Bab Dua Puluh Lima: Tekanan Spiritual yang Begitu Kuat!
“Haa...”
Gulungan hitam kemerahan di belakang Ichiro perlahan menghilang, menampakkan Nona Besar yang masih syok, sementara Urahara pun perlahan melangkah keluar dari bayang-bayang sambil membawa pedang, memandang takjub ke arah tumpukan mayat di tanah.
“Kau bilang tak ahli bertarung?”
“Membunuh dan bertarung itu beda. Peluru sihirku tak mempan padamu, segala serangan, bila tak dapat menembus pertahanan, seindah apapun, sia-sia.”
“Itu juga benar. Tapi kalau begitu, kegunaannya tampak terbatas. Harusnya ditambah tenaganya.”
“Ya, sedang kuteliti. Hanya saja belum punya efek seperti peluru sihir, jadi aku masih bimbang.”
Urahara menyeringai, sungguh ingin menarik kerah Ichiro dan bertanya, kenapa risetmu selalu cepat, padahal kepintaran kita sama saja?
Sebenarnya, Urahara keliru. Kecepatan riset Ichiro tidaklah luar biasa. Sebagaimana pernah disebutkan, ia kini hanya belajar. Baik Kidou maupun Alkimia, ia sekadar menyerap pengetahuan orang lain atau ingatan masa lalunya. Sementara Urahara adalah seorang pemikir kreatif, penemu ulung, sehingga prosesnya wajar saja lambat.
Kalau sampai lebih cepat, justru Ichiro yang bakal mempertanyakan hidupnya sendiri. Menggunakan cheat pun kalah, untuk apa dilanjut?
Saat itu, si Nona Besar di samping mereka membungkuk hormat, “Terima kasih banyak, namaku Kuchiki...”
Namun, ketiganya tak mendengarkan perkenalannya. Mereka justru memandang serius ke depan, ke arah puluhan Dewa Kematian yang kembali berlari mendekat!
Mereka tahu, situasi sudah benar-benar gawat!
Mengapa Akademi Seni Spiritual Seireitei selama ini aman?
Karena tempat itu di bawah pengawasan Kapten Utama!
Karena pasukan elit Skuad Satu selalu berjaga di sana!
Karena para pengajar adalah Dewa Kematian veteran yang pernah bertugas di garis depan!
Itulah sebabnya beberapa hari lalu Kapten menyuruh Ichiro tetap di sekolah, karena di sana cukup aman. Namun kini, dua gelombang Dewa Kematian, hampir seratus orang, telah menerobos masuk!
Dan hingga kini, penghalang pelindung pun belum diaktifkan!
Ini benar-benar krisis besar!
Menatap para penyerang di depan, mata Ichiro terhenti sejenak pada lengan dan kerah mereka. Setengahnya adalah bangsawan...
Ini berarti, selain harus menahan diri saat bertindak, juga menandakan satu hal: ada bayang-bayang keluarga bangsawan besar di balik kejadian ini!
Kalau tidak, mana mungkin mereka berani menyerbu Akademi Seni Spiritual Seireitei!
Dengan demikian, situasi sangat berbahaya...
Bukan bagi Kuchiki, tapi Yoruichi...
Di antara generasi pewaris empat keluarga besar, hanya Yoruichi yang bersekolah. Yang lain hanyalah cabang keluarga Kuchiki, yakni sang Nona Besar di belakang mereka.
Tapi sejujurnya, untuk seorang pengawal seperti dia, mengerahkan orang sebanyak ini jelas berlebihan. Maka kalau menebak dari sisi buruk, target utamanya pasti Yoruichi...
“Yoruichi, orang-orang ini, boleh dibunuh?”
“Mereka bukan kelas yang sama dengan yang tadi. Tanpa mantra, mereka sanggup menggunakan teknik pengikat nomor lima puluh.”
Mendengar penjelasan Yoruichi, Ichiro menghela napas, hal itu meneguhkan dugaannya. Tapi ia tak mengubah pertanyaannya.
“Boleh dibunuh?”
Yoruichi menoleh kaget, menatap mata Ichiro yang tenang di balik kacamata, lalu mengangguk, “Usahakan jangan semuanya, tapi kalau tak bisa menahan diri, bunuh saja. Selama aku hidup, kau takkan celaka!”
Ichiro membubarkan senjata kembarnya, mendorong kacamata, perlahan berjongkok, menempelkan kedua tangan ke tanah, tersenyum, “Tak perlu sampai begitu. Sejak tadi aku sudah merekam semuanya. Kalau terjadi sesuatu, kau bisa membebaskan diri lebih dulu, lalu Kapten pasti menolongku.”
