Jilid Satu Bab 13: Wanita Teraniaya Sang Jenderal, Wei Jinghong!
Halaman (1/3)
Syu Sen sudah sejak awal menduga bahwa Lu Tao memiliki pelindung. Kalau tidak, dengan sifatnya yang seperti tuan muda manja dan berandalan, atas dasar apa ia bisa masuk ke Kementerian Kehakiman sebagai juru tulis?
Hanya saja, ia tak menyangka bahwa kedudukan sang pelindung Lu Tao ternyata serendah itu!
Sialan, baru pejabat peringkat sembilan tingkat utama sudah berani menindasku?
Mau bermain-main dengan kekuasaan, mengandalkan jabatan yang setengah tingkat lebih tinggi untuk menekan orang?
Tidak tahu bahwa kakakku seorang pejabat peringkat enam tingkat utama?
Tidak tahu bahwa mertuaku adalah mantan perdana menteri peringkat satu tingkat utama?!
Lagipula, pamanmu hanyalah pejabat pemeriksa, yang bertugas memeriksa berkas perkara. Hubungannya dengan pejabat penjara sepertiku bahkan tak ada sedikit pun. Untuk apa berlagak hebat di sini!
Karena itu, Syu Sen sama sekali tak menahan diri. Pukulan demi pukulan dilayangkannya tanpa ampun, sampai suara jeritan Lu Tao terdengar menggema dan menguasai seluruh penjara wanita!
Para narapidana wanita yang sebelumnya masih menangis tersedu-sedu semuanya tercengang menyaksikan pemandangan itu. Mereka memandang Syu Sen satu demi satu, seolah-olah sedang melihat Raja Yama yang hidup!
Bagaimanapun juga, bahkan saat menghajar bola daging sapi pun orang tak akan memukul sekejam itu. Lu Tao benar-benar dipukuli sampai wajahnya hampir membengkak menjadi kepala babi!
Semula, Syu Sen cukup puas melihat hasilnya. Ia merasa bahwa rencananya untuk membunuh ayam demi menakuti monyet telah berhasil.
Namun, para narapidana wanita itu hanya menjadi sedikit lebih tenang. Tak lama kemudian, salah seorang dari mereka berseru, “Jangan gunakan cara seperti itu untuk menakut-nakuti kami! Kami tidak takut mati! Kalau kau mampu, bunuh saja kami sekalian! Bagaimanapun juga, hidup seperti ini tak lebih baik daripada mati!”
Mendengar itu, Syu Sen menoleh. Narapidana wanita yang berbicara tersebut sedang bersandar di sisi dinding penjara yang lembap dan suram. Ia memiliki rambut pendek yang rapi. Cahaya lilin kekuningan menerangi wajahnya yang berkarakter tegas—alisnya yang gagah menukik ke arah pelipis, matanya membara dengan api yang tak mau padam, sementara sudut bibirnya berkerak darah, tetapi masih menyunggingkan senyum angkuh. Kedua tangannya yang bertulang tegas diletakkan di atas lutut. Rantai besi membebani pergelangan tangannya, tetapi telapak tangannya masih menyimpan kapalan tebal akibat bertahun-tahun menggenggam pedang.
Berbeda dari para narapidana wanita lain yang lemah lembut, perempuan ini justru memancarkan aura gagah dan perkasa!
“Perempuan yang begitu berwibawa. Jangan-jangan dia seorang jenderal wanita?” Syu Sen memandang perempuan itu dan tak kuasa memujinya dalam hati. Ia memiliki sikap yang gagah luar biasa serta paras yang tampan dan tegas, menghadirkan pesona yang begitu unik.
“Kau menyimpan kemarahan di dalam hati?” Syu Sen berjalan mendekat dan bertanya kepada narapidana wanita yang gagah itu.
“Siapa yang tidak marah setelah dipenjarakan di tempat seperti ini?” balas perempuan itu dengan sinis.
“Baik! Kalau begitu, pejabat ini akan memberimu kesempatan untuk melampiaskannya! Kau pukul dia! Anggap dia sebagai musuhmu, lalu lampiaskan seluruh kemarahanmu kepadanya!”
Syu Sen segera mendapatkan ide bagus lainnya. Ia akan menjadikan Lu Tao samsak tinju bersama bagi semua orang. Siapa pun yang marah boleh melampiaskannya kepada Lu Tao. Dengan begitu, mereka tidak akan terus mencari kematian, bukan?
