Bab 10
Semuanya gara-gara He Xizhou, akhir-akhir ini Shen Xingwei semakin sering menulis diari. Kadang-kadang ia memakai kata-kata kurang sopan di dalamnya, dan jika terlalu sering, ia pun merasa tidak baik, tapi sungguh sulit menahan diri.
Pagi hari ketika bangun, Shen Xingwei langsung meraih ponselnya dan mengirim pesan pada He Xizhou. Bukan dengan nada berdiskusi, melainkan pemberitahuan yang sangat serius: Aku tidak akan masuk sekolah, jangan cari aku.
Namun He Xizhou yang penuh akal itu sama sekali tidak membalas pesan. Shen Xingwei bahkan bisa menebak, nanti saat dia datang sendiri dan berdiri di depannya, ia akan bersikap acuh tak acuh dan berkata, “Aku nggak lihat pesannya, kupikir kita sudah sepakat tadi malam.”
Meski enggan, akhirnya ia tetap mengenakan pakaian yang dipilihnya dengan cermat. Atasan merah menyala itu dibeli di toko rekomendasi Nenek Li penjaga gerbang, modelnya sangat kuno, kedua lengannya dihiasi renda mencolok, tapi bahannya tipis dan nyaman, cocok untuk musim panas, dan yang paling penting, harganya murah. Shen Xingwei membelinya untuk dipakai di rumah.
Celana longgar motif bunga kecil adalah hasil beli satu gratis satu. Saat melewati obral besar seperti itu, Shen Xingwei selalu tertarik, merasa cocok lalu dibeli. Sebenarnya jika dipakai sendiri tidak jelek, tapi jika dipadu dengan atasan kuno berwarna mencolok itu, langsung menimbulkan kesan stereotip: penampilan ini setidaknya seperti wanita berumur lima puluhan ke atas.
He Xizhou jelas salah satu yang punya kesan seperti itu. Ia menghentikan skuter listriknya di depan Shen Xingwei, menatapnya sekilas lalu bertanya tulus, “Kamu pakai baju nenekmu keluar rumah?”
Shen Xingwei menyesuaikan posisi tas kanvas di pundaknya yang bermotif bunga peony merah besar. Ia memang sudah berniat memakai barang lawas ini agar He Xizhou mengurungkan niat mengajaknya ke kampus. Dengan santai ia berkata, “Aku suka-suka mau pakai apa. Kalau kamu nggak suka, ya sudah, jangan antar aku ke kampus.”
He Xizhou menatap wajahnya sejenak. Entah disengaja atau tidak, rambut Shen Xingwei hari itu disanggul dengan tusuk kayu, tampak sangat terampil, namun banyak rambut pendek terurai di sekitar telinga dan lehernya. Wajah putih bersihnya tanpa riasan, alis dan matanya begitu indah.
Bagaimanapun, Shen Xingwei masih muda, baru dua puluh tahun, meski berdandan seperti apa pun, aura mudanya tak bisa disembunyikan. Ia menengadah, tampak bertekad melawan kekuasaan hingga akhir.
He Xizhou berdiri, mengambil helm dan menyodorkannya, “Ayo naik, kalau kelamaan nanti makin ramai di jalan.”
“A-apaan?” Shen Xingwei terkejut, tak menyangka cara ini tak mempan, He Xizhou benar-benar tak peduli dan tetap mau membawanya ke kampus.
Melihat ekspresinya, He Xizhou tak tahan untuk tidak tertawa, balik bertanya, “Kenapa? Mau naik ganti baju? Masih pagi ini, kalau kamu cepat nggak bakal telat.”
Tentu saja Shen Xingwei tak mau ganti baju. Ia sengaja berpakaian seperti itu untuk mempermalukan He Xizhou, supaya setelah pengalaman ini, dia kapok dan takkan mengajaknya lagi ke kampus.
Ia melepas tusuk rambut, membiarkan rambut hitamnya yang lebat dan halus terurai, sebagian dijepit ke telinga, lalu mengenakan helm kucing berwarna merah muda itu. Setelah duduk di boncengan, ia berkata, “Sudah, ayo jalan.”
He Xizhou membalikkan skuter, membawa Shen Xingwei yang penuh warna itu keluar kompleks. Lewat pukul tujuh, semakin banyak orang di jalan, kebanyakan orangtua mengantar anak sekolah, warung sarapan pun penuh sesak. Benar saja, kekuatan pakaian Shen Xingwei luar biasa, ke mana pun pergi selalu jadi pusat perhatian, bahkan saat menunggu lampu merah pun, ada saja yang terus menatap.
Dengan helm kucing merah muda, ia menundukkan kepala, menyembunyikan wajah di punggung He Xizhou, berpura-pura asal ia tidak melihat orang, maka orang pun tidak bisa melihatnya.
Mereka tiba di depan universitas He Xizhou, warung sarapan sudah tak seramai tadi. He Xizhou mengajak Shen Xingwei masuk ke salah satu warung untuk sarapan. Di dalam semuanya mahasiswa muda, tak satu pun menahan tawa melihat penampilan Shen Xingwei. Ia jadi waswas, merasa ada yang diam-diam memotretnya, makan pun hanya dua suap lalu menengok sekeliling dengan curiga.
