Bab Empat
Dalam sekejap, Shen Xingwei sempat mengira dirinya berhalusinasi. Ia menatap He Xizhou dengan tidak percaya.
Namun, lelaki itu tetap terlihat sangat serius, sama sekali tidak tampak bercanda ataupun sengaja menakut-nakutinya, bahkan seolah tidak menyadari bahwa permintaannya itu sangat tidak sopan.
Wajah Shen Xingwei langsung memerah, terlihat seperti sedang marah, ia pun berkata tegas, “Mimpi saja!”
He Xizhou balik bertanya, “Kenapa? Bukankah kita baru saja resmi berpacaran?”
Shen Xingwei sempat terdiam, tidak tahu harus menjawab apa, karena hubungan mereka memang baru saja ia setujui sendiri.
He Xizhou menatap wajah kecilnya yang keras kepala. “Sekarang aku ini pacarmu yang tercinta.”
Shen Xingwei langsung mengerutkan kening, tapi tak berani membantah, khawatir lelaki itu mengungkit rekaman CCTV tempo hari. Ia hanya berhasil mengeluarkan satu kalimat, “Aku benci kamu.”
He Xizhou mengangguk, dalam hati berkata, jangan salahkan aku kalau jadi tidak sopan, lalu ia berkata dengan nada datar, “Kamu sudah sebulan menguntitku, membuatku tegang, gelisah, setiap saat merasa diawasi orang. Kondisi mentalku jadi bermasalah, menurutmu kamu tidak perlu bertanggung jawab atas semua itu?”
Wajah Shen Xingwei langsung pucat, tubuhnya tanpa sadar membungkuk, jelas dari lubuk hati ia tahu perbuatannya itu salah. Saat korban langsung menyebutkannya, dirinya langsung terpojok. “Tapi... kamu kan sudah bilang tidak akan mempermasalahkan itu...”
“Aku hanya bilang tidak mempermasalahkan kamu masuk ke rumahku tanpa izin, bukan soal kamu menguntitku.” He Xizhou kini berubah menjadi polisi yang galak, menekan ‘tersangka’ Shen, “Keluarga, tetangga, teman, dan gurumu tahu kamu melakukan hal ini?”
“Aku cuma... cuma...” Suara Shen Xingwei makin lama makin lirih, ekspresinya penuh kepanikan. Ia sendiri tak tahu kenapa bisa seperti itu, saat sadar, ia sudah lama menguntit He Xizhou, dan buku hariannya penuh dengan catatan kebencian dan kutukan untuk lelaki itu.
Ia merasa mungkin dirinya memang sakit, tapi menganggap penyakit itu tidak terlalu parah hingga harus diobati, toh lama-lama juga sembuh sendiri. Namun, hari itu belum tiba, ia sudah lebih dulu tertangkap oleh He Xizhou.
He Xizhou berdiri di hadapan, cahaya lampu jatuh di rambut hitamnya yang acak-acakan, bayangan dan cahaya saling berpilin, tak mampu menutupi ketampanan wajahnya. Ia berkata akan mempermasalahkan, tapi tak ada sedikit pun kesan galak pada ekspresinya, justru senyum tipis menghiasi sudut bibirnya, terlihat seperti orang baik yang ramah, menutupi niat buruk di hatinya dengan sempurna.
Shen Xingwei berpikir, toh hanya sebuah ciuman, tak ada yang perlu dibesar-besarkan.
Dengan begitu, nenek Li yang selalu menyapa ramah di gerbang dan bertanya apakah ia akan berangkat kerja, tidak akan tahu bahwa sebenarnya ia malah pergi berkeliling menguntit orang.
Shen Xingwei melangkah beberapa langkah ke depan, mendekati He Xizhou, namun wajahnya tetap waspada, seolah-olah jika He Xizhou sedikit saja bergerak, ia akan langsung melarikan diri. Tapi He Xizhou tampaknya memahami pikirannya, ia tidak bergerak, dengan sabar menunggu Shen Xingwei datang mendekat.
Saat jarak mereka tersisa setengah lengan, Shen Xingwei berhenti, lalu maju satu-dua langkah kecil.
