“Kamu ingin menghancurkan industri game Nusantara, ya!” Bai Lan menghadapi banyak pemain yang menyalahkannya karena belum membuka proyek baru, benar-benar merasa tidak berdaya. Dia sudah bersusah paya
Einstein pernah berkata, “Kita dapat melintasi masa depan, tetapi tidak bisa kembali ke masa lalu.”
Namun, Bai Lan yakin dirinya tidak pergi ke masa depan, juga tidak kembali ke masa lalu.
Karena...
Baik di masa depan maupun masa lalu, sekalipun Bai Lan berubah menjadi kantong belanja, berubah menjadi salah satu dari 97 jenis kelamin lainnya, tetap saja tidak akan pernah menjadi seorang gadis!
Tapi sekarang, dia benar-benar menjadi seorang gadis...
Bai Lan berdiri di depan satu-satunya meja di kamar kecil berukuran sepuluh meter persegi itu, memandang kosong pada cermin akrilik tipis yang menempel di dinding.
Gadis dalam cermin itu memiliki rambut panjang lurus hitam berkilau yang tergerai, wajah oval yang begitu cantik tanpa cela, dan sepasang mata bening seperti rusa kecil.
Kulit wajahnya putih, halus, bersih tanpa riasan, tanpa satu pun noda.
Ingatan kehidupan lamanya sebagai pemuda pekerja keras bercampur dengan kenangan sebagai gadis muda pemalu dan anti-sosial. Seiring berjalannya waktu, emosi Bai Lan pun perlahan mereda. Kini, ia juga memahami tekanan di dunia kerja baik bagi pria maupun wanita; yang tertekan bukanlah jenis kelamin, melainkan orang biasa.
Tapi apakah orang biasa pantas diarahkan senjata ke kepalanya?
Ia kembali menatap dirinya sendiri.
Bai Lan ragu sejenak.
“Hai! Istriku!”
Gadis di cermin itu meniru gerakannya.
Ya, itu aku!
“Argh! Lucy yang malang...”
Bai Lan menutupi dadanya dengan kedua tangan, penuh penderitaan...
Sudah berubah jadi gadis canti