Bab Seratus Lima Puluh: Pembalikan Kutub

Kembali ke Tahun 1995 Tunas Berduri Tua 2510kata 2026-03-30 11:20:36

"Menghancurkan standar tunggal, itulah standar Xilan." Zhao Zichuan berkata tanpa sungkan, dengan nada yang sangat agresif.

Bukan hanya ditujukan kepada Hou Qinghan... Sebenarnya, Zhao Zichuan sangat membenci 'aturan yang telah ditetapkan', ibarat orang lain memegang penggaris dan mengukur dirinya.

Di era kemakmuran, hanya boleh ada satu suara?

Sialan, pada masa-masa kejayaan, pada era Renaisans... zaman manakah yang pemikirannya sangat bebas dan hanya memperbolehkan satu suara!

Zhao Zichuan mencemooh standar.

Dia bahkan lebih mencemooh para pesuruh tanpa pemikiran yang telah dicuci otaknya dan diracuni di bawah standar tersebut!

Ia langsung berkata, "Aku pernah menjadi korban racun standar... Oleh karena itu, aku ingin membalas dendam kepada mereka yang menetapkan standar."

*Pft.*

Hou Jixiang tidak dapat menahan diri dan tertawa.

Tawannya itu membuat suasana langsung mencair... Duduk di samping Hou Jixiang, seorang pemuda yang ingin merangkul pinggangnya namun tidak berani melakukannya.

Di matanya tersirat sedikit keangkuhan, dan ia menyindir, "Orang dari daerah kecil memang picik... Pola pikir gaya Dajia membatasi pandangan."

"Standar tunggal, seperti kebenaran tunggal, adalah sebuah aturan."

"Di bawah aturan itu..."

"Persetan denganmu," caci Zhao Zichuan langsung.

Ia bersikap ramah kepada Hou Jixiang karena... waktunya belum tepat, dan ia belum mampu memulai perang tanpa menanggung kerugian.

*Pft.*

Hou Jixiang tertawa lagi, tampak begitu gembira.

Tawanya itu bagaikan sebatang korek api di tengah tumpukan minyak tanah, yang seketika menyulut amarah sang pemuda... Pemuda itu menatap dengan tatapan tidak bersahabat, "Ulangi apa yang baru saja kaukatakan."

Yang lain melihat situasi itu dan langsungmencoba melerai, dengan nada sinis yang begitu tajam hingga pantas bermain dalam drama istana.

"Orang dusun memang seperti itu, tidak punya etika... Jangan disamakan dengan dia."

"Huft, cepat minta maaf kepada Tuan Muda Cheng."

Zhao Zichuan menggaruk kepalanya, melirik sekilas ke arah Hou Jixiang, "Jika kau hanya menjadi penonton, urusan hari ini pasti tidak akan bisa diselesaikan dengan baik."

"Baru tahu rasa takut dan memohon ampun?" Pria yang dipanggil Tuan Muda Cheng itu menyunggingkan senyum meremehkan di sudut bibirnya.

Pemuda itu begitu sombong dan tidak percaya sedikit pun... bahwa Hou Jixiang akan memihak Zhao Zichuan.

Hou Jixiang mencibir kecil, "Sama sekali tidak seru."

Ia bangkit berdiri, lalu melayangkan tamparan ke wajah Tuan Muda Cheng, "Bahkan ayahku pun tidak dipandangnya sebelah mata... Meminta ampun kepadamu?"

"Apa kau layak?"

Tuan Muda Cheng terkejut dan ketakutan bukan main, "I-Ini, Jixiang, apa maksudmu?"

"Maksudnya, menyuruhmu diam!" Hou Jixiang menikmati kesenangan mempermainkan orang, tetapi begitu pertunjukan baru dimulai sudah dikacaukan, hatinya merasa sangat tidak senang.

Dan yang paling tidak senang... adalah Liang Sheng.

Liang Sheng gemetar ketakutan, dengan hati-hati bergeser mendekati Zhao Zichuan, "Di-Direktur Zhao... Saya memiliki mata tetapi tidak mengenali Gunung Tai, An-Anda mohon jangan dimasukkan ke dalam hati."

"Tidak," jawab Zhao Zichuan sambil tersenyum, lalu mengangkat gelas winenya.

Ia menunjuk ke arah Hou Jixiang dan berkata dengan tenang, "Aku memang sedang dikelilingi masalah dan tidak berani bertindak gegabah... Ancamanmu itu sangat masuk akal."

*Bruk.*

Liang Sheng sebenarnya tidak berniat berlutut, tetapi kakinya lemas hingga ia jatuh berlutut di lantai, "Ini bukan ancaman, hanya... sekadar mencari keuntungan."

"Saya ini..."

"Pergilah." Begitu melihatnya, Hou Jixiang merasa seluruh pertunjukan telah usai.

Dengan ekspresi tidak senang, ia mengusir Liang Sheng... lalu menoleh kepada Zhao Zichuan, "Meskipun sebenarnya tidak perlu... tapi aku tetap ingin memberikan satu penjelasan."

"Aku adalah aku, ayahku adalah ayahnya."

"Aku datang ke Kabupaten Fuchun... Pertama untuk melihatmu, kedua, aku menginginkan jalur VCD itu."

"Bukan begitu, kan?" Zhao Zichuan langsung memotong dan membongkar maksudnya.

Menatap gadis dengan alis bak daun willow yang melengkung itu, ia tersenyum, "Jika bukan karena kau diatur oleh Hou Qinghan... maka kedatanganmu pasti untuk membuktikan sesuatu."

"Hm?" Hou Jixiang mengeluarkan suara penuh tanya.

