16 Membahas Strategi
Halaman (1/3)
Pada awalnya, semua orang hanya berpikir bahwa karena begitu banyak korban tewas dan terluka di dalam kota, persediaan obat-obatan pasti menipis. Tak seorang pun mengaitkannya dengan wabah.
Namun setelah Ning Zhu mengungkap kemungkinan itu, mereka pun seketika menyadari letak persoalannya. Udara di dalam tenda mendadak membeku dalam kesunyian, dan wajah semua orang berubah tegang.
Kata “wabah” saja sudah cukup membuat siapa pun bergidik. Dalam waktu yang sangat singkat, wabah dapat merenggut nyawa tak terhitung banyaknya.
Lebih dari tiga puluh tahun lalu, wabah pernah merebak di Jiangzhou, ribuan li jauhnya dari tempat ini. Dari kota yang berpenduduk lebih dari seratus ribu orang, hanya satu dari sepuluh yang selamat. Yang tersisa hanyalah rumah-rumah kosong, sementara sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah kehancuran.
Kala itu, seluruh negeri terguncang. Kengerian wabah tersebut bahkan hingga kini masih meninggalkan rasa gentar di hati orang-orang. Jika dipikir-pikir, keadaannya sungguh mirip dengan Kota Shezhou sekarang!
Ji Yuanwu mengerutkan kening rapat-rapat, lalu berkata, “Tong’er, ajak Rui Xuan dan Xiao He bermain di sebelah.”
Ia bermaksud menyuruh anak-anak menyingkir. Bagaimanapun, topik ini terlalu sensitif. Sedikit saja lengah, ucapan yang salah dapat mendatangkan petaka. Ia khawatir anak-anak tidak mampu menahan diri, sekaligus takut ada orang berniat buruk yang mendengar pembicaraan mereka.
Wajah kecil Ji Xintong memucat karena ketakutan mendengar kata “wabah”. Ia menggigit bibir erat-erat. Membayangkan apa yang akan terjadi pada keluarganya jika wabah benar-benar merebak, pikirannya langsung kacau. Bahkan ia tidak mendengar perintah ayahnya.
Bian Ruixuan sudah mengikuti Bian Jinghui bepergian ke banyak tempat dan cukup ditempa oleh pengalaman. Walaupun hatinya juga diliputi kepanikan, ia masih mampu menjaga ketenangan.
“Aku akan membawa mereka berdua berkeliling di sekitar sini.”
Setelah berkata demikian, ia bangkit, lalu dengan sukarela menggenggam tangan Ji Xintong. Ia kemudian membungkuk hendak meraih tangan Ning He.
Ning He agak takut pada orang asing. Secara naluriah ia menghindar, jari-jarinya mencengkeram lengan kakaknya erat-erat. Ia memalingkan wajah dengan ekspresi agak menolak.
Karena hendak membicarakan urusan penting, Ning Zhu tidak mungkin membiarkannya tetap berada di sisi mereka. Ia pun menempatkan anak anjing serigala di dekat kaki Ning He, lalu berkata dengan sungguh-sungguh,
“Pergilah. Bawa anjing kecil itu bermain, dan bantu Kakak mengawasi apakah ada orang jahat yang menguping.”
Mendengar perintah kakaknya, Ning He masih tampak enggan, tetapi tetap mengangguk. Ia melepaskan tangannya dan pergi bersama yang lain.
Ketiganya tidak berjalan jauh, hanya berputar-putar di sekitar tenda.
Ning He mengingat baik-baik tugas yang diberikan kakaknya. Matanya berbinar penuh kewaspadaan, tidak melewatkan satu pun sosok yang mencurigakan. Orang yang tidak tahu mungkin akan mengira ia sedang menangkap pencuri. Tatapannya bahkan membuat orang-orang yang lewat merasa merinding.
Sementara itu, Ning Zhu menarik kembali pandangannya dan menoleh untuk melanjutkan, “Hari ini aku melihat banyak jenazah di dalam kota. Paman Ji tahu bagaimana pemerintah akan menanganinya?”
“Jenazah yang dikenali keluarganya sudah dibawa pulang. Yang tidak ada seorang pun mengakuinya masih diletakkan di tanah lapang yang kaulihat tadi. Menurut para prajurit, semuanya akan dikuburkan bersama-sama.”
Mengingat keadaan yang dilihatnya siang tadi, wajah Ji Yuanwu tampak tidak sedap dipandang.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Masih ada beberapa hal yang tidak ia katakan.
