Bab Delapan: Membalikkan Kebenaran dan Kebohongan
Selama hidupnya, Lu Xiangqin belum pernah menerima penghinaan seperti ini. Amarah dan rasa malu langsung membakar dirinya, hampir saja ia menunjukkan tabiat aslinya yang suka membuat keributan. Namun akhirnya ia menahan diri. Hmph, demi bisa melangkah melewati ambang tinggi keluarga Ning, berapa banyak hal yang sudah ia telan bulat-bulat? Satu kali lagi, tak masalah. Sebentar lagi ia akan menjadi nyonya besar keluarga Ning. Setelah itu, ia bisa perlahan-lahan membalas Ning Xia, gadis sialan itu.
Lu Xiangqin mengeluarkan sapu tangan, menghapus sisa air di wajahnya, lalu merapikan rambut di dahinya yang basah. Ia kemudian berbalik ke arah Tang Jing di dalam Toko Perhiasan Hua Bao dan tersenyum manis, seolah-olah ia sama sekali tak peduli dengan sikap tak sopan Tang Jing. Dengan anggun dan berwibawa, ia melangkah menuju jalan raya untuk mencari taksi.
Perempuan ini memang bukan orang yang mudah dihadapi! Begitu penilaian Tang Jing terhadap Lu Xiangqin.
Namun tangguh atau tidaknya Lu Xiangqin, bagi Ning Xia kini sudah tak jadi soal. Di dunia ini, manusia memang tak setangguh harimau atau serigala, tidak sebesar paus atau hiu, juga tak bisa terbang tinggi seperti rajawali. Namun, manusia tetap menjadi penguasa bumi. Alasannya? Karena manusia punya akal.
Dalam kehidupan ini, Ning Xia sudah tahu Lu Xiangqin adalah ular berbisa, mustahil ia akan terus-menerus terjerat jebakan perempuan itu.
Sekarang, hubungannya dengan sang ayah belum benar-benar hancur. Jika ia memang tak bisa menghindari apa yang terjadi, maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki hal-hal yang seharusnya tak terjadi.
Setelah memberi pelajaran pada Lu Xiangqin di Toko Perhiasan Hua Bao, sesampainya di rumah sakit, Ning Xia sudah menyiapkan siasat untuk menjatuhkan Lu Xiangqin. Perempuan itu telah menanti selama belasan tahun demi bisa menikah dengan anggota keluarga Ning. Jika semua usahanya hancur di tangan Ning Xia, tentu akan sangat memuaskan.
“Ayah, semua ini salahku, sampai membuat Ayah sakit begini.” Di kamar perawatan kelas satu, begitu bertemu ayahnya, Ning Yuan, Ning Xia langsung menubruk dan menangis tersedu-sedu di pelukannya.
“Xiaxia, beberapa hari ini kamu ke mana saja?” Wajah Ning Yuan berseri-seri, sama sekali tidak seperti cerita Lu Xiangqin yang bilang ia sakit parah. Sebenarnya, ia hanya salah makan hingga pencernaannya terganggu, makanya masuk rumah sakit. Semua itu sudah diketahui Ning Xia dari pengalaman hidupnya di masa lalu.
“Aku pergi mencari adikku,” jawab Ning Xia, mengangkat wajahnya yang penuh air mata dari pelukan ayahnya. Di dunia ini, bukan hanya Lu Xiangqin yang bisa membalikkan hitam putih, ia pun bisa. Lu Xiangqin selama ini memang punya hubungan gelap dengan ayahnya, terutama sepuluh tahun lalu, ketika ibu Ning Xia, Wang Jingyu, bertengkar dengan Ning Yuan dan pergi menenangkan diri di rumah orang tuanya di Hangzhou. Saat itulah Lu Xiangqin memanfaatkan kesempatan untuk mempererat hubungannya dengan Ning Yuan. Pada tahun itu juga, Lu Xiangqin mengandung anak laki-laki hasil hubungan dengan Ning Yuan. Namun karena saat itu suaminya, Fang Han, masih hidup, anak itu akhirnya hanya bisa menyandang marga Fang, dan bahkan Lu Xiangqin sendiri tak tahu bahwa anak itu darah daging Ning Yuan.
