takut, Tuan Taibi. Arwah itu sudah pergi, dan matamu sebentar lagi akan pulih.”
Setelah menyadari bahwa yang memegang lengannya adalah Li Fei, Gao Qiu akhirnya merasa tenang. Ia dibantu keluar dari bawah meja dan duduk kembali di kursi.
Beberapa pelayan masuk, melihat Gao Xin tergeletak di lantai dengan genangan air di bawahnya. Ekspresi mereka sedikit jijik.
Setelah menarik napas dalam-dalam, mereka pun dengan enggan membantu Gao Xin berdiri, namun kakinya masih lemas dan tak mampu berdiri tegak.
Beberapa pelayan itu membawanya masuk ke ruang tamu. Li Fei memerintahkan, “Di sini kalian tidak ada urusan lagi. Kakak Gao ini terlalu ketakutan. Bawa dia ganti pakaian, mandikan, lalu suruh dapur membuat sup penenang dan biarkan dia meminumnya.”
“Baik, Tuan,” jawab para pelayan. Pandangan mata mereka tak sengaja kembali melirik ke celana Gao Xin.
Beberapa saat kemudian, efek mantra kebutaan menghilang, dan penglihatan Gao Qiu pun kembali normal.
Li Fei berkata, “Tuan Taibi, sekarang Anda percaya pada perkataanku, bukan?”
“Percaya, percaya, kau memang orang hebat,” Gao Qiu menghembuskan napas panjang. “Hawa jahat itu benar-benar kuat, sampai langsung membutakan mataku. Gelang tangan itu tidak kuinginkan lagi.”
Dalam hatinya, ia sudah bertekad, bila kembali ke ibu kota nanti, ia pasti akan menangkap orang yang memberinya gelang itu dan memasukkannya ke penjara, karena jelas-jelas memberinya barang sial.
Li Fei merendah, “Maafkan aku, karena ilmunya kurang, sampai membuat Tuan Taibi ketakutan. Itu kesalahanku.”
“Pak Chen, Anda terlalu merendah. Ini salahku sendiri, tadi aku terlalu keras kepala, tak bisa menyalahkanmu.”
Sikap Gao Qiu pada Li Fei berubah total. Bukan hanya tak lagi membahas soal menghadap kaisar, keinginannya menguasai Serikat Naga Putih pun langsung sirna. Kini ia bicara sangat sopan, terus-menerus berusaha menjalin hubungan baik dengan Li Fei, bahkan hampir saja bersumpah persaudaraan.
Akhirnya, Gao Qiu pun bertanya tentang nasib hidupnya ke depan.
Li Fei, yang berasal dari masa depan, tentu saja mengenal tokoh Taibi ini. Ia pun memujinya beberapa kata, mengatakan bahwa karier Gao Qiu akan tetap mulus dan ia akan meninggal dengan tenang.
Gao Qiu sangat puas mendengarnya, dan sama sekali tak terburu-buru untuk pergi. Ia bahkan menyatakan ingin tinggal beberapa hari di rumah itu, dan Li Fei langsung setuju serta mencarikan kamar untuknya.
Setelah itu, Li Fei kembali ke ruang tamu, berjalan cepat ke meja, mengambil gelang tangan itu, lalu memeriksanya dengan teliti sambil tersenyum.
“Benar-benar batu roh, tak kusangka begitu mudah kudapatkan. Gao Qiu ini sungguh beruntung, tak salah kalau dia disebut anak emas zaman ini.”
Julukan anak emas zaman ini memang tak berlebihan. Nasib Gao Qiu benar-benar luar biasa. Ia, yang semula hanya pejabat kecil, bisa naik ke puncak menjadi Taibi, selamat dari perebutan kekuasaan antara Kaisar Huizong dan Qinzong, dan bahkan mampu meninggal dengan baik sebelum insiden Jin Kang, serta lolos dari nasib jadi tawanan.
Sebetulnya, dari seluruh manik-manik di gelang itu, hanya satu yang merupakan batu roh. Penampilannya tak berbeda dengan manik-manik kristal lainnya—bulat sempurna, warnanya bening, dan cemerlang tanpa noda.
Alasan Li Fei bisa langsung mengenalinya adalah karena ia dapat merasakan energi unsur dari batu itu.
Li Fei tak mungkin langsung meminta gelang itu dari Gao Qiu, sebab benda itu jelas sangat berharga baginya.
Karena itu, Li Fei sengaja membuat sandiwara, menipu Gao Qiu dengan sempurna.
Hasilnya sangat jelas. Ia tidak hanya mendapatkan batu roh, tapi juga berhasil menghilangkan niat jahat Gao Qiu terhadapnya, bahkan sekarang pria itu sangat ingin menjalin hubungan baik dengannya.
