Izinkan aku mengajarkanmu tentang sejarah.
Begitu ia tiba di sisi Mo Li, ia masih saja merasa was-was. Ia mendekatkan dirinya ke telinga Mo Li dan berbisik penuh rahasia, “Gadis yang menginap di tempat kita ternyata adalah Liu Lanzhi! Tidak benar! Ini tidak masuk akal!”
Mu Qing terus-menerus menggelengkan kepala. Napas hangat Mu Qing menyapu telinga Mo Li, membuat wajahnya memerah. Jika begini terus, ia sudah tak mampu menahan diri lagi, apalagi sejak lama ia memang menyukai Mu Qing.
Mo Li pun meluruskan tubuhnya, menjaga jarak dengan Mu Qing, lalu berkata, “Apa yang menarik dari Jiao Zhongqing dan Liu Lanzhi?”
“Kalau hanya mereka berdua, tentu saja aku tidak merasa penasaran. Tapi kenapa ada juga Zhou Yu? Bukankah Zhou Yu itu tokoh dari zaman Tiga Kerajaan? Sedangkan ‘Burung Merak Terbang ke Timur’ adalah karya musik rakyat Dinasti Han, bukankah itu berarti ceritanya berlatar Dinasti Han?”
“Kamu pernah menghafal ‘Burung Merak Terbang ke Timur’? Coba kau bacakan untukku!” Mo Li tak kuasa menahan tawa mendengar penuturan Mu Qing.
“Burung merak terbang ke timur, lima li sekali menoleh…”
Baru dua baris Mu Qing melantunkan, Mo Li sudah memotongnya dan berkata, “Kamu tahu tidak kalau ‘Burung Merak Terbang ke Timur’ punya pendahuluan?”
Pertanyaan Mo Li membuat Mu Qing terdiam. Saat sekolah, guru hanya menyuruh mereka menghafal syairnya, ia bahkan sudah lupa pendahuluannya.
“Pendahuluannya begini: Pada masa akhir Dinasti Han, di tahun-tahun Jian’an, istri Jiao Zhongqing, seorang pegawai kecil di Lujian, bernama Liu, diusir oleh ibu mertuanya. Ia bersumpah tak mau menikah lagi. Namun keluarga memaksanya, akhirnya ia memilih bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai. Mendengar hal itu, Jiao Zhongqing pun menggantung diri di pohon halaman. Orang-orang terharu lalu menciptakan syair ini.” Setelah berkata demikian, Mo Li melihat Mu Qing masih tampak bingung, lalu ia pun menjelaskan.
“Zaman Tiga Kerajaan dimulai ketika Kaisar Wen dari Wei, Cao Pi, naik takhta. Sebelumnya, tahun pemerintahannya disebut Jian’an. Zhou Yu pun bukan tokoh Tiga Kerajaan, karena saat ia wafat, Tiga Kerajaan belum dimulai. Tepatnya, Zhou Yu adalah tokoh akhir Dinasti Han, dan masa kejayaannya juga pada era Jian’an.
Lujian pada masa itu merupakan wilayah Wu Timur. Melihat usia Zhou Yu, kemungkinan saat ini masih masa kejayaan Sun Ce.”
“Ah! Sun Ce… yang itu kan?” Mu Qing jadi bersemangat.
Namun Mo Li segera menuangkan air dingin, “Kau juga pasti tahu dua wanita cantik yang termasyhur dalam sejarah: Qiao Besar dan Qiao Kecil. Bukankah ada pepatah; ‘Di selatan Sungai Yangtze ada dua Qiao, di utara ada Zhen Mi yang memesona.’ Mereka seharusnya menikah dengan Zhou Yu dan Sun Ce.”
Mendengar nada cemburu di suara Mo Li, Mu Qing tak bisa menahan tawa, “Mo Li, apa kau tidak merasa antusias? Kita bisa bertemu dengan tokoh-tokoh yang hanya ada di buku sejarah!”
“Tidak juga. Di dunia sebelumnya aku juga tokoh terkenal, kenapa kau tidak mengagumiku?”
“Tapi aku tidak hidup di masa yang sama denganmu, aku juga tidak tahu kisah hidupmu.” Mata Mu Qing membesar, memandang Mo Li polos tanpa dosa.
“Mau tahu? Aku yakin kalau kau tahu, kau pasti akan mengagumiku.” Mo Li tampak bangga, lalu melanjutkan, “Kau pasti tahu, di dunia sebelumnya, akhirnya Ling Yun yang naik tahta, dan setelah itu kau tidak tahu lagi kelanjutannya kan…”
Mu Qing mengangguk. Ia memang tidak tahu apa yang terjadi di dunia sebelumnya, juga tidak tahu bagaimana nasib Ling Li setelah itu.
“Tak ada yang istimewa, setelah Ling Yun naik tahta, aku pergi ke perbatasan utara, menjaga wilayah itu hingga akhir hayatku. Selama aku menjaga perbatasan, hubungan bangsa asing dan Tiongkok sangat harmonis, perdagangan lancar, rakyat hidup tenteram.” Saat menceritakannya, semua terasa seperti mimpi. Di dunia sebelumnya, ia selalu sendiri, seumur hidup tak menikah, hanya menjadi penjaga gerbang utara Tiongkok.
