Bab 8: Mengapa seorang seperti aku yang takut bersosialisasi harus datang ke tempat seperti ini?
Sebelum keluar rumah, Lan Bai mandi dengan puas. Mungkin karena kini dia telah menjadi orang kaya, dia merasa tekanan air di kamar mandi kontrakannya yang selama ini rendah dan pancuran airnya pelan, hari ini terasa jauh lebih deras. Meski belakangan dia sadar, itu karena sebelum mandi dia baru saja mengencangkan sambungan kepala pancurannya sendiri.
Tapi itu semua tak penting. Yang penting, dia sudah hampir mengantongi seratus ribu yuan!
Selesai mandi, Lan Bai dengan santai memilih setelan kasual yang tampak cukup sederhana. Sebuah kaus bergambar panda kartun besar sebagai dalaman, dipadukan dengan jaket baseball hitam yang pas di badan, dan celana panjang khaki yang dipilih asal. Ia melirik ke rak paling atas tempat dia menyimpan topi, berpikir sejenak, lalu memilih topi model bebek, mengikat rambutnya ke dalam lubang di belakang topi, dan menurunkan bagian depan menutupi wajah.
Dia kemudian menyampirkan tas selempang panda kesayangannya, satu-satunya aksesori miliknya. Terakhir, dia mengenakan masker.
Sempurna! Berangkat! Kini saatnya menantang dunia ini!
Dengan penuh tekad, Lan Bai menekan gagang pintu. Mungkin pengaruh dirinya yang dulu, seorang pekerja kantoran, kini Lan Bai jauh lebih berani dan penuh semangat dari sebelumnya. Namun, begitu pintu benar-benar terbuka dan kakinya melangkah keluar kamar, segenap aura semangat itu lenyap dalam sekejap, tergantikan keheningan yang jelas terlihat.
Jangan sampai ketemu orang! Jangan sampai ketemu penghuni lainnya! Dalam hati, Lan Bai berdoa keras, kedua tangan mencengkeram tas panda kecilnya erat-erat, melangkah perlahan, berusaha keluar ruangan tanpa suara.
Gerak-geriknya benar-benar seperti pencuri.
"Klik."
Saat Lan Bai baru melewati pintu kamar utama, pintu itu tiba-tiba terbuka.
“Eh, Lan kecil mau keluar?” Seorang ibu-ibu membawa kantong sampah tampak sedikit terkejut melihat Lan Bai, namun langsung menyapanya dengan ramah.
“Ah... Ehm... iya...” Meski sudah pakai masker, Lan Bai tetap saja tak bisa menutupi senyum canggung yang terpaksa ia layangkan pada tetangganya.
“Kamu dengar suara aneh nggak tadi, kayak ada yang runtuh?” tanya si ibu.
“Ehm...” Lan Bai berkeringat dingin, mengangguk.
“Mungkin lantai atas lagi renovasi...” jawabnya.
“Itu... saya duluan, ya.” Lan Bai menunjuk ke arah pintu keluar, mengerjapkan mata, buru-buru pergi meninggalkan rumah kontrakan itu.
“Huff...” Begitu sampai di jalan, Lan Bai baru bisa bernapas lega.
Ternyata dirinya memang tidak terlalu pandai berinteraksi dengan orang lain, meski ia sudah menyerap pengalaman hidup sebagai pekerja kantoran.
Saat ini, Lan Bai tak bisa lagi disebut hanya sebagai Lan Bai si pekerja kantoran atau Lan Bai si penakut sosial. Pada akhirnya, dalam tubuh ini hanya tertanam kenangan yang telah menyatu. Namun, tubuh tak pernah berbohong. Setiap kali harus berinteraksi, tubuhnya secara alami menunjukkan gejala kecanggungan sosial.
Untungnya, meski jalanan ramai, dia tak perlu berbicara dengan siapa pun—semua orang asing. Kecuali kalau ada teroris sosial, yang untungnya tak ada saat ini.
Lan Bai menelusuri jalanan yang agak asing, sambil memperhatikan bangunan dan mencari pusat perbelanjaan tujuannya lewat aplikasi peta. Mungkin karena sinyal ponselnya jelek, saat ia membuka aplikasi navigasi, penunjuk arah di layar malah berputar-putar. Tanpa sadar, Lan Bai mengangkat ponsel, memutar tubuh mengikuti arah penunjuk itu, hingga akhirnya sadar dia kembali ke posisi semula.