Di tanah lapang itu, sebagian besar jenazah tak bernama adalah anggota keluarga yang seluruhnya tewas dan dikuburkan bersama. Setelah hujan deras semalam, suhu kembali meningkat dengan cepat. Banyak jenazah bahkan mulai membusuk hingga tak lagi berbentuk manusia, sementara gerombolan lalat beterbangan mengerumuninya.
Namun meskipun Ji Yuanwu tidak mengatakannya, Ning Zhu dapat membayangkan keadaan tersebut.
Cuaca yang hangat dan lembap, ditambah banyaknya jenazah korban yang belum segera dikuburkan dan ditangani, merupakan tempat berkembang biak sempurna bagi bakteri dan virus. Dalam hitungan hari, keduanya akan berkembang biak secara besar-besaran dan menjadi sumber penularan.
Saat ini, tempat yang benar-benar aman tidak banyak. Para pengungsi berkumpul dalam jumlah besar, sementara rakyat yang sengaja menjaga kebersihan hanya sedikit. Kotoran terlihat di mana-mana. Lingkungan seperti ini sangat mudah menyebabkan penyakit menular menyebar.
Di zaman ini, baik sumber daya maupun metode pengobatan sangatlah terbatas. Masuk angin biasa saja dapat merenggut nyawa seseorang, apalagi penyakit menular dalam skala besar. Harapan untuk bertahan hidup nyaris tidak ada.
Semakin dipikirkan, Ning Zhu semakin merasa ngeri.
Kesempatan untuk terlahir kembali yang akhirnya ia dapatkan dengan susah payah sangat ia hargai. Ia lebih menyayangi nyawanya daripada siapa pun dan sama sekali tidak akan menempatkan diri dalam bahaya sebesar ini!
Ning Zhu sebenarnya ingin membujuk pasangan keluarga Ji agar tidak pergi ke kota esok hari. Namun Bian Hanxiu sudah berjanji kepada bibi dari keluarga Bian, Cao Yufu, agar datang membantu menjaga anak-anak. Ia dan Ji Yuanwu sama-sama akan pergi ke kota untuk mencari kabar tentang Ji Xincheng.
Ning Zhu memahami bahwa mereka sangat ingin menemukan putra mereka dan ia juga tidak dapat mencegahnya. Karena itu, ia hanya berkata dengan suara berat, “Mencegah penyakit sebelum muncul, dan mencegahnya memburuk setelah terjangkit. Paman Ji dan Bibi Xiu, saat pergi ke kota besok, ingatlah untuk melindungi diri. Kalian bisa menjahit penutup wajah dari kain linen tipis, merebusnya dalam air mendidih, lalu menjemurnya hingga kering sebelum dikenakan. Jika menemukan jenazah yang membusuk, hindarilah sebisa mungkin. Sebelum pulang, lepaskan pakaian luar dan bakar. Selama berada di luar, jangan sekali-kali minum air mentah.”
Dalam keadaan seperti ini, secermat apa pun tetap tidak berlebihan.
Mendengar nasihat Ning Zhu, pasangan itu tidak banyak berpikir dan menurutinya dengan mengangguk.
Bian Jinghui mengamati semua itu dengan tatapan dingin. Ia semakin merasa bahwa anak tetangga adiknya ini sungguh berbeda dari yang lain.
Bahkan Xuan’er, putrinya yang biasanya pemberani, kini sudah ketakutan hingga kehilangan arah. Namun anak di hadapannya tetap tenang, bahkan mampu menganalisis keadaan yang mungkin terjadi dan mengingatkan mereka untuk mencegah wabah.
Tidak ada sedikit pun kepolosan khas anak-anak dalam dirinya. Jika tidak melihat penampilannya, orang sama sekali tidak akan menyangka bahwa ia baru berusia sepuluh tahun. Setiap gerak-geriknya memancarkan ketenangan yang membuat orang tanpa sadar ingin mendengar dan menaatinya.
Ia benar-benar berbeda.
Ning Zhu menyadari tatapan Bian Jinghui yang penuh pertimbangan, tetapi tidak terlalu memedulikannya. Ia hanya bertanya, “Paman Bian, apakah Anda bisa mendapatkan bahan makanan? Setelah gempa, lahan pertanian hancur. Kemungkinan besar panen akan gagal. Kita harus membuat persiapan sejak dini.”
