Bab 27: Kisah Kelahiran Seorang Wanita Kaya
Hujan rintik membasahi langit, diiringi angin musim gugur yang menusuk tulang. Air hujan turun miring dari langit, membasahi bumi yang sudah dingin. Serombongan orang berpakaian duka berbaris di jalan setapak di luar kota, enam orang pemikul mengangkat peti mati hitam di depan, diikuti keluarga mendiang di belakang.
Baju mereka basah oleh hujan, namun dinginnya air tidak sebanding dengan duka yang memeluk hati. "Anakku, mengapa kau pergi begitu saja? Anakku, semoga kau baik-baik saja di alam sana...." Tak ada yang lebih memilukan dari orang tua yang mengantar kepergian anaknya. Hari ini adalah hari pemakaman Hu Cheng.
Ibu Hu berjalan sambil menangis, matanya merah membara, air yang mengalir di wajahnya entah air mata atau air hujan. Wakil Kepala Daerah Hu juga tampak berduka, tetapi di dalam hatinya lebih banyak amarah. Ia ingin membalas, tetapi gagal menuntut balas.
Di sekitar Kabupaten Qinghe, hanya di Gunung Sembilan Sapi terdapat perampok gunung, tetapi ketika pasukan pemerintah datang, gunung itu telah kosong, tak bersisa sehelai rambut pun.
Tak lama kemudian, rombongan tiba di tempat makam yang terletak di samping hutan bambu. Begitu peti mati diturunkan ke liang lahat, upacara duka pun usai.
“Jangan, Cheng sangat takut sendirian.” Ibu Hu memeluk peti mati erat-erat, menghalangi siapa pun mendekat. Ia hanya punya satu anak lelaki, tak rela berpisah adalah hal yang wajar.
“Kakak, biarkanlah dia beristirahat dengan tenang.” Zhang Qiao’er mendekat dan berkata pelan di sisi ibu Hu.
“Plak!”
Ibu Hu berbalik dan menampar wajah Zhang Qiao’er yang rupawan, seketika tercetak lima jari merah di pipinya.
“Perempuan jalang, di sini bukan tempatmu bicara!”
Zhang Qiao’er memang sangat disayang oleh Wakil Kepala Daerah Hu, dan Ibu Hu sudah lama tak suka padanya, kini ia melampiaskan amarahnya.
Niat baik Zhang Qiao’er berbuah perlakuan demikian, ia menutup pipi kiri sambil berlinang air mata.
“Aduh, Nyonya, di saat seperti ini pun masih sempat bertengkar.” Wakil Kepala Daerah Hu menegur dengan nada mengasihani selir kesayangannya. “Tidak sakit, kan? Sini, biar kulihat.”
Menyaksikan keduanya bermesraan di depan peti mati anaknya, wajah Ibu Hu pun mengeras. Selain amarah, rasa iri pun membuncah di hatinya. Ia iri Zhang Qiao’er dicintai, muda, dan masih mampu melahirkan.
Ia iri segalanya tentang Zhang Qiao’er…
Jika ada pisau di tangan, ia ingin menebas wanita jalang itu, memotong dagingnya dan memasukkannya ke dalam kuali.
Ibu Hu memalingkan wajah, enggan melihat lebih jauh.
Saat menoleh, matanya menangkap sesosok tubuh perlahan mendekat dari kejauhan. Langkahnya tertatih, tampak samar di bawah hujan, namun posturnya sangat familiar.
Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.
“Tuan, ada orang datang ke mari,” seru Ibu Hu.
Wakil Kepala Daerah Hu mengibaskan tangan, “Biarkan saja, apa pentingnya?”
“Bukan itu, rasanya seperti Ren, dan ia terlihat aneh sekali!” Ibu Hu menjawab.
Mendengar itu, Wakil Kepala Daerah Hu menoleh ke arah yang dimaksud, benar saja, sosok yang sangat mirip keponakannya tampak berjalan mendekat.
Tak lama, Hu Ren berdiri di depan mereka, menengadahkan kepala, pupil matanya berpendar dua warna menatap mereka.
Melihat wajahnya, Wakil Kepala Daerah Hu dan istrinya terkejut. Wajahnya dipenuhi daging busuk, tak lagi dikenali, pakaian compang-camping seperti pengemis!
Ibu Hu ketakutan melihatnya, ingin mundur, tetapi Hu Ren segera mencengkeramnya.
“Kau mau apa...”
Belum sempat selesai bicara, Hu Ren sudah menerkam dan menggigit tubuhnya. Jeritan pilu perempuan itu pun menggema.
“Mengerikan sekali!” Orang-orang lain terkejut, namun tak ada yang berani menolong, mereka justru berbalik dan lari tunggang langgang.
Wakil Kepala Daerah Hu pun begitu, ia menarik tangan Zhang Qiao’er berniat kabur.