Semua itu tidak ia ceritakan. Ia tak ingin Mu Qing menerima dirinya karena rasa bersalah atau iba.
“Oh…” Mu Qing menopang dagu dan berkata, “Apa yang kau lakukan sudah baik, rakyat hidup tenteram itu yang utama. Negara, bangsa, pada dasarnya mereka semua manusia yang sama…”
Mu Qing segera menyadari bahwa topik mereka melenceng dari dunia yang benar-benar berbeda, lalu kembali ke pembicaraan soal Tiga Kerajaan dan kisah ‘Burung Merak Terbang ke Timur’.
“Bukan, aku datang bukan untuk membahas itu. Aku ingin mengajakmu berdiskusi soal Liu Lanzhi. Kau tahu ‘Burung Merak Terbang ke Timur’ adalah tragedi, dua insan itu akhirnya memilih mati bersama. Tapi kalau mereka tidak saling mencintai, pasti takkan terjadi hal semacam itu.”
“Xiao Qing, jangan sembarangan, segala hal sudah ada takdirnya. Kita tidak boleh sembarangan mengubah jalan hidup orang lain. Kalau tidak, kita bisa mendapat hukuman, bahkan bisa membahayakan nyawa Wang Jian dan Tuan Li Si.”
“Tapi aku tetap merasa kasihan pada Liu Lanzhi. Ibu Jiao Zhongqing selalu meremehkannya, padahal sebenarnya Jiao Zhongqing-lah yang tidak sepadan dengannya!” Sejak SMA, saat belajar syair Han Yuefu ini, Mu Qing memang sudah merasa kasihan pada Liu Lanzhi. Ibu Jiao di masa modern pasti akan dicap sebagai mertua yang jahat dan tidak masuk akal.
“Kau kasihan pada Liu Lanzhi, tapi pernahkah kau memikirkan Jiao Zhongqing? Pada masa Han, negara ini sangat menekankan bakti pada orang tua. Dalam lingkungan seperti itu, Jiao Zhongqing berani mati bersama Liu Lanzhi, itu pun sudah luar biasa.” Mo Li punya pandangan berbeda dengan Mu Qing.
Mo Li melanjutkan, “Kau bisa saja menyebut Jiao Zhongqing lelaki penurut ibunya, tapi kau tidak tahu bahwa di zaman itu, berani melawan ibu sendiri lalu mati bersama kekasihnya, itu pun sudah butuh keberanian besar.”
“Kau sendiri bilang butuh keberanian, tapi menurutku Liu Lanzhi tetap lebih berani. Pokoknya, aku tidak setuju dengan perjodohan mereka!” Mu Qing mulai bersikap keras kepala.
Mo Li yang melihat Mu Qing tidak bisa diyakinkan hanya bisa menghela napas, “Terserah kau sajalah. Tapi, sepertinya kita juga perlu beristirahat.”
“Baiklah, aku juga sudah mulai lelah…” katanya sambil meregangkan badannya. Namun ia merasa ada yang aneh dengan ucapan Mo Li, walau ia tidak tahu persisnya di mana letak keanehannya.
Kini, pikirannya hanya dipenuhi urusan Liu Lanzhi. Tak heran, keesokan paginya saat bangun, Mo Li mendapati Mu Qing dengan lingkaran hitam di bawah matanya.
“Hai, Xiao Qing, kenapa denganmu? Kok matamu jadi hitam begitu? Apa semalaman tidak tidur?” Mo Li tertawa melihat keadaan Mu Qing.
“Hmm…” Mu Qing tampak lesu dan tak menanggapi candaan Mo Li.
“Kau bisa main guzheng?”
“Bisa!” Mu Qing tidak tahu kenapa tiba-tiba Mo Li menanyakannya.
“Kau pernah memainkan lagu ‘Burung Merak Terbang ke Timur’ waktu belajar guzheng. Apa sekarang kau masih bisa memainkannya?”
“Maksudmu, aku harus melantunkan syair itu di depan Liu Lanzhi?” Wajah Mu Qing tampak gembira, namun segera kembali muram.
“Tapi… aku rasa aku sudah lupa bagaimana memainkannya…”
“Kau pasti bisa.” Saat Mo Li mengucapkan itu, ia memandang ke timur. Sinar mentari pagi menyelimuti tubuhnya dengan cahaya keemasan.
Mo Li di usia ini memang seperti matahari pagi, penuh semangat dan harapan.
Di sisi barat aula, ada sebuah panggung kecil. Di atasnya terdapat sebuah guzheng yang tertutup kain. Sejak tiba di tempat itu, Mu Qing belum pernah menyentuhnya.
Ia pun ragu-ragu mendekati guzheng, hendak membuka kain penutupnya, namun ia tak berani. Melihat itu, Mo Li yang membuka kain tersebut untuknya.
Itulah sebuah guzheng hitam yang panjang, dengan sentuhan hijau halus, seperti sulur-sulur hijau yang melilit kayu tua.
Mu Qing mengulurkan tangan dan memetik senarnya. Suaranya jernih dan merdu, menggema lembut di sekeliling ruangan. Sungguh, alat musik yang luar biasa.