Mendengar hal itu, seorang sipir hendak mencegah Syu Sen dan memberitahunya bahwa tindakan tersebut tidak sesuai aturan. Namun, Ma Han yang berada di sampingnya segera menariknya pergi dan menegurnya dengan suara rendah, “Pejabat itu sedang melakukan tugasnya. Untuk apa kau ikut campur begitu banyak? Sebagai sipir, kita cukup mematuhi perintah!”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Namun, narapidana wanita yang gagah itu ternyata sangat berprinsip. Ia berkata, “Aku tidak pernah memukul orang yang tidak bersalah.”
Mendengar itu, Syu Sen segera mengarang tuduhan untuk Lu Tao. “Nona, kau tidak tahu. Orang ini sangat keji. Dia adalah predator wanita yang bahkan tidak membiarkan nenek berusia delapan puluh tahun maupun gadis kecil berusia enam tahun. Karena itulah pejabat ini menghukumnya seperti ini!”
Mata Lu Tao langsung membelalak. Dalam hati ia mengutuk betapa jahatnya Syu Sen, karena tega menuduhnya dengan kejahatan sekeji itu! Ia buru-buru hendak menjelaskan, tetapi mulutnya disumpal kaus kaki busuk milik Syu Sen, sehingga ia hanya mampu mengeluarkan suara, “Mmm! Mmm! Mmm...!”
“Lihat, dia begitu bersemangat karena melihat kecantikanmu. Dia bahkan ingin melecehkanmu. Tatapannya saja sudah penuh nafsu!” Syu Sen membantu menjelaskan keadaan Lu Tao.
Narapidana wanita yang gagah itu melirik Lu Tao. Melihat bahwa wajahnya memang tampak cabul dan menjijikkan, ia pun langsung memercayai perkataan Syu Sen!
Ia segera menjawab dengan marah, “Kurang ajar! Ternyata dia memang bajingan cabul! Orang seperti ini pantas mati! Lihat saja bagaimana aku akan memberinya pelajaran!”
Setelah berkata demikian, Syu Sen membukakan pintu sel untuknya. Perempuan itu langsung menerjang keluar dan melancarkan serangkaian jurus yang mengalir tanpa cela ke arah Lu Tao!
“Teknik Memisahkan Urat dan Meretakkan Tulang!”
Krak! Krak! Krak! Krak!
Begitu bergerak, perempuan gagah itu langsung menunjukkan keahlian seorang ahli bela diri. Dalam sekejap, kedua tangan Lu Tao dipelintir hingga terlepas dari sendinya, sementara kedua kakinya dipatahkan begitu saja!
“Aaah...!” Lu Tao meringis kesakitan. Keringat sebesar kacang kedelai mengucur deras seperti air terjun. Tak lama kemudian, ia langsung pingsan karena tak tahan menanggung rasa sakit.
“Nona memiliki ilmu bela diri yang hebat. Bolehkah aku tahu asal-usulmu?” tanya Syu Sen, tak kuasa menahan kekaguman melihat gerakannya yang begitu garang.
“Aku Wei Jinghong, putri Jenderal Penjaga Perbatasan Wei Huo!” jawab perempuan gagah itu dengan angkuh. Sejak kecil ia tumbuh di lingkungan militer dan mempelajari ilmu bela diri yang luar biasa. Tiga atau lima lelaki biasa sama sekali tak akan mampu mendekatinya.
“Wei Huo? Nama itu terdengar agak akrab. Ah, benar! Bukankah kau memiliki seorang paman bernama Wei Qing?” Syu Sen menepuk dahinya ketika akhirnya teringat. Wei Qing adalah orang dari keluarga yang berjasa besar hingga membuat kaisar merasa terancam, lalu seluruh keluarganya ditangkap.
“Bagaimana kau tahu?” Wei Jinghong tertegun mendengar pertanyaannya.
“Dia ditahan di penjara nomor dua. Sebelumnya, penjara itu dilanda wabah. Aku yang menyelamatkannya,” jawab Syu Sen sambil tersenyum.
“Kau bisa mengobati wabah?” Wei Jinghong memandang Syu Sen dengan penuh keraguan. Ia sama sekali tidak percaya.
“Ini surat ucapan terima kasih yang ditulis sendiri oleh pamanmu untukku.” Syu Sen mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya.