Ia memegang ponsel sejajar dadanya, menatap ke arah penunjuk dan ke jalan secara bergantian, lalu melangkah beberapa langkah ke depan.
Tiba-tiba, Lan Bai berhenti mendadak, berbalik arah dengan cepat. Salah jalan. Penunjuk arah ternyata ke sisi sebaliknya.
Untung saja Lan Bai membungkus dirinya cukup rapat, jadi meski ada orang yang memperhatikan gerak-geriknya yang agak aneh, mereka paling-paling cuma melirik sebentar. Pandangan mereka tak mampu menembus pertahanan Lan Bai. Dia kan pakai masker! Kalau saja memakai helm motor yang menutupi seluruh wajah tidak terlalu menarik perhatian, mungkin dia akan memakainya sekarang.
Setengah jam kemudian.
Lan Bai duduk diam di depan meja hotpot, menatap kosong pada panci hotpot empat sekat yang mengepul di depannya.
“Halo Kak, ini pesanan babat sapi Kakak! Perlu saya masukkan ke dalam panci sekalian?” Seorang pelayan perempuan menghidangkan seporsi babat sapi di atas es, tersenyum manis dan bertanya pada Lan Bai.
“Ah? Tidak, tidak perlu, terima kasih, biar saya saja.” Lan Bai buru-buru menolak dengan kikuk, pipinya memerah, berkali-kali mengucapkan terima kasih.
“Baik, tidak apa-apa, Kak. Saya bantu tambah es teh plum-nya ya.” Belum sempat Lan Bai menolak, si pelayan sudah menuangkan es teh plum hingga gelasnya yang baru diminum sepertiga itu kembali penuh.
“Terima kasih, terima kasih,” ucap Lan Bai lagi, mengangguk dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
“Sama-sama, Kak.”
“Terima kasih, terima kasih.”
“Sama-sama, Kak.”
...
Lan Bai duduk sendirian di tempatnya, dikelilingi oleh boneka beruang besar dan kecil yang dibawakan para pelayan. Karena ia datang makan sendiri.
Sejak ia melepas masker dan topi, juga jaket sebelum mulai makan, para pelayan perempuan itu selalu melirik ke arahnya. Tidak lama kemudian, satu per satu mereka datang membawakan boneka beruang besar, katanya agar Lan Bai tidak makan sendirian.
Akhirnya, Lan Bai duduk sendiri di meja besar berbentuk U, duduk di tengah, sementara di sekelilingnya duduk enam boneka beruang besar.
Jadi...
Kenapa aku, seorang penakut sosial, malah datang ke tempat seperti ini?
Lan Bai memegang sumpit, makin tak bersemangat.
Untung saja masih ada makanan enak yang menghiburku.
Ia menukar rasa canggung dan sedih menjadi nafsu makan. Setelah hampir sebulan hanya makan mi instan, ia hampir lupa seperti apa rasa makanan sungguhan.
Untungnya, hotpot yang serba lengkap ini bisa memuaskannya.
“Wah~” “Slurp, slurp, slurp...”
Lan Bai menyesap kuah tomat yang kental, merasakan kenikmatan dan kehangatan dari rasa asam manisnya.
Namun, saat ia sedang menikmati pesta rasa di lidahnya, seseorang yang tidak ia harapkan muncul.
“Selamat siang, Ibu Miao Bai yang terhormat!” “Kami melihat hari ini adalah ulang tahun Ibu, jadi kami sudah menyiapkan kejutan khusus untuk Anda!”
Para pelayan perempuan berkumpul di meja Lan Bai. Mereka semua cantik dan manis, namun di mata Lan Bai saat ini, mereka seperti iblis yang hendak mempermalukannya.
“Ini adalah satu mangkuk mi panjang umur~” “Kami dari Lao Lao mendoakan selamat ulang tahun!” “Ayo, kita nyanyi bersama!” “Ucapkan selamat tinggal pada segala kesedihan~” “Sambutlah semua kebahagiaan~”
...
Para pelayan penuh semangat itu melompat-lompat di depan meja, memegang papan lampu dan tongkat sorak, tampak sangat bahagia. Semua pengunjung restoran menoleh ke arah Lan Bai, bahkan ada yang mulai merekam video.
Lan Bai hanya bisa tersenyum kaku, bertepuk tangan dengan gerakan mekanis, terpaksa ikut meramaikan suasana.
Jadi...
Kenapa aku tadi sempat-sempatnya makan di sini pakai kartu member kakakku hari ini?!