Perbedaan tinggi mereka cukup jauh. Bukan karena Shen Xingwei pendek, ia hampir 170 sentimeter, hanya saja He Xizhou terlalu tinggi, sehingga ia harus mendongak untuk menatapnya. Shen Xingwei ingin mengatakan sesuatu, misalnya menanyakan apakah setelah ciuman urusan menguntit itu tetap diperhitungkan, namun ia terlalu gugup, belum berbuat apa-apa saja detak jantungnya sudah melonjak ke 180, takut suara yang keluar nanti bergetar, memperlihatkan kelemahannya.
Daripada berpikir yang aneh-aneh, Shen Xingwei akhirnya memejamkan mata, berjinjit, memanjangkan leher, mencoba mencium bibirnya.
Percobaan pertama gagal, tubuhnya goyah, ia spontan memegang kedua bahu He Xizhou, lalu tanpa sadar membuka mata, dan langsung bertatapan dengan mata lelaki itu.
He Xizhou sedang tersenyum, tidak tampak ingin mengolok-olok, namun sorot mata indahnya dipenuhi kehangatan yang mudah disalahartikan, seperti palu kecil yang mengetuk pelan di hati Shen Xingwei.
Jantungnya berhenti berdetak sepersekian detik, lalu iramanya berantakan. Belum sempat ia menyadari bahaya, reflek tubuhnya ingin mundur, tetapi sudah terlambat. He Xizhou tiba-tiba menunduk, satu tangan menempel di belakang kepalanya, dan ciuman itu pun mendarat.
Bibir Shen Xingwei sangat lembut, hangat, dan sedikit asin, mungkin karena air mata yang sempat jatuh saat ia menangis tadi. Tubuhnya kaku seperti membeku, bibirnya pun terkatup rapat. He Xizhou mencoba menjilat pelan dua kali, namun tetap gagal membuka pertahanannya.
Ia membuka mata sedikit, mundur beberapa senti, dan melihat Shen Xingwei memejamkan mata, bulu matanya yang tebal dan basah bergetar lembut, kedua tangan—entah karena takut atau gugup—menggenggam erat di dada, dalam posisi bertahan. Kulitnya sangat putih, apalagi di bawah cahaya lampu terang, terlihat begitu lembut seperti susu, dengan semburat merah muda, membuat orang ingin menggigit seperti roti persik yang baru matang.
He Xizhou merasa perbuatannya seperti penjahat yang sedang merampas gadis desa.
Tapi, di sisi lain, ia sudah sepuluh tahun hidup sebagai orang baik, sesekali menjadi ‘jahat’ rasanya tidak akan merusak hati nuraninya.
Ia mencium lagi, mengangkat tangan memegang pipi Shen Xingwei, menekan tulang rahangnya sedikit, dan akhirnya gadis itu membuka mulut. He Xizhou segera masuk, dan langsung merasakan manis yang lembut, aroma buah prem muda.
Suhu di mulutnya sangat hangat. He Xizhou mencari-cari, di balik gigi yang rapi ia menemukan lidah lembut yang bersembunyi, Shen Xingwei panik berusaha menghindar, tapi ruangnya sempit, mudah saja ia ditangkap, saling bersentuhan erat, dikejar tanpa henti.
Naluri Shen Xingwei ingin mundur, tapi entah kapan pinggangnya sudah dirangkul erat, satu tangan menekan kepala belakangnya, semakin ia berusaha menjauh, semakin erat lelaki itu memeluknya, seluruh tubuh nyaris terbenam dalam pelukannya.
Namun, ia juga tak berani benar-benar menggigit, hanya bisa merasakan napas He Xizhou menyapu wajahnya, membuat kulitnya terasa panas, detak jantung dan napasnya berantakan, semua reaksi asing itu membuat Shen Xingwei canggung, serba salah.
Untungnya ciuman yang membuatnya linglung dan takut itu tidak berlangsung lama. Begitu He Xizhou mendengar napasnya makin berat, ia pun melepaskannya. Lelaki itu juga tidak terlalu ahli mencium, tak banyak teknik, karena bibir Shen Xingwei terlalu lembut, ia tak berani menekan terlalu kuat, takut giginya melukai bibir gadis itu.