Mendengar itu, Bian Jinghui menjawab dengan suara rendah dan ragu, “Shezhou tidak tergolong daerah miskin. Seharusnya persediaan di lumbung cukup untuk bertahan hingga pemerintah mengirimkan bantuan pangan. Lagi pula, Shezhou berbatasan dengan Bizhou, dan di sana bahan makanan tidak kekurangan...”
Bizhou terkenal sebagai wilayah subur penghasil ikan dan beras.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Ning Zhu mengangkat pandangan dan berkata datar, “Namun semua itu bergantung pada satu hal: wabah tidak merebak di Shezhou, bukan?”
Bian Jinghui seketika kehilangan kata-kata. Ia membuka mulut, tetapi tidak tahu bagaimana harus membantah.
Benar juga. Begitu muncul tanda-tanda penyakit menular di Kota Shezhou, bahkan pedagang yang paling rakus pun tidak akan berani datang dengan mudah, apalagi melakukan jual beli. Saat itu, sekalipun ada bahan makanan, tidak akan ada yang dapat mengangkutnya masuk.
Di dalam hati, masih ada beberapa pertanyaan yang belum Ning Zhu lontarkan: Jika wabah menyebar di Kota Shezhou, apakah pemerintah benar-benar akan turun tangan? Dan seberapa banyak yang mampu mereka lakukan?
Begitu wabah merebak, kemungkinan pemerintah mengirim bantuan bencana akan sangat kecil. Berdasarkan kejadian di Jiangzhou dahulu, mereka mungkin hanya akan menutup seluruh Kota Shezhou. Pada saat itu, semua orang akan terkurung di dalam kota tanpa air dan makanan. Mereka akan benar-benar berada dalam keadaan memanggil langit tanpa jawaban dan memohon bumi tanpa pertolongan.
Ning Zhu tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya diam-diam menghitung persediaan makanan di ruang bawah tanah. Jumlahnya cukup untuk menopang dirinya dan Ning He meninggalkan Shezhou, tetapi lebih dari itu tidak akan sanggup ia bawa.
Ya, ia sudah mulai berpikir untuk membawa Ning He melarikan diri.
Bagaimanapun, di rumah itu kini hanya tersisa mereka berdua. Ning He masih kecil, dan Ning Zhu sendirilah yang berhak memutuskan. Ia baru tinggal di Shezhou sedikit lebih dari setengah bulan, sehingga tidak memiliki ikatan kampung halaman yang berarti dan tidak merasa berat meninggalkannya. Jika hendak pergi, ia bisa segera berangkat.
Namun keluarga Bian dan keluarga Ji berbeda. Mereka tidak memiliki persediaan makanan, sementara jumlah anggota keluarga mereka banyak. Jika ingin pergi, mereka tidak akan mampu menempuh perjalanan jauh tanpa bekal yang memadai.
Memikirkan hal itu, jari-jari Ning Zhu perlahan mengusap liontin giok yang diberikan Zhang Deming kepadanya.
Jika Bian Jinghui tidak berhasil mendapatkan makanan, ia hanya bisa menggunakan liontin giok di tangannya. Keluarga Zhang adalah keluarga berada; mereka tentu telah menyiapkan jalan keluar bagi diri sendiri. Ia hanya perlu mencari cara membeli sejumlah makanan dari mereka untuk keluarga Ji.
Anggap saja itu sebagai balasan atas kebaikan mereka selama ini.
Kesunyian menyelimuti mereka cukup lama. Tiba-tiba Bian Hanxiu mengangkat kepala, matanya dipenuhi tekad.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan nada seolah telah mempertaruhkan segalanya, “Menurutku Xiao Zhu benar! Kita memang harus membuat persiapan sejak dini. Setelah menemukan Cheng’er, kita akan meninggalkan Kota Shezhou untuk sementara dan mengungsi. Lagi pula, rumah kita sudah runtuh dan sekarang pun kita tidak punya tempat untuk dituju. Selama surat tanahnya masih ada, setelah semuanya berlalu, kita bisa kembali. Kita hanya perlu memulai dari awal, tidak ada yang perlu ditakutkan.”
Ucapannya terdengar ringan, tetapi orang-orang pada zaman ini sangat menjunjung tinggi tanah kelahiran. Mereka yang mampu membulatkan tekad untuk pergi begitu saja tetaplah segelintir.
Bian Hanxiu tidak berani memikirkan apa yang harus mereka lakukan jika mereka tidak berhasil menemukan Ji Xincheng. Sekalipun ia dan suaminya tidak memedulikan keselamatan diri sendiri, mereka tetap harus memikirkan putri mereka.
Halaman (3/3)