Selesai bicara, Ichiro menutup mata, mulai memusatkan konsentrasi. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan transmutasi skala besar sejak menguasai Alkimia Partikel Spiritual, jadi ia harus benar-benar fokus.
Struktur dasar, terpecahkan.
Komponen utama, diurai.
Penyusunan ulang partikel spiritual, selesai!
“Haa!”
Ichiro membuka mata lebar-lebar, menekan tanah dengan kedua tangan sekuat tenaga!
Terlihat aliran listrik putih menjalar di permukaan tanah. Ketika para Dewa Kematian itu bersiap menghadapi serangan, tiba-tiba mereka merasa pijakan mereka kosong, lubang besar pun terbentuk, dan semua orang langsung terperosok ke bawah!
Sebelum mereka sempat bereaksi, partikel spiritual yang diurai tadi segera membentuk penutup di atas kepala mereka, seperti lumpur kental yang menelan mereka!
Versi partikel spiritual dari “Pemakaman Pasir” ala Sabaku!
“Haa...”
Ichiro berdiri, menarik napas panjang, menghapus peluh yang tak ada dari dahinya.
Tindakan itu membuat Yoruichi dan Urahara heran. Dengan kemampuan Ichiro, seharusnya hal ini bukan perkara sulit, dan juga tak menimbulkan bahaya besar.
Ketika mereka masih bingung, Ichiro berbalik dan menjentikkan jari.
“Cep!”
...
...
...
Keheningan yang amat lama membuat suasana sedikit canggung. Saat Urahara hendak memecah kebekuan, tiba-tiba terjadi sesuatu...
“BOOM!!!!”
Ledakan dahsyat mengguncang tempat di belakang mereka, tanah lapang yang mereka pijak kini retak-retak akibat gelombang kejut!
Bahkan dinding gedung sekolah yang tak jauh dari sana pun kini dipenuhi retakan besar!
Semua terkejut menoleh ke belakang. Tempat di mana para Dewa Kematian tadi dikubur hidup-hidup, kini berubah jadi kawah raksasa!
Puluhan jasad hangus tergeletak di dalamnya!
Dari sekitar lima puluh orang, hanya segelintir yang masih bernapas! Bahkan jika tak segera ditolong, mereka pun akan segera menyusul!
“...”
“...”
“...Glek...” Urahara menelan ludah, “Bahan peledak macam apa ini? Kok bisa sehebat itu?”
“Tentu saja kuat, makin banyak jumlahnya, makin besar ledakannya. Di peluru saja, sedikit sudah sehebat itu, apalagi sebanyak ini.”
“...Kupikir penggeraknya utama teknik kidou... Ini sungguh mengerikan...”
“Tak seberapa sebenarnya. Terus terang, mereka lebih lemah dari perkiraanku. Ini bahan peledak paling buruk, makanya harus dipakai banyak. Kukira mereka hanya akan setengah mati, ternyata mereka tak bisa mengeluarkan kidou. Ternyata, kidou zaman sekarang masih banyak kekurangannya.”
Urahara mengorek telinga, merasa mungkin pendengarannya bermasalah, “Ini bahan peledak terburukmu? Kalau yang terbaik, seperti apa jadinya? Dengan jumlah sebanyak ini.”
“Sebanyak ini? Hmm... Mungkin bisa menghancurkan sepuluh Seireitei sekaligus.” jawab Ichiro tenang.
“!!!” x 4
Melihat ekspresi mereka, Ichiro memutar bola mata, sadar mereka salah paham, lalu menjelaskan, “Tak sehebat yang kalian bayangkan. Area rusak memang luas, tapi daya bunuh pada satu titik kurang. Satu penghalang saja sudah cukup menahan. Sebanyak apapun, kalau tak terfokus, tetap tak efektif. Inilah yang sedang kuteliti, kekuatan besar tapi aplikasi praktisnya minim, hanya cocok untuk membersihkan pasukan.”
Ichiro tak berbohong. Tak perlu bicara soal penghalang kuat, sekadar berlari saja, tiga teknik langkah khas dunia Dewa Kematian, siapa pun bisa keluar dari zona ledakan hanya dalam beberapa detik. Mungkin tetap terluka, tapi tak sampai tewas, paling hanya luka ringan.
“Lupakan itu dulu. Yoruichi, sekolah sudah tak aman. Kita ke mana selanjutnya?” tanya Ichiro serius. Ia tahu, bahaya belum berlalu.
“Aku ingin pulang! Kembali ke kediaman Shihouin! Kalau mereka bisa masuk besar-besaran, pasti ada pengkhianat di dalam. Kekuatan kita lumayan, tapi kalau yang datang adalah...”
“BOOM!!!”
‘Tekanan spiritualnya luar biasa!!!’ x 5