Sampai Fang Chong makin besar dan semakin mirip Ning Yuan, barulah kebenaran perlahan terungkap. Dalam ingatan Ning Xia, beberapa tahun lalu, Lu Xiangqin entah karena apa, dipukuli habis-habisan oleh suaminya, Fang Han. Setelah itu, Fang Han mabuk, lalu mengemudi dalam keadaan teler dan akhirnya tewas dalam kecelakaan. Lu Xiangqin pun menjadi janda dan benar-benar menjadi simpanan Ning Yuan. Ia juga selalu bersikeras bahwa Fang Chong adalah anak Ning Yuan. Inilah alasan setelah tiga tahun Wang Jingyu wafat, Ning Yuan akhirnya memutuskan menikahi Lu Xiangqin, demi memberikan nama yang pantas pada anak lelakinya. Anak keluarga Ning tidak boleh menyandang marga orang lain. Kalau tidak, pria seperti Ning Yuan yang dikelilingi wanita cantik, mana mau menikahi janda seperti Lu Xiangqin?
Fang Chong adalah anak Ning Yuan, adik tiri Ning Xia seayah. Semua ini baru diketahui Ning Xia setelah ia dan Ning Yuan benar-benar memutus hubungan ayah-anak.
Pengetahuan ini diperoleh Ning Xia dari kehidupan sebelumnya. Saat ini, kenyataan bahwa Fang Chong adalah anak Ning Yuan hanyalah rahasia antara Ning Yuan dan Lu Xiangqin.
Saat Ning Xia tiba-tiba berkata bahwa ia pergi mencari adiknya, wajah Ning Yuan langsung berubah. Tak ada orang lain yang tahu soal anak dari hubungan gelapnya dengan Lu Xiangqin, sejak kapan rahasia ini sampai ke telinga putrinya? Orang kaya dan terpandang sangat menjaga gengsi mereka. Di kehidupan sebelumnya, Ning Yuan setuju menikahi Lu Xiangqin, memperbolehkan Fang Chong mengganti nama keluarga menjadi Ning, tapi soal status Fang Chong sebagai anak haram, ia jaga mati-matian. Uang bisa dicari lagi, tapi citra dan nama baik sekali rusak, seumur hidup tak akan bisa kembali. Siapa yang rela dicap sebagai pria tak setia seperti Chen Shimei seumur hidupnya? Apalagi di dunia bisnis, reputasi adalah mahkota utama perusahaan. Ning Yuan selalu mengibaratkan dirinya sebagai batu giok yang berharga, jika nama baiknya hancur, maka semua produk batu giok unggulan perusahaannya pun ternoda.
“Xiaxia, kamu bicara apa?” Wajah Ning Yuan yang tadinya merah cerah, kini mendadak pucat seperti salju musim dingin.
Sambil terus menghapus air mata, Ning Xia berkata lirih, “Sebenarnya, sepuluh tahun lalu, Mama melahirkan seorang adik laki-laki untukku, seorang anak untuk Ayah...” Begitu kalimat itu terucap, Ning Yuan langsung tercengang. Kapan hal itu pernah terjadi?
Namun Ning Xia tidak peduli pada kebingungan ayahnya, ia melanjutkan, “Tahun itu, setelah aku dan Mama pergi ke Hangzhou, Mama tahu dirinya hamil. Tapi saat itu, Mama dan Ayah sedang berselisih paham. Mama selalu bilang, Ayah tidak memperlakukannya dengan baik karena ia melahirkan anak perempuan. Makanya ia ngambek dan tak memberitahu Ayah soal kehamilannya. Sampai akhirnya adikku lahir, Mama tetap ingin menyembunyikannya dari Ayah. Katanya, kalau Ayah tidak mau mengalah, Ayah seumur hidup tak akan tahu punya anak laki-laki di dunia ini. Setelah itu, Bibi Xiangqin datang ke Hangzhou. Karena lama menikah tapi tak punya anak, Bibi Xiangqin sangat suka pada adikku. Ia bilang suaminya sangat mendambakan anak laki-laki, kalau adikku diasuh olehnya, ia bisa menghindari kekerasan dari suaminya. Semua orang tahu Bibi Xiangqin sering mendapat perlakuan buruk dari Paman Fang karena tak bisa melahirkan anak. Entah bagaimana akhirnya, Bibi Xiangqin berhasil membujuk Mama, sehingga adikku diadopsi olehnya.”
