Bab Lima Puluh Tujuh: Keberuntungan, Kemakmuran, dan Usia Panjang
Saat Tuan Ye masih berpikir-pikir, Ning Xia dengan gesit menyingkir ke samping, tak menggubris Tuan Ye yang masih ragu-ragu. “Yang benar-benar berminat, silakan lihat-lihat. Kalau tidak ada yang mau beli, aku akan terus membelah batu ini. Kalau nanti sudah aku potong lebih banyak dan nilainya naik, jangan salahkan aku kalau harga ikut naik juga.”
Harga yang Ning Xia tawarkan ke Tuan Ye, yakni sepuluh juta, sebenarnya sudah cukup tinggi. Jika ia sendiri yang mengekstrak batu gioknya, mengolah dan menjualnya dalam bentuk produk jadi, memang ada kemungkinan hasilnya mencapai angka itu. Tapi jika orang lain membeli batu mentah itu darinya dengan harga lebih dari sepuluh juta, lalu berjudi dengan harapan menemukan pembeli yang sangat menyukai batu giok tersebut hingga berlomba-lomba menawar, mungkin mereka masih bisa untung. Namun bila mereka membawa pulang untuk diproses sendiri, ruang kenaikan harga nyaris jenuh, ditambah biaya produksi yang tinggi, untung saja sudah bagus kalau tidak malah merugi. Satu-satunya keuntungan yang tersisa adalah untuk koleksi. Harga giok memang terus naik setiap tahun, tetapi berapa keuntungan di masa depan masih tak menentu.
Ning Xia sudah tahu segalanya luar kepala, namun tetap menaikkan harga karena ia tidak khawatir batu giok ini tak laku. Jika semua orang yang ada di tempat itu menyerah dan tak ada yang berani membeli, ia masih bisa mengambil giok itu lalu menjualnya ke Nie Chen. Batu itu ia beli seharga empat jutaan, bagaimana pun ia bisa mendapatkan untung satu hingga dua juta dari Nie Chen. Jadi, baginya ini adalah transaksi yang pasti untung. Barang bagus memang tidak pernah sepi peminat.
Sekarang ia sedang melampiaskan kekesalannya. Awalnya ia berencana menjual batu mentah itu ke Tuan Ye seharga enam juta saja. Tapi siapa suruh Tuan Ye mendengar kata-kata Chi Jin Feng? Sebelumnya, Chi Jin Feng pernah melarang wanita dan anjing masuk ke wilayahnya, menyinggung harga dirinya. Ia masih menyimpan dendam. Jika Tuan Ye cukup cerdas untuk memperhitungkan risiko dan menyerah pada batu mentah ini, itu sudah cukup adil. Tapi jika ia memilih terus bersaing, biarlah ia menanggung akibatnya sendiri.
Orang-orang yang mengelilingi mereka, selain ingin berjudi batu demi keuntungan, juga adalah pecinta giok. Di hadapan batu giok bagus, hati mereka tak bisa menahan keterpesonaan. Batu giok jenis serat emas ini sangat istimewa, pasarnya selalu naik daun. Batu giok serat emas yang ada di depan mereka memang sangat menawan. Untuk koleksi, nilai kenaikannya sangat besar. Maka beberapa pembeli yang benar-benar punya kemampuan mulai berebut menawar.
“Delapan juta...”
“Delapan setengah juta...”
Seorang pria paruh baya berkacamata hitam maju ke depan, mengangkat tangan kanannya dan menyebut harga, “Sembilan juta sembilan ratus ribu! Gadis kecil, angka ini sangat bagus. Jual saja batu mentah ini padaku.”
Ning Xia tersenyum ramah pada pria berkacamata hitam itu, siap berhenti di situ. Jujur saja, dengan harga segini, ia sudah untung besar.
Mendengar ada yang menyaingi, hati Tuan Ye jadi gelisah. Di permukaan batu yang baru dipotong Ning Xia, ia melihat bahwa giok dalam batu itu ternyata sangat banyak. Jika terus dipotong dan memperlihatkan permukaan giok yang lebih luas, nilainya akan jauh lebih dari sepuluh juta. Apalagi ketika ia melihat musuh bebuyutannya juga ikut bersaing, ia makin panik. Ia menyesal, saat tak ada yang menyaingi, ia seharusnya tak mendengar kata-kata Chi Jin Feng. Kalau saja ia membeli dengan enam juta, ia bisa langsung untung hampir empat juta.
Melihat Ning Xia tampak sudah puas dengan penawaran pria berkacamata hitam, Tuan Ye makin panik. Ia tak peduli lagi dianggap tak sopan, langsung memegang lengan Ning Xia, wajahnya memerah karena gugup, lalu berseru, “Sepuluh juta! Aku beli batu mentah ini. Tadi sendiri kamu yang tawarkan harga segitu padaku, mundur tak menyesal, seorang pria sejati harus menepati janji!”
Ucapan Tuan Ye itu membuat Ning Xia tertawa geli. Pria sejati tak menyesal? Ia sendiri wanita, apalagi ada yang menyamakan dirinya dengan anjing. Bagaimana bisa jadi pria sejati?
Tuan Ye melihat Ning Xia tertawa, tak tahu apakah ia setuju atau mengejeknya. Keringatnya mulai menetes. “Nona Ning, kamu tak boleh ingkar janji, ya.”
Ning Xia menghela napas, tak ingin membuat Tuan Ye makin cemas, ia mengangguk setuju. Walaupun pria berkacamata hitam itu masih terus menawar hingga satu juta lima puluh ribu, ia tak tergoda lagi. Segala sesuatu harus tahu batas. Serakah itu tak ada ujungnya. Ia sudah untung besar, tak boleh sampai orang lain rugi besar karenanya. Ia tak ingin terlalu kejam.