Istri galaknya mati, tak apa, malah mengurangi penghalang, sekalian mengangkat selir jadi istri sah, untung ganda baginya.
Seolah menyadari hal itu, Hu Ren mendongak, membuka mulut, dan sekawanan ngengat ungu beterbangan keluar, langsung menyerang Wakil Kepala Daerah Hu.
Dalam sekejap, gerombolan ngengat ungu mengejar dan menimpanya seperti hujan lebat.
“Aduh, apa ini, tolong!” Wakil Kepala Daerah Hu mengibas-ngibaskan lengan, tapi sia-sia, wajahnya segera dilapisi ngengat ungu.
Zhang Qiao’er menjerit, memeluk kepala dan tiarap di tanah berlumpur, menutup mata, tak berani menyaksikan pemandangan mengerikan itu.
Hu Ren menggigit mati bibinya sendiri, menatap nyala hijau yang muncul di dahinya.
Nyala hijau itu adalah sisa samar jiwa manusia yang baru mati. Prajurit kerangka akan bertambah kuat jika menyerapnya.
Setelah mengisap nyala jiwa itu, Hu Ren bangkit dan berjalan ke arah pamannya, membuka mulut, dan ngengat-ungunya satu per satu kembali masuk ke tubuhnya.
Beberapa hari terakhir, ia berkeliaran di alam liar, bertindak berdasarkan naluri, memakan tikus, serangga, ular, kelinci, apapun yang bisa dimakan.
Ngengat ungu awalnya adalah barang sekali pakai, namun setelah bersatu dengan tubuh Hu Ren, terjadi mutasi, ia menjadi semacam kepompong besar yang menyediakan energi hidup bagi ngengat itu.
Karena merindukan darah Hu, begitu merasakan kehadiran mereka, ia datang ke tempat ini.
Setelah menyedot jiwa pamannya, wajah busuk Hu Ren tampak tersenyum secara naluriah, berdiri terhuyung-huyung, tanpa melirik Zhang Qiao’er yang tergeletak, berbalik dan melangkah ke hutan bambu.
Bukan karena hatinya baik, melainkan karena ia sudah kenyang.
Zhang Qiao’er menutup mata lama sekali, menunggu malapetaka menimpa dirinya, namun ternyata tidak terjadi apa-apa.
Ia membuka mata perlahan, bangkit, memandang sekitar, dua mayat tergeletak, ditambah satu di peti mati, lengkap sudah satu keluarga.
Bagi orang lain, ini mungkin musibah besar.
Namun bagi Zhang Qiao’er, justru kabar baik tak terhingga. Akhirnya ia lepas dari cengkeraman Wakil Kepala Daerah Hu, dan yang lebih menguntungkan, seluruh harta keluarga Hu akan diwarisinya.
Mulai sekarang, dunia kehilangan seorang selir lemah yang selalu menahan diri, tetapi bertambah seorang janda kaya.
Hari itu, di wilayah Fuzhou, di kaki Gunung Gelombang Air, datanglah serombongan tamu tak diundang, jumlahnya sekitar empat ratus orang.
Li Fei turun dari kereta kuda, mendongak, memandang puncak gunung yang tak berujung. Puncak utamanya tampak seperti labu setengah tergantung di langit, membuat siapa pun berdecak kagum akan keindahan alam.
Dari kediaman keluarga Liu, perjalanan telah memakan waktu dua puluh tujuh hari untuk tiba di sini, sungguh perjuangan yang berat.
Ia memerintahkan rombongan menyamar sebagai kafilah dagang, berjalan di siang hari, beristirahat di malam hari, tak pernah singgah di kota besar, hanya mampir ke kota kecil untuk membeli bahan makanan dan batu giok.
Batu giok digunakan untuk menyediakan energi bagi tongkat lintas ruang, sayangnya batu giok biasa tak mempan, hanya batu giok pilihan yang berkhasiat, dan itu sangat mahal.
Di sepanjang jalan banyak perampok, yang bisa diajak bicara, dijadikan anak buah, yang tak bisa, semuanya dibasmi.
Begitu sampai di tempat ini, jumlah anggota gerombolan telah bertambah menjadi empat ratus orang.
Hari-hari itu, ia tak pernah lengah, setiap hari berlatih sihir. Selain keahlian yang memerlukan ramuan khusus, semua keahlian penyihir tingkat pemula telah dikuasainya.
Yaitu, Mantra Mengamuk, Mantra Kebutaan, dan Bola Api Hitam.
Tiga keahlian ini mengonsumsi energi sihir lebih besar daripada sihir pemula lain, tapi kelebihannya tidak perlu membaca mantra, cukup energi sihir dan gerakan tangan yang tepat, langsung bisa dilepas.
Li Fei menunjuk puncak tertinggi, “Saudara-saudara, inilah rumah kita.”
Semua orang berseri-seri, perjalanan yang dilalui memang sungguh tak mudah.