Bab 15: Pertarungan Kacau
Halaman (1/3)
Di tengah riuhnya perbincangan semua orang, pintu kelas tiba-tiba ditendang hingga terbuka.
“Brak!”
Suara keras itu memutus pembicaraan mereka. Melihat pintu yang terlempar akibat tendangan, semua orang serempak menoleh ke arah pintu.
“Dasar Qian!”
Wang Feng menendang pintu kelas Satu hingga terbuka lebar, lalu berteriak, “Keluar kau!”
Benar-benar seperti pepatah bahwa siapa yang baru saja dibicarakan akan segera muncul. Baru saja nama Wang Feng disebut-sebut, orangnya sudah datang.
“Siapa rupanya? Ternyata Wang Feng dari kelas Tiga.” Mendengar keributan itu, Qian Long mengangkat kepala dan menatap Wang Feng. “Ada urusan?”
Jadi, dia Wang Feng? Mendengar ucapan Qian Long, Sun Hu tak kuasa memperhatikannya lebih saksama.
“Aku hanya ingin penjelasan.” Wang Feng melangkah maju hingga wajahnya hampir menempel pada wajah Qian Long. Ia menatap lawannya dengan murka. “Sun Hu yang lebih dulu mencari gara-gara. Minta maaf!”
Qian Long mengorek telinganya. Wajahnya penuh penghinaan, sementara nada suaranya terdengar meremehkan. “Siapa yang tinjunya lebih keras, dialah yang berkuasa!”
Melihat wajah Qian Long yang congkak, Wang Feng mengepalkan tangan erat-erat. Dengan marah ia berkata, “Kalau begitu, mari kita lihat siapa di antara kita yang tinjunya lebih keras!”
Para siswa lain dari kelas Satu pun ikut menoleh ke arah pintu.
“Wah, bukankah ini para pecundang dari kelas Tiga? Berani datang membuat keributan di kelas kami. Kalian benar-benar sudah bosan hidup!”
Sun Hu membuang sampah di tangannya ke tempat sampah, lalu menatap orang-orang dari kelas Tiga. “Tempat daur ulang sampah ada di lantai bawah. Silakan pergi, kami tidak akan mengantar!”
“Kelas pecundang dengan guru pecundang. Benar-benar pecundang sampai ke akar-akarnya.”
Kelas Satu pun langsung dipenuhi gelak tawa.
Mendengar berbagai hinaan yang dilontarkan kelas Satu, Wang Meng tak tahan lagi. Ia menarik Wang Feng dan menerjang ke depan, menunjuk orang-orang kelas Satu. “Kalianlah yang sudah keterlaluan!”
“Keterlaluan?” Qian Long tertawa terbahak-bahak dengan berlebihan. “Kalian para pecundang yang hanya tahu mencari masalah dan membuat kekacauan juga pantas berbicara tentang penindasan?”
Melihat wajah congkak mereka, napas para siswa kelas Tiga menjadi semakin berat. Amarah menjalar seperti gelombang pasang.
“Minta maaf!” Wang Feng kembali melangkah maju. Ia menatap mata Qian Long dan berkata tegas, kata demi kata, “Aku ingin kalian meminta maaf kepada Shen Li dan kepada seluruh kelas Tiga!”
Melihat Wang Feng yang terus mendesak, Qian Long sempat tertegun. Namun, sesaat kemudian ia tertawa semakin liar. “Enyahlah!”
Satu kata itu menjadi pemantik yang sepenuhnya membakar amarah para siswa kelas Tiga.
Tanpa berkata apa-apa, Wang Meng meraung dan langsung menerjang. Tinjuya melesat menuju wajah Qian Long.
Qian Long memiringkan tubuh untuk menghindar, lalu menghantam perut Wang Meng dengan tinju. Wang Meng mengerang tertahan dan berlutut di lantai.
“Hajar!”
Entah siapa yang meneriakkannya, para siswa dari kedua kelas seketika terlibat perkelahian besar.
Ruang kelas berubah kacau. Suara meja dan kursi yang terbalik, benturan tinju dan kaki, teriakan marah, serta erangan kesakitan bercampur menjadi satu.