Wei Jinghong menerima surat itu lalu membacanya. Semakin lama membaca, wajahnya semakin bersemangat. Ia mengepalkan tangan di depan dada dan membungkuk hormat kepada Syu Sen. “Ini memang tulisan tangan paman! Terima kasih, Pejabat, karena telah menyelamatkan paman!”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Tak perlu berterima kasih. Karena aku telah berjasa kepada pamanmu, mulai sekarang maukah kau lebih mematuhi perintahku selama berada di penjara ini?” kata Syu Sen memanfaatkan kesempatan.
Ia tak menyangka bisa bertemu orang yang dikenalnya di tempat seperti ini. Kesempatan tersebut harus digunakan untuk menundukkan perempuan pembangkang ini!
Setelah perempuan pembangkang ini berhasil dikendalikan, para narapidana wanita lainnya pasti akan jauh lebih mudah diatur.
“Ini... baiklah. Namun, jika yang diperintahkan bertentangan dengan hati nurani, aku tidak akan mematuhinya!” Setelah mendengar itu, Wei Jinghong merasa sulit menolak dan akhirnya menyetujuinya.
Setelah berhasil menaklukkan satu orang, Syu Sen kembali berseru kepada seluruh narapidana wanita, “Kalian juga jangan terus-menerus menangis! Kalian menangis dari pagi hingga malam, lalu dari malam hingga pagi. Apa yang bisa berubah? Kalian hanya akan menyiksa tubuh sendiri tanpa hasil. Sekarang pejabat ini berbaik hati memberi kalian kesempatan. Siapa pun yang menyimpan ketidakpuasan di dalam hati, silakan maju dan pukul bajingan cabul ini beberapa kali untuk melampiaskan amarah! Anggap dia sebagai musuh kalian! Hanya dengan begitu kebencian di hati kalian dapat terlampiaskan!”
Namun, para narapidana wanita itu tidak seperti Wei Jinghong yang sejak kecil berlatih bela diri. Sebagian besar dari mereka adalah putri keluarga terpandang yang bahkan jarang keluar rumah. Belum lagi memukul lelaki, sekadar memandang lelaki beberapa kali saja sudah cukup membuat mereka tersipu.
Karena itu, meskipun hati mereka mulai tergerak, saat itu mereka hanya bergumam ragu dan tak berani mengangkat tangan.
Pada akhirnya, Wei Jinghong angkat bicara, “Saudari-saudariku, bajingan cabul seperti ini pantas mati seribu kali. Anggap saja dia musuh kita dan beri dia pelajaran dengan sepuas hati! Kalau terus memendam amarah, kita benar-benar bisa jatuh sakit!”
Mendengar perkataannya, akhirnya seorang narapidana wanita berseru dengan suara takut-takut, “Aku... aku ingin mencobanya!”
“Baik! Kau maju!” Syu Sen segera menyuruh orang membukakan pintu sel.
Narapidana wanita yang tampak lembut itu berjalan ke hadapan Lu Tao. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah dan ia meraung, “Aaaah! Anjing kasim terkutuk, atas dasar apa kau membunuh suamiku?! Atas dasar apa kau membunuh suamiku?! Akan kuhajar kau sampai mati! Mati kau!!!”
Setelah itu, ia menerjang Lu Tao dan menendangnya dengan kalap. Tendangannya hampir membuat Lu Tao yang sedang pingsan itu terbangun lagi karena rasa sakit yang luar biasa!
Plak! Plak! Plak! Plak!
Narapidana wanita itu tampak lemah lembut, tetapi ketika menendang orang, gerakannya bagaikan badai yang menghantam rumpun pisang—cepat dan bertubi-tubi!
Setelah puas menghajarnya, ia kembali menjadi perempuan yang lembut dan manis. Dengan kedua pipi memerah, ia berkata kepada Syu Sen, “Terima kasih, Pejabat. Aku merasa jauh lebih lega.”
“Baiklah. Kalau begitu, jangan lagi mencoba bunuh diri nanti,” ujar Syu Sen sambil tersenyum.
“Baik,” jawab narapidana wanita itu sambil mengangguk.
Setelah ada yang memulai, para narapidana wanita lainnya pun ikut berseru, “Aku juga mau! Aku juga mau!”
Syu Sen kemudian maju dan memeriksa napas Lu Tao. Setelah memastikan bahwa lelaki itu masih bernapas dengan kuat, ia berseru dengan lapang hati, “Baik! Semua kebagian! Siapa pun boleh melampiaskan amarah! Tetapi setelah selesai, kalian semua harus kembali tenang dan tidak membuat keributan lagi!”