Li Fei yakin, bila besok Gao Qiu bisa melihat dirinya “naik ke langit jadi dewa”, begitu pulang, ia pasti akan didirikan patung batu, dianggap sebagai dewa hidup.
Kini, dengan jiwa Wei Ling sebagai inti, ditambah batu roh serta bahan-bahan lain yang sudah lengkap, ia bisa langsung berlatih Mata Iblis Kegelapan.
Li Fei segera mengumpulkan semua bahan, mengurung diri di ruang belajar, dan melarang siapa pun mengganggunya.
***
Mata Iblis Kegelapan punya banyak ketidakpastian, dengan kemungkinan tiga puluh persen membuat Li Fei langsung menjadi buta. Namun, ia bisa menggantikan fungsi mata dengan kekuatan spiritual, jadi baginya tak masalah.
Selain itu, kemampuan Mata Iblis Kegelapan sangat bergantung pada kualitas pribadi pemiliknya. Jika orangnya baik, kekuatannya kuat. Jika buruk, Li Fei hanya bisa pasrah.
Mata Iblis Kegelapan tidak bergantung pada energi sihir, melainkan pada energi jiwa. Jiwa manusia adalah sumber makanannya. Itu sebabnya, di masa depan, tangan Li Fei pasti akan berlumuran banyak nyawa.
***
Sementara itu, di sisi lain, Xi Jianwei dan Budak Bisu keluar dari rumah makan, berjalan tanpa tujuan di jalanan.
Banyak hal yang dipikirkannya—tentang orang-orang yang ia temui di dunia ini, tentang peristiwa yang dialaminya. Secara keseluruhan, hidupnya lebih banyak mulus daripada susah, dan jarang sekali mengalami keterpurukan seperti sekarang.
Ia juga memikirkan masa depan, bagaimana merekrut lebih banyak tentara, mengatur pemerintahan, hingga bagaimana menjadi kaisar yang baik. Namun, pikirannya lalu melayang pada soal wanita.
Xi Jianwei menjilat bibir, matanya menyapu para pejalan kaki di jalan, sayangnya tak satu pun yang menarik perhatiannya.
Sudah beberapa hari ia tak menyentuh wanita, jadi begitu masuk kota, hatinya gatal bukan main.
Ah, sudahlah. Hati gelisah begini, mana bisa mengurus urusan besar. Lebih baik cari rumah bordil dulu untuk bersenang-senang.
Ia bertanya pada orang jalan, lalu buru-buru menuju ke sana.
Tak lama, ia pun sampai di sebuah rumah bordil.
Xi Jianwei mendongak, dan melihat papan nama bertuliskan “Paviliun Bunga Musim Semi”.
Di balkon lantai dua yang menghadap jalan, berdiri belasan wanita muda berdandan cantik. Meski tak ada yang benar-benar menawan, tapi cukup untuk memuaskan hasrat.
Di pintu masuk Paviliun Bunga Musim Semi, seorang mucikari setengah baya dengan wajah masih menarik menghampiri.
“Kedua tuan, silakan tunjukkan surat identitas kalian.”
Xi Jianwei tertegun sejenak, lalu teringat dan mengeluarkan kartu kayu yang ia dapat saat masuk kota.
Mucikari itu hanya melirik sekilas, lalu berkata, “Kalian hanya tamu sementara di kota ini, tidak boleh menginap di kota, juga tidak boleh memilih gadis kami.”
Xi Jianwei mengeluarkan uang perak, tak puas, “Aku punya banyak perak, lima puluh tael cukup?”
Pemiliknya tetap menggeleng, “Peraturan tetap peraturan. Kalau kubiarkan kalian masuk, aku melanggar aturan, dan usahaku pasti tamat. Silakan pergi saja.”
Xi Jianwei masih ingin berdebat, namun tiba-tiba merasakan angin di belakangnya. Sebelum sempat bereaksi, seutas tali goni sudah menjerat lehernya, dan sekali tarik ia langsung terjatuh ke tanah.
Dari seberang jalan, tujuh atau delapan pria bertubuh kekar dengan sigap bergerak. Dalam sekejap, Xi Jianwei dan Budak Bisu sudah diikat erat seperti ketupat.
Pemimpin mereka dengan cekatan mencopot cincin hijau dari jari Xi Jianwei, lalu mengamati dengan saksama.
Peristiwa itu terjadi terlalu cepat, Xi Jianwei bahkan tak sempat bereaksi sebelum dirinya sudah jadi korban.
“Kalian ini perampok, bajingan! Kembalikan cincinnya padaku!” teriak Xi Jianwei dengan mata memerah, menyaksikan “cincin emas” miliknya direbut begitu saja.