Di tengah kekacauan, Wang Feng melihat Ren Tingting ditahan di lantai oleh dua siswi kelas Satu. Ia segera menerjang dan menarik kedua siswi itu menjauh.
“Pergi!”
Energi sejati bergolak dalam tubuh Wang Feng. Dengan sebuah bentakan keras, ia mengguncang kedua siswi itu hingga terlempar.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Pada saat itulah Qian Long menyeringai dan menyerang Wang Feng. “Apa hebatnya memukul perempuan? Biar aku yang melayanimu!”
Keduanya segera terlibat bentrokan sengit.
Pukulan Qian Long begitu dahsyat. Setiap jurus dan gerakannya disertai suara siulan yang membelah udara.
Wang Feng memanfaatkan kelincahan tubuhnya untuk menghindar, sambil menunggu kesempatan melakukan serangan balik.
“Buk!”
Wang Feng memanfaatkan celah ketika Qian Long melancarkan pukulan. Ia menghantam rusuk lawannya dengan sikutan.
Qian Long mengerang tertahan dan buru-buru mundur beberapa langkah. Wajahnya berubah muram. Ia meraung, “Kau mencari mati!”
Saat Qian Long bersiap maju kembali, hawa dingin tiba-tiba menyelimuti seluruh ruang kelas. Semua orang yang sedang bertarung seolah-olah dipaksa menekan tombol jeda dan berhenti bergerak.
“Sudah cukup belum keributan kalian!”
Wang Feng menoleh dan mendapati pintu belakang kelas didorong terbuka. Seorang pemuda tampan berdiri di ambang pintu.
Jubah putih bergaya cendekia yang dikenakannya membingkai tubuhnya yang tinggi dan ramping. Di bawah rambut hitamnya, sepasang mata sedalam telaga beku menyapu seluruh ruangan.
“Ketua kelas!”
Para siswa kelas Satu segera menyingkir, membuka jalan. Wajah mereka dipenuhi rasa gentar dan hormat.
Zhao Yin, ketua kelas Satu, adalah jenius nomor satu yang diakui seluruh angkatan!
Konon, pada usia delapan tahun ia sudah mampu memancarkan energi sejati dari tubuhnya. Saat berusia sepuluh tahun, ia telah menguasai tiga teknik bela diri tingkat tinggi. Ia juga merupakan murid yang menjadi fokus utama pembinaan sekolah.
Zhao Yin berjalan perlahan dari belakang, matanya menyapu ruang kelas yang porak-poranda, lalu berhenti pada Wang Feng. “Anak kelas Tiga, siapa yang memberi kalian keberanian untuk membuat keributan di sini?!”
Wang Feng seketika merasakan hawa dingin menyelimuti seluruh tubuhnya, menekannya hingga hampir membungkuk.
Namun, ia tetap teguh dan pantang menyerah. Sambil menggertakkan gigi, ia meluruskan punggungnya. “Sun Hu dari kelas kalianlah yang lebih dulu memukul Su Hai dari kelas kami.”
Zhao Yin mengeluarkan suara pendek tanda mengerti, lalu menoleh kepada Sun Hu. “Benarkah?”
Sun Hu menelan ludah dengan susah payah. Dengan perasaan bersalah, ia menundukkan kepala dan menjawab dengan suara lirih, “Aku juga ditusuk.”
“Hm?”
Kening Zhao Yin sedikit berkerut. Ia menatap Qian Long dengan tidak senang.
Qian Long segera melangkah maju. “Dia hanya sedang memberi pelajaran kepada orang yang tidak tahu diri...”
Zhao Yin mengangguk, lalu kembali menatap Wang Feng. “Sekalipun begitu, itu tetap bukan alasan bagi kalian untuk datang dan bertindak semaunya di kelas Satu!”
Zhao Yin mengangkat tangan kanannya. Energi sejati bergolak di telapak tangannya, lalu perlahan berkumpul menjadi energi biru pucat yang dapat terlihat dengan mata telanjang.
“Sekarang, enyahlah!”
Wang Feng belum pernah merasa semarah dan setertekan ini. Namun, ia pernah mendengar nama Zhao Yin dan tahu bahwa dirinya bukan tandingan pemuda itu.