He Xizhou duduk di depannya, sambil melihat ponsel dan sesekali meliriknya. Tingkah Shen Xingwei yang gelisah justru membuat penampilannya makin aneh, tapi entah kenapa justru terasa cocok.
Setelah selesai makan, He Xizhou menunggu sejenak, melihat Shen Xingwei makan sangat lambat seperti sengaja mengulur waktu, ia pun mengingatkan dengan baik hati, “Kalau telat, bukan cuma dipanggil dosen, tapi juga harus masuk di depan satu kelas.”
Barulah Shen Xingwei buru-buru memasukkan dua sisa bakpao kecil ke mulut, pipinya menggembung, meletakkan sumpit.
He Xizhou pura-pura tak melihat, mengajaknya keluar warung. Warung itu tepat di seberang kampus, cukup menyeberangi jalan lebar sudah tampak gerbang megah kampus, nama universitas berlapis emas terpatri di tempat mencolok. Pintu utama terbuka lebar, mobil-mobil mewah keluar masuk, sedangkan di kiri kanan ada empat pintu kecil untuk skuter dan pejalan kaki.
Shen Xingwei memanjangkan leher, mengamati orang-orang yang keluar masuk kampus, semuanya pemuda pemudi menarik, sedang dalam masa suka berdandan, baik laki-laki maupun perempuan tampil modis, sekilas saja sudah terlihat paras yang rupawan.
Ia menunduk, melihat dirinya sendiri, menarik baju murah dan mencolok yang dipakai, serta tas kanvas bermotif peony, merasa dirinya tak cocok sama sekali dengan suasana sepanjang jalan itu.
He Xizhou menepi ke trotoar, memanggil namanya. Shen Xingwei berjalan malas-malasan mendekat, tapi tidak langsung naik, tiba-tiba berbisik pelan, “Aku nggak mau masuk.”
He Xizhou tidak mendengar, mendekat, “Apa tadi?”
Kali ini Shen Xingwei tak peduli lagi pada pandangan orang, mengeraskan suara, “Aku nggak mau! Kalau kamu nggak malu, aku malu!”
“Kenapa waktu di depan rumah nggak ganti baju sekalian? Aku sudah antar ke depan kampus, eh kamu malah nggak mau masuk? Berani-beraninya main-main sama aku?” ujar He Xizhou, pura-pura galak, nadanya sengaja diperkeras.
Shen Xingwei cemberut, merasa He Xizhou benar-benar menyebalkan, bibirnya merengut, “Kamu pasti sengaja, kamu mau bawa aku ke kampus biar teman-temanmu bisa menertawaiku.”
He Xizhou tertawa, “Kenapa aku harus begitu?”
Shen Xingwei langsung menuduh, “Karena kamu memang suka lihat orang lain malu.”
Untungnya pagi itu He Xizhou merasa angin agak dingin, jadi ia memakai jaket. Ia pun melepas jaketnya dan melemparkannya ke tubuh Shen Xingwei, “Sudah, jangan banyak omong, nanti telat, pakai jaket dan naik.”
Kepala Shen Xingwei tertutup jaket, tapi ia merasa bisa sedikit menerima kenyataan harus masuk kampus. Lagi pula, He Xizhou bukan orang yang mudah dihadapi, kalau terus melawan, dia pasti akan membalas di lain waktu. Maka Shen Xingwei memakai jaket itu.
Jaket itu perpaduan hitam dan cokelat khaki, modelnya simpel, hanya ada logo merek di dada kiri, tidak ada hiasan lain. Karena sangat longgar, begitu Shen Xingwei memasangnya dan menutup resleting, baju merah mencolok dengan renda itu langsung tertutup rapat, termasuk celana motif bunga di bawahnya pun tak lagi tampak norak.
Ia menggulung lengan jaket, lalu mengenakan helm dan naik ke boncengan, memperlihatkan wajah penuh ide licik yang akhirnya selalu gagal.
Di bawah gedung perkuliahan ada tempat khusus parkir skuter yang lebih praktis dibanding mobil, jadi selama tidak bepergian jauh atau ke tempat resmi, He Xizhou selalu memakai skuter listrik. Ia memarkirkan kendaraan, mengambil tas kanvas Shen Xingwei, menggeledah isinya, hanya ada ponsel tua seperti barang antik, lalu mengambil ponsel itu, dan menggulung tas serta helm menjadi satu dan menyimpannya di bawah jok.
Shen Xingwei mengikuti masuk ke gedung perkuliahan, belum waktunya mulai kuliah tapi kelas sudah cukup ramai. Ini adalah kelas bahasa Inggris, sepertinya gabungan dua atau tiga kelas sekaligus, ruangan pun luas, setiap orang duduk di area kelasnya masing-masing.
Begitu He Xizhou masuk, banyak orang tersenyum menyapanya. Karena badannya tinggi, ia sepenuhnya menutupi Shen Xingwei di belakangnya. Baru saat ia berbalik di dekat tempat duduk, orang lain sadar kehadiran Shen Xingwei.