Zhao Zichuan langsung menebak kebenarannya, "Kau merasa aku tidak layak... Hal yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh lulusan Columbia, kenapa seorang rakyat jelata bernama Zhao Zichuan bisa melakukannya."

"Makanya, begitu bertemu kau langsung bertanya kepadaku tentang arti keindahan."

"Mungkin bukan disengaja... melainkan sebuah insting, kau ingin memamerkan kehebatanmu."

"Hal itu wajar."

"Gadis muda dan anak muda, di dalam hatinya selalu terpancar keangkuhan seolah-olah dirinyalah yang paling hebat di dunia."

Hou Jixiang ingin sekali memuntahkan minumannya ke wajah Zhao Zichuan... Hanya dengan beberapa patah kata, pria itu menempatkannya di kelompok anak-anak kecil.

Namun, ia hanya tersenyum tipis, "Memang benar, di dalam seminar-seminar kampus dan lingkaran ventura kapital barat... kau adalah sebuah kasus yang sering dibahas."

"Kebanyakan orang berpendapat bahwa kau adalah anjing peliharaan Monet, sebuah paku yang ditancapkan Monet di tanah Dajia."

"Namun... ayahku tidak berpikiran seperti itu."

"Aku hanya merasa penasaran, itu saja."

Zhao Zichuan meneguk birnya sejenak sambil merenung...

Anak orang miskin, anak orang kaya... diakui atau tidak, keduanya memang berbeda.

Bahkan para pemuda kaya yang gemar berfoya-foya... mereka sejak lahir tidak pernah terkekang oleh 'uang', memilih hobi, mengejar impian, dan dengan mudah membaur ke dalam lingkaran yang tidak akan pernah bisa dimasuki oleh 'orang biasa' seumur hidup mereka.

Wawasan, pola pikir, ditambah dengan pergaulan sosial yang diserap sejak kecil.

Mereka memang lebih mudah meraih kesuksesan.

Dan Hou Jixiang, adalah seorang anak orang kaya yang mau berusaha.

Ini adalah sebuah paku.

Setelah berpikir matang-matang, Zhao Zichuan berkata, "Saluran distribusi VCD, aku bisa melepaskannya... Aku bahkan bisa membantumu menghubungkan dengan Monet dan Jiang Wanhun."

"Namun pabriknya, harus tetap berada di Kabupaten Fuchun."

"Baik." Keduanya adalah para pengambil keputusan, negosiasi sama sekali tidak bertele-tele.

Setelah Hou Jixiang mengetuk palu kesepakatan, ia pun mengutarakan keraguannya, "Ruang pasar VCD sangat besar, kenapa kau begitu mudah menyerahkannya kepadaku?"

"Hubungan kita... kau seharusnya tidak bersikap begitu dermawan kepadaku."

Zhao Zichuan menggelengkan kepala sambil tersenyum, "Kecelakaan dan keberuntungan saling berkaitan... Menyerahkannya kepadamu, ada keuntungan bagiku."

Jawaban yang penuh teka-teki itu membuat Hou Jixiang lebih memperhitungkannya dalam hati.

Tentu saja ia tidak akan membiarkan penilaian pribadinya terpengaruh oleh sepihak perkataan... Namun melihat Zhao Zichuan enggan menjelaskan lebih lanjut, ia pun tidak mendesaknya lagi.

Hou Jixiang kembali melanjutkan topik pembicaraan sebelumnya, bertanya, "Aku juga penasaran, bukankah standar itu hal yang bagus?"

Standar kapital adalah sebuah belenggu.

Belum lagi membahas sepatu kuda yang jelek dan busana bergaya binatang buas... kita ambil contoh dalam hal perekrutan tenaga kerja, mereka menggunakan metode 'memotong pucuk rumput', terus-menerus mematok harga secara paksa bagi 'manusia'.

Usia 18-28 tahun masih mudah mencari pekerjaan.

Melewati usia 35 tahun, langsung dicap sebagai 'tidak berguna'.

Tidak boleh hamil.

Tidak boleh menikah.

Dan hal-hal semacam itu.

Mereka memang memiliki hak untuk memilih karyawan sesuai kebutuhan... itu tidak salah.

Sialnya, begitu sebuah standar terbentuk... kaum modal memegang kendali penuh atas hidup dan mati, menunjukkan kekuasaan mutlak sebagai penguasa, dengan semena-mena melakukan seleksi alam buatan.

Hukum alam memang benar.

Namun, hukum kelangsungan hidup yang dikendalikan oleh manusia... bagaikan pemilik peternakan anjing yang memelihara sekumpulan anjing, hanya untuk dimanfaatkan tanpa ada rasa hormat sama sekali.

Kata-kata ini tidak pantas diucapkan oleh Zhao Zichuan.

Ia hanya tersenyum tipis, mengangkat botol birnya, "Mari minum... Jika suatu hari nanti aku sudah tidak lagi dipersulit oleh ayahmu, kita bicarakan lagi."

Hou Jixiang tersenyum tipis, "Kerja sama yang menyenangkan."

"Tidak perlu diantar."

Pengusiran secara halus itu tampak agak kurang sopan.

Zhao Zichuan tetap tidak mengatakan sepatah kata pun, lalu bangkit dan beranjak pergi.

Di ambang pintu, Liang Sheng terus-menerus menunggu. Begitu melihat Zhao Zichuan keluar, ia langsung berlari menyusul dengan panik, "Direktur Zhao, berikan saya satu kesempatan lagi."

"Bisa ya?"

Liang Sheng begitu cemas dan ketakutan hingga air matanya nyaris tumpah, "Saya mohon, ya!"