Tuan Ye mendengar Ning Xia menepati janjinya dan tak tergoda dengan tawaran lebih tinggi di sekitarnya, akhirnya bisa bernapas lega. Tangannya masih bergetar saat mengelap keringat di dahi dengan sapu tangan, lalu berkata, “Nona Ning, berikan nomor rekeningmu, aku akan segera transfer.”
Ning Xia mengangguk, mereka berdua pergi ke tempat sepi dan melakukan transfer melalui mobile banking.
Begitu nada pesan masuk terdengar dan Ning Xia menerima notifikasi transfer sukses dari bank, ia menoleh ke arah Chi Jin Feng, yang sedari tadi meremehkannya dan menunggu ia dipermalukan, lalu menantangnya dengan senyum cerah penuh kemenangan.
Senyum itu menusuk mata Chi Jin Feng, membuatnya merasa sangat tidak nyaman untuk beberapa saat. Wajah tampannya tampak dingin dan muram. Ia mendengus pelan lalu berbalik pergi dengan wajah tegang.
Setelah Chi Jin Feng pergi, Tuan Ye memandang puas pada batu mentah yang kini telah menjadi miliknya. Meski harus mengeluarkan tambahan empat juta, ia merasa itu pantas. Batu giok serat emas yang begitu sempurna, jika ia terus membelah dan memperlihatkan giok yang lebih luas, mendapatkan untung satu hingga dua juta bukanlah masalah.
Kali ini, giliran Tuan Ye yang memutuskan untuk membelah batu.
Sementara Ning Xia, yang sudah tahu apa hasil berikutnya, hanya merasa kasihan pada Tuan Ye lalu beralih mencari batu mentah lainnya. Kali ini ia tak lagi melirik batu berukuran besar, melainkan memilih batu yang beratnya tak sampai seratus kilogram.
Saat ia mondar-mandir di gudang memilih batu, suara mesin pembelah batu di sana tiba-tiba berhenti. Lalu terdengar desahan kecewa yang sangat familiar di telinganya. Ia tahu Tuan Ye akhirnya berhasil mengeluarkan giok dari batunya. Dalam dunia perjudian batu ada pepatah, "Sekali tebas jadi miskin, sekali tebas jadi kaya, sekali tebas cuma dapat kain goni." Tuan Ye, yang membeli batu darinya, jelas-jelas tidak akan jadi miskin, tapi juga tak akan jadi kaya.
Tak peduli apa yang terjadi di sana, Ning Xia tetap fokus memilih batu mentah. Dengan bantuan Lu Man, ia bisa melihat batu-batu kecil mana yang mengandung giok. Ada yang berwarna hijau tapi kualitasnya buruk, ada yang hanya menipu karena hanya kulitnya saja yang hijau, dan ada pula yang masuk kategori bahan polos. Ning Xia berdiri tegak, punggungnya pegal karena terlalu lama membungkuk, tampaknya mencari batu bagus memang tak semudah itu.
Ketika ia hampir putus asa, Lu Man tanpa perintah darinya merayap malas ke sebuah batu mentah seberat sekitar sepuluh kilogram. Ning Xia langsung sedikit bersemangat, pasti Lu Man menemukan sesuatu yang berharga. Benar saja, begitu ia menembus batu itu dengan bantuan Lu Man, ia melihat di dalamnya tersembunyi sepotong giok kaca dengan tiga warna: merah, hijau, dan ungu. Ternyata itu adalah giok Fu Lu Shou yang sangat langka. Meski hanya sebesar kepalan bayi, giok kaca sebesar itu sudah sangat mahal, apalagi jenis Fu Lu Shou tiga warna yang begitu sulit didapat. Dengan ukuran segitu, giok itu tak bisa dibuat gelang, karena diameter gelang paling kecil saja harus 53 mm. Lebih kecil dari itu tak akan muat di pergelangan tangan siapa pun. Jadi, batu ini hanya bisa dibuat liontin dan gantungan.
Di pasaran, liontin dari giok kaca biasanya dihargai puluhan juta. Sedangkan giok kaca Fu Lu Shou, sudah pasti masuk kategori istimewa, dibuat liontin saja harganya bisa menembus ratusan juta. Ning Xia memperkirakan dari batu kaca Fu Lu Shou ini, ia bisa menghasilkan tiga liontin. Jika benar, nilai batu ini setidaknya tiga ratus juta.
Ning Xia tersenyum puas, memanggil Lin Man, menunjuk batu mentah yang berisi giok kaca Fu Lu Shou di dalamnya, “Tolong timbangkan batu ini untukku, aku mau beli.”
Lin Man menengok batu yang beratnya tak sampai sepuluh kilo, lalu tersenyum, “Nona Ning adalah pelanggan besar di toko kami. Waktu menimbang batu sebelumnya, yang lebih berat saja sudah kami kasih potongan, apalagi yang ini. Batu ini kami gratiskan saja untuk Nona Ning.”
Mendapatkan gratis tentu sangat menyenangkan. Wajah Ning Xia langsung berseri, ia mengucapkan terima kasih pada Lin Man.
“Tak perlu sungkan, nanti Nona Ning sering-seringlah belanja batu di toko kami.” Hari ini Lin Man benar-benar melihat siapa jati diri Ning Xia. Selain bukan orang biasa, ia juga sangat beruntung dalam perjudian batu. Melihat gadis muda yang sudah sekaya ini, Lin Man merasa iri sekaligus teringat pepatah lama: mendekat pada orang beruntung bisa ikut kecipratan rezeki. Ia pun bertekad untuk lebih sering mendekati gadis yang penuh keberuntungan ini.