Tapi aroma buah prem muda sudah menempel di lidahnya, memenuhi rongga mulut, menyapu gigi dan meninggalkan rasa manis segar. Pengalaman ciuman pertama yang memuaskan itu membuat suasana hati He Xizhou cerah, ia meletakkan telapak tangan di pipi Shen Xingwei, ibu jarinya menghapus sisa liur di sudut bibir, lalu bertanya pelan, “Baru makan apa?”
Barulah Shen Xingwei sadar semua sudah selesai, ia membuka mata dengan panik, menatap lelaki itu dengan mata yang bening berair, seperti mutiara hitam yang disorot cahaya, benar-benar indah. Ia tertegun, lalu menjawab, “Aku makan pangsit kecil.”
He Xizhou tersenyum, tidak bertanya lagi, lalu berbalik mengambil tas kecil yang sempat terjatuh ke lantai. Tas selempang hijau muda itu tidak berat, ia melemparkannya ke sofa dan berkata, “Demi menangkapmu aku sampai belum makan. Setelah makan nanti, aku antar kamu pulang.”
Shen Xingwei segera mengambil tasnya, menyampirkan di bahu, lalu menjilat bibirnya yang masih merah, pura-pura serius berkata, “Aku mau pulang sekarang juga.”
“Kamu tidak bisa pergi,” jawab He Xizhou dari dapur, suaranya terdengar malas, “Sepedamu sudah aku suruh satpam keluarkan dari kompleks.”
Yang dimaksud adalah sepeda sewa yang diikat dengan tali merah itu, dengan santainya berbagi lahan parkir dengan SUV milik He Xizhou. Saat ia pulang tadi, ia titip pesan pada satpam untuk memindahkan sepeda itu.
Sebenarnya, Shen Xingwei masih bisa pulang dengan cara lain, namun tiba-tiba ia teringat mobil He Xizhou.
Mobil putih besar itu, bersih mengilap, lambang di moncongnya mencolok dan gagah, mobil-mobil lain parkir jauh-jauh, membuat lahan parkir lain jadi sempit. Shen Xingwei belum pernah naik mobil seperti itu, kadang-kadang usai memarkir sepeda, ia akan diam-diam menyentuh mobil itu dua-tiga kali, meninggalkan sidik jarinya di sana.
Hari ini nasibnya sedang buruk, sudah tertangkap dan dipermalukan oleh He Xizhou, ia pikir tidak apa-apa memanjakan diri sedikit, menikmati rasa bangga kecil.
He Xizhou memanggang steak, tak butuh waktu lama, saat ia keluar membawa piring, Shen Xingwei tak terlihat di ruang tamu, tapi tas hijau kecilnya masih di sofa, berarti gadis itu belum pergi. Ia makan steak di meja makan, menyelesaikan makan siang dengan cepat, lalu berdiri dan berjalan ke kamar kucing. Begitu membuka pintu, ia mendapati Shen Xingwei sedang tengkurap di lantai, bermain-main dengan anak kucing.
Benar-benar cepat melupakan masalah. He Xizhou berkata, “Yuk, aku antar pulang.”
Shen Xingwei langsung bangkit, sebelum pergi sempat membelai kepala anak kucing dua kali dan mengucapkan selamat tinggal pelan-pelan, lalu ke ruang tamu mengambil tas kecilnya.
He Xizhou berjalan ke pintu, baru sadar ada sepasang sepatu kets putih muda rapi di samping rak sepatu. Saat ia masuk tadi, ia tidak melepas sepatu, tapi ‘tamu tak diundang’ itu malah sangat menjaga kebersihan rumah orang.
Shen Xingwei duduk di ambang pintu mengenakan sepatu, begitu keluar, ia melihat He Xizhou sudah menunggu dengan sepeda listrik kuning di depan rumah. Ia sudah memakai helm, sebagian rambut yang lebih panjang menutupi dahi dan telinga, kaki jenjangnya menapak di tanah, kedua siku bersandar di stang sambil bermain ponsel, sinar matahari membuatnya tampak seperti mahasiswa yang segar dan tampan.