Jaket yang dipakai Shen Xingwei dengan mudah dikenali sebagai milik laki-laki, dan beberapa teman dekat He Xizhou langsung tahu itu jaketnya. Mereka pun memasang ekspresi berbeda, tersenyum menggoda, saling berkedip penuh rasa ingin tahu.
Berada di lingkungan asing, Shen Xingwei terlihat sangat canggung, tidak berani menatap siapa pun, dan tidak menyadari ekspresi orang-orang. Ia hanya duduk sesuai instruksi He Xizhou. Kursi disusun berderet, di dalam sudah ada tiga mahasiswi, meski tahu Shen Xingwei bukan dari kelas mereka, mereka tetap tersenyum ramah padanya.
He Xizhou duduk di sampingnya, menerima buku bahasa Inggris dari teman di belakang, lalu meletakkannya di depan Shen Xingwei. Ia membolak-balik buku itu, melihat buku milik He Xizhou sangat bersih, hampir tak ada catatan, seperti baru, lalu bertanya tajam, “Pulpenmu mahal banget ya, sampai nggak mampu beli? Kenapa kuliah nggak bawa pulpen?”
He Xizhou menjawab santai, “Iya, uang beli pulpen aja aku hemat buat traktir kamu makan malam dua juta tujuh ratus ribu.”
Shen Xingwei tak bisa membalas, langsung menyerang balik, mengkritik tegas, “Aku nggak ngerti, kenapa sih kamu selalu ngomong sinis begitu?” Lalu ia diam membaca buku, tak mau bicara lagi.
Sementara itu He Xizhou mengamati, ternyata Shen Xingwei cukup tenang di lingkungan seperti itu, tidak terlihat canggung, saat membuka buku pun benar-benar membaca isinya, bukan sekadar pura-pura. Dari situ bisa dipastikan, Shen Xingwei memang mahasiswa aktif.
Hanya saja, ia tidak mengerti kenapa Shen Xingwei punya banyak waktu luang di rumah, padahal belum masa liburan.
Beberapa saat kemudian, ada saja yang dari belakang mencolek He Xizhou, memanggilnya untuk bertanya pelan, kebanyakan penasaran pada Shen Xingwei. Ada yang bertanya, apakah dia pacarnya? He Xizhou hanya tersenyum, tak memberi penjelasan lebih pada mereka yang kepo.
Tak lama, Shen Xingwei mendengar suara nyaring dari belakang, “Yang Sining, selamat pagi! Sini duduk!”
Shen Xingwei refleks menengadah, melihat seorang mahasiswi berbaju merah berjalan mendekat. Rambutnya diikat setengah, bagian bawah terurai bergelombang, sedikit menutupi bahu putihnya, di tulang selangka yang indah tergantung kalung kristal berbentuk mahkota. Riasannya tidak terlalu tebal, wajahnya sangat cantik.
Saat pandangan bertemu, Shen Xingwei langsung mengenali siapa dia. Saat acara di rumah He Xizhou, gadis ini datang mengenakan baju merah muda, berdiri di depan pintu bertanya kapan He Xizhou menerima perasaannya.
Secara teknis, gadis ini bisa dibilang saingannya, tapi sekarang Shen Xingwei tidak menganggap He Xizhou sebagai pacar, hanya orang yang menyebalkan dan penuh tipu daya. Ia juga merasa gadis ini hanya korban tampilan manis He Xizhou, jatuh cinta karena tak mengenal watak aslinya, jadi ia hanya menatap sekilas lalu menunduk membaca buku.
Yang Sining berhenti di samping He Xizhou, tersenyum dan bertanya, “Kok hari ini duduk di depan?”
Di universitas tempat duduk bebas, tapi biasanya mahasiswi duduk di depan, mahasiswa di belakang, kecuali pasangan yang kadang memilih duduk di pojok. He Xizhou biasanya duduk dengan laki-laki, tapi hari ini memilih area perempuan, jelas ada yang aneh.
Begitu ia melihat ke arah He Xizhou, tanpa perlu dijelaskan, ia langsung tahu alasannya. Karena di samping He Xizhou ada seorang gadis memakai jaket He Xizhou, menunduk membaca buku bahasa asing, seolah-olah sangat rajin dan tak sabar menyerap ilmu.
He Xizhou sambil memegang ponsel, menjawab santai, “Siapa tahu, mungkin hari ini kursinya bawa hoki.”
Yang Sining melirik ke dalam, kursi sudah penuh, tak tersisa tempat, ia pun bertanya, “Yang di sampingmu itu adikmu, ya?”
Shen Xingwei mendengar dirinya disebut, suasana sekitar mendadak hening, para mahasiswa di belakang yang tadinya bercanda langsung diam, jelas ikut memperhatikan pertanyaan itu.
Ia menatap Yang Sining, lalu menoleh ke He Xizhou, matanya penuh harap, sungguh berharap He Xizhou menjawab dengan sesuatu yang memberinya celah untuk menolak ikut ke kampus lain kali.