Bab 31 Keluarga Jiang
Jiang Yan kembali ke Kediaman Perdana Menteri dengan penuh semangat bersama Tao’er. Setelah bertahun-tahun tak kembali ke ibu kota, para pelayan di kediaman pun telah banyak yang berganti. Jiang Jin baru saja selesai menulis laporan, berniat keluar untuk menghirup udara segar. Baru saja melangkah ke halaman depan, ia melihat seorang perempuan luar biasa cantik mengenakan gaun panjang merah menyala dan tusuk rambut emas berjalan masuk. Ia tertegun sesaat, lalu tanpa sadar berseru, “Yan kecil?”
“Kakak, aku sudah pulang.” Melihat Jiang Jin, Jiang Yan dengan gembira langsung memeluknya.
“Kenapa tiba-tiba pulang tanpa memberi kabar dulu? Kalau kakak tahu, pasti sudah mengutus orang untuk menjemputmu!” Jiang Jin meneliti adik perempuannya yang menjadi permata hatinya itu dari ujung kepala hingga kaki.
Jiang Yan tersenyum, “Sekarang daerah Lingyang dan sekitarnya sudah dikelola dengan baik, adik pun tak ada banyak urusan di sana. Lagi pula, mendiang kaisar memang pernah berkata begitu, saat aku genap delapan belas tahun, aku boleh kembali ke ibu kota. Jadi, aku pun pulang.”
“Kamu pergi delapan tahun lamanya. Walaupun kita sempat beberapa kali bertemu, kakak belum sempat benar-benar memanjakanmu. Kali ini kamu sudah pulang, kakak pasti akan menjagamu dengan baik,” ujar Jiang Jin sambil tersenyum.
“Baiklah, aku akan kembali ke kamar dulu. Malam ini aku tunggu masakan enak buatan kakak,” kata Jiang Yan dengan senyum nakal.
Jiang Jin hanya bisa mengusap kepala adiknya dengan penuh kasih sayang, tersenyum lembut, “Dasar kamu ini, isinya cuma makan saja. Baik, kamu istirahatlah dulu di kamar. Aku perintahkan para pelayan untuk menyiapkan pemandian untukmu. Setelah mandi dan berganti pakaian, biar kakak sendiri yang memasak makanan lezat untukmu.”
“Aku tahu, kakak memang paling sayang padaku,” jawab Jiang Yan sambil kembali memeluk Jiang Jin.
Memandang adik yang hanya terpaut setahun lebih muda darinya itu, hati Jiang Jin dipenuhi rasa sayang. Ia segera memanggil para pelayan dan memerintahkan mereka menyiapkan kamar untuk Jiang Yan.
“Kalau begitu, aku kembali ke kamar dulu,” kata Jiang Yan sambil melepaskan pelukan dan berlari menuju kamarnya dengan senyum ceria.
Ketika masuk ke dalam kamar, semua perabotan masih sama seperti yang ia kenal saat kecil. Para pelayan sudah menyiapkan bak mandi. Jiang Yan melepas pakaiannya dan melangkah masuk ke dalam air.
Mengingat pertemuan pertamanya dengan Li Mingsheng, ia tak bisa menahan senyum tipis. Benar-benar lelaki polos…
Menjelang senja, Jiang Yan datang ke ruang tengah. Melihat hidangan lezat di atas meja, ia menghirup napas dalam-dalam, menahan rasa lapar.
“Mengapa bengong, ayo makan,” panggil Jiang Jin.
Jiang Yan pun duduk, “Memang hanya kakak yang paling baik padaku.”
“Kamu tahu saja. Tapi nanti kalau kamu sudah menikah, entah suamimu bisa memperlakukanmu sebaik ini atau tidak!” gurau Jiang Jin.
Jiang Yan meletakkan sumpit di tangannya, “Kak, sebenarnya aku kembali kali ini karena ingin masuk istana.”
“Masuk istana? Untuk apa? Menghadap Yang Mulia?” Jiang Jin tampak bingung.
“Aku akan masuk istana… menjadi wanita Kaisar,” jawab Jiang Yan hati-hati.
“Kamu ingin jadi selir Kaisar? Kakak tak izinkan!” Jiang Jin membanting sumpitnya ke meja.
Jiang Yan menunduk, “Aku tahu kakak tak rela melihatku masuk istana dan menderita, takut aku berakhir seperti para selir lainnya. Tapi kakak, keluarga kita juga butuh seseorang di istana.”
“Ngaco saja kamu! Keluarga kita sudah turun-temurun menjadi pejabat, selalu menjadi tangan kanan Kaisar, mana perlu perempuan masuk istana demi menjaga hubungan?” hardik Jiang Jin.
“Sudahlah kak, aku sudah memutuskan. Tak perlu lagi menasihatiku. Jika aku tak bisa melakukan apa-apa untuk keluarga, aku tak layak menyandang nama keluarga ini,” sahut Jiang Yan dengan senyum tipis.
Jiang Jin bangkit dan berlalu pergi, “Kalau kamu masuk istana, jangan anggap aku kakakmu lagi.”
Jiang Yan menatap punggung kakaknya yang pergi dengan marah, lalu menghela napas pelan.