Wajah Shen Xingwei langsung cemberut, memperlihatkan sedikit rasa enggan, berjalan pelan-pelan dan berkata, “Helmnya cuma satu.”
He Xizhou sekilas meliriknya, lalu mengambil helm kecil berwarna pink dengan telinga kucing dari bawah jok dan menyerahkannya. Helm itu jelas khusus perempuan, warnanya lembut dan lucu. Shen Xingwei menerimanya dengan enggan, lalu berkata, “Tidak muat duduknya.”
He Xizhou sambil mengetik pesan tanpa menengok, menjawab, “Bawa laki-laki dewasa saja muat.”
Shen Xingwei celingukan, mencari alasan baru, “Rumahku jauh dari sini, baterai sepeda kamu belum tentu cukup.”
He Xizhou mematikan ponsel, melemparkannya ke keranjang sepeda, lalu menoleh, “Naik sepeda bisa sampai, masa sepeda listrik nggak bisa? Sekarang jam anak sekolah masuk, di luar macet, aku tadi keliling kompleks saja sampai sepuluh menitan, naik mobil bisa sejam belum tentu sampai rumahmu. Pilihannya cuma sepeda listrik, kalau nggak mau, aku antar naik kereta bawah tanah.”
Shen Xingwei belum pernah dengar orang mengantar pulang naik kereta bawah tanah, merasa He Xizhou benar-benar menyebalkan, semua hal tentangnya tidak menyenangkan. Ia akhirnya memakai helm dan duduk di belakang He Xizhou. Ruangnya cukup luas, satu Shen Xingwei saja masih lega, tubuh mereka tak harus bersentuhan.
Tanpa peringatan, He Xizhou memutar gas, sepeda listrik langsung melaju, Shen Xingwei terkejut, tangannya spontan mencengkeram pinggang He Xizhou, merasakan panas tubuh di balik baju tipis, lalu buru-buru melepasnya.
Keluar kompleks, Shen Xingwei melihat sepedanya diparkir di area parkir luar, bersama sepeda-sepeda sewa lain yang serupa. Meski bentuknya sama, menurut Shen Xingwei sepedanya paling bagus, karena di setangnya tergantung pita merah yang diikat menjadi kupu-kupu cantik.
Shen Xingwei memberi arahan jalan, sepeda listrik melaju kencang, angin panas musim panas menerpa, jalanan lebar penuh kendaraan, antrean panjang namun tidak macet parah. Di pinggir jalan, pohon-pohon tinggi tumbuh rimbun, menciptakan keteduhan yang luas.
He Xizhou mengendarai sepeda melewati bayang-bayang dedaunan, bercak cahaya menari di tubuh mereka, angin sejuk mengurangi rasa gerah musim panas, saat seperti ini minum soda manis pasti nikmat.
Shen Xingwei teringat di dalam tasnya masih ada beberapa permen, permen murah dari warung kecil, ia selalu membeli banyak dan membawa beberapa setiap keluar rumah. Ia mengambil satu, membuka bungkusnya, aroma manis buah prem muda langsung tercium, menusuk hidung dan sampai ke hidung He Xizhou.
“Makan apa?” tanya He Xizhou, “Kasih aku satu.”
Shen Xingwei tiba-tiba teringat pertanyaan serupa yang ia dengar tadi di rumah, langsung mengerti maksudnya, dan mendadak merasa telinganya panas, seolah terbakar matahari.
Permen rasa buah prem memang jumlahnya sedikit, waktu beli pun penjaga warung memperhatikan agar ia tak memilih-milih, Shen Xingwei sendiri jarang makan banyak. Sebenarnya ia ingin mengabaikan, tapi teringat di dalam tas masih ada permen rasa durian yang tidak ia sukai, ia pun mengambil permen itu, membuka bungkusnya, dan menyodorkannya ke mulut He Xizhou.
Lelaki itu mengulum permen, memutarnya dua kali dengan lidah, lalu menoleh dan, “Pfft,” meludahkannya tepat ke tempat sampah di pinggir jalan, kemudian berkata, “Mau coba aku lempar kamu ke bawah?”