Saat Wang Feng masih bimbang, Wang Meng bangkit dari lantai dan berteriak, “Atas dasar apa?!”
Tatapan Zhao Yin mendadak membeku. Energi sejati di tangannya berubah menjadi gelombang udara yang melesat ke arah Wang Meng.
Wang Feng segera bergerak dan berdiri di depan Wang Meng, menyilangkan kedua lengannya untuk menahan serangan itu.
“Buk!”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Wang Feng terdorong mundur beberapa langkah. Ia bahkan menabrak dan membalikkan beberapa meja sebelum akhirnya mampu menjaga keseimbangan. Kedua lengannya terasa nyeri dan terbakar.
“Wang Feng!”
Para siswa kelas Tiga menjerit kaget.
Alis Zhao Yin terangkat sedikit. “Oh? Kau mampu menahan satu jurusku. Lumayan.”
Ia berjalan perlahan ke arah Wang Feng. “Tapi—sampai di sini saja.”
“Anak-anak kelas Tiga, serang bersama!”
Wang Feng meraung dan menjadi orang pertama yang menerjang Zhao Yin.
Perkelahian kembali pecah. Namun, dengan bergabungnya Zhao Yin, keadaan yang semula seimbang langsung berubah menjadi kemenangan sepihak.
Ia bergerak menembus kerumunan yang kacau seperti hantu. Setiap kali mengayunkan tangan, seorang siswa kelas Tiga pasti tumbang.
Melihat satu demi satu teman sekelasnya jatuh, api kemarahan di hati Wang Feng semakin berkobar.
“Cukup!”
Wang Feng meraung dan menerjang Zhao Yin tanpa memedulikan apa pun.
Keduanya bertukar serangan dengan cepat di dalam kelas. Benturan tinju dan kaki menimbulkan suara berat yang menggema.
Sebuah energi misterius mengalir keluar dari pusat energinya. Wang Feng merasa dirinya memasuki suatu keadaan yang luar biasa. Ia mampu menangkap setiap gerakan Zhao Yin dengan sangat tajam.
“Boom!”
Setelah kembali beradu kekuatan dengan segenap tenaga, keduanya mundur masing-masing.
Lengan jubah Zhao Yin terkoyak, sementara setetes darah mengalir dari sudut bibir Wang Feng.
Zhao Yin menatap lengan jubahnya yang robek. Tatapan tak percaya melintas di matanya. “Kau... ternyata mampu melukaiku?”
Melihat jubah Zhao Yin terkoyak, Qian Long dan Sun Hu saling bertukar pandang, lalu melancarkan serangan diam-diam dari belakang Wang Feng.
“Kak, awas!”
Wang Meng yang sedang dikepung tiga siswa kelas Satu tak sempat melepaskan diri. Ia hanya bisa berteriak memperingatkan.
Sebelum Wang Feng sempat bergerak, Zhao Yin juga menyerang dari depan.
“Buk! Gedebuk!”
Wang Feng terpental dan menghantam dinding kelas dengan keras. Seluruh ruangan seakan bergetar akibat benturan itu.
Zhao Yin berjalan perlahan menghampiri Wang Feng yang terbaring di lantai. Kilatan kekejaman melintas di matanya. Ia hendak menginjak pusat energi di perut Wang Feng—
Tepat pada saat itu, alarm sekolah berbunyi. Sesaat kemudian, raungan wakil kepala bidang kesiswaan, Gao Qiu, terdengar dari lorong.
“Berhenti semuanya!”
Zhao Yin menatap Wang Feng dalam-dalam, lalu berkata dengan suara rendah, “Menarik. Kita akan bertemu lagi.”
Setelah itu, ia berbalik dan kembali ke barisan kelas Satu.
Wakil kepala bidang kesiswaan masuk bersama beberapa guru. Melihat ruang kelas yang porak-poranda serta para siswa yang bergelimpangan sambil mengerang kesakitan, urat-urat di dahinya menonjol dan wajahnya berubah kelam.
“Semua siswa yang terlibat perkelahian, segera melapor ke ruang kesiswaan!”
Beberapa guru yang datang bersamanya buru-buru memasuki kelas dan mulai membalut serta merawat para siswa yang terluka.
Halaman (3/3)