Ning Xia sedang mengarang cerita. Sebelumnya, ia sendiri tak menyangka bisa berbohong tanpa berkedip, bahkan merangkai kisah yang begitu masuk akal.
Mendengar cerita Ning Xia, kekhawatiran Ning Yuan tadi lenyap, berganti dengan tatapan dalam penuh pertimbangan. Ia meneliti Ning Xia, dalam hati yakin putrinya mustahil tahu soal anak hasil hubungannya dengan Lu Xiangqin, tapi juga ragu apakah Ning Xia sedang berbohong.
Selama ini, hubungannya dengan Lu Xiangqin memang sangat rahasia. Atas nama sahabat dekat almarhum istrinya, Lu Xiangqin tinggal di rumah keluarga Ning untuk merawat Wang Jingyu yang sakit keras. Ini menjadi alasan yang masuk akal bagi Lu Xiangqin keluar masuk rumah mereka, sekaligus memudahkan mereka bertemu setiap hari. Hubungan terlarang itu pun sulit diketahui orang lain. Hubungan itu berlangsung bertahun-tahun, sampai akhirnya Wang Jingyu memergoki mereka tengah malam. Semua rahasia terbongkar di hadapan Wang Jingyu, yang akhirnya meninggal karena marah dan membawa rahasia itu ke liang lahat, tetap menjaga aib mereka.
Saat itu, Ning Xia telah tinggal di luar kota untuk kuliah, jadi ia sama sekali tak punya kesempatan mengetahui kejadian itu, apalagi soal anak yang dilahirkan Lu Xiangqin.
Menyadari hal itu, kecurigaan Ning Yuan terhadap Ning Xia perlahan sirna. Ia sangat mengenal sifat istrinya, Wang Jingyu. Kisah yang diceritakan Ning Xia memang sangat mungkin terjadi. Apalagi, Lu Xiangqin yang bertahun-tahun menikah tanpa anak, selalu dikabarkan oleh orang luar tak mungkin mendapatkan keturunan. Karena itulah Fang Han sangat buruk memperlakukannya. Tapi mengapa akhirnya bisa punya anak laki-laki dengan dirinya?
“Apa yang kamu bicarakan, Xiaxia?” Ning Yuan menatap Ning Xia dengan wajah tak percaya.
“Aku selalu tahu soal ini, tapi Mama mengancamku, jika aku memberitahu Ayah, ia tak akan mengakuiku sebagai anak lagi. Ia juga bilang, kalau Ayah tahu Mama sudah melahirkan adik untukku, Ayah pasti tak akan menyukaiku lagi. Saat itu, aku sangat takut, takut Mama meninggalkanku, takut Ayah jadi tak sayang padaku karena sudah punya adik laki-laki. Akhirnya aku hanya bisa memendam rahasia itu erat-erat... Maaf, Ayah, maaf... Aku salah. Beberapa hari ini aku terus ragu, apakah harus memberitahu Ayah atau tidak. Sampai Bibi Xiangqin bilang Ayah hampir meninggal gara-gara aku, aku baru sadar, kalau terus egois, aku justru akan membuat Ayah menyesal seumur hidup. Aku tak bisa lagi menyembunyikan kebenaran...”
Ning Xia memang anak yang keras kepala. Karakternya hampir sama dengan almarhum ibunya, Wang Jingyu, sama-sama pantang mundur dan berjiwa baja.
Sebagai ayah, Ning Yuan sangat mengenal putrinya. Ia tak menemukan alasan mengapa Ning Xia harus mengarang cerita bahwa Fang Chong adalah anaknya bersama Wang Jingyu, apalagi kalau Ning Xia sendiri tak tahu apa-apa.
Selain itu, meski Ning Xia sedang berbohong, bagi Ning Yuan itu justru bisa menjadi alasan untuk menyembunyikan kebenaran. Dengan begitu, ia tak perlu menikahi Lu Xiangqin yang sudah tua itu, namun tetap bisa mengakui Fang Chong sebagai anak kandungnya. Bagi Ning Yuan, ini jelas sangat menguntungkan!