Bab Sembilan Puluh Tiga: Kekuatan di Balik Musuh
Di samping, Meng Zihan juga tampak bingung dan bertanya pada Liu Qing, "Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Aku juga tidak tahu kenapa, Yun Shi sama sekali tidak menjawab teleponku!" Liu Qing terlihat cemas.
"Jangan khawatir, mungkin dia sedang sibuk jadi belum sempat mengangkat. Lebih baik kita cari dia langsung saja!" Meng Zihan segera menenangkan Liu Qing.
Liu Qing bersama Meng Zihan mencari ke seluruh tempat di sekolah yang kemungkinan besar akan didatangi Zhao Yun Shi, namun tetap saja mereka tidak menemukan apa-apa.
Saat itu, tiba-tiba ponsel Liu Qing berdering. Ia buru-buru mengambil ponsel dan melihat ternyata itu panggilan dari He Wenxing.
Sekejap saja Liu Qing menjadi sangat tegang. Apakah benar-benar terjadi sesuatu pada Zhao Yun Shi? Sepengetahuannya, ada orang He Wenxing yang selalu berjaga di sekitar Zhao Yun Shi, jadi saat He Wenxing menelfonnya, Liu Qing tak bisa tidak merasa cemas.
"Adik kecil, keluar sebentar, aku ada di depan gerbang sekolah!" suara He Wenxing terdengar tegas di seberang sana.
Mendengar itu, Liu Qing terpaku sejenak. Lawan bicaranya sudah menutup telepon. Ia tak menyangka He Wenxing benar-benar datang langsung ke Yunxiang. Apakah ini pertanda ada masalah besar?
Atau mungkin karena He Wenxing tidak yakin Liu Qing bisa menangani situasi, sehingga ia datang sendiri ke Yunxiang.
Melihat Liu Qing yang tampak linglung, Meng Zihan kembali bertanya dengan cemas, "Ada apa lagi? Apa masalah lain muncul?"
"Kakak iparku datang," jawab Liu Qing datar.
"Kakak iparmu? Siapa?" Meng Zihan tampak bingung, karena ia tidak tahu apa yang pernah terjadi antara He Wenxing dan kakak perempuan Liu Qing.
"He Wenxing, orang yang dulu dikenalkan ayahmu padaku. Tak kusangka akhirnya dia berjodoh dengan kakakku. Sudahlah, ayo kita temui dia, dia sudah menunggu di gerbang!" Liu Qing menarik tangan Meng Zihan dan mereka bergegas menuju gerbang sekolah.
Sampai di gerbang, Liu Qing melihat He Wenxing dan segera ingin bertanya soal Zhao Yun Shi.
Namun, sebelum Liu Qing sempat membuka mulut, He Wenxing sudah lebih dulu berkata, "Aku tahu kau sedang gelisah, tapi tempat ini bukan tempat yang tepat untuk bicara. Mari kita pindah tempat!"
Liu Qing mengangguk, lalu He Wenxing membawa mereka ke sebuah hotel.
Melihat hotel itu, Liu Qing dengan cemas berkata, "Kak, ini bukan saatnya makan, Zhao Yun Shi sedang dalam bahaya, aku tidak bisa menghubunginya!"
"Kenapa kau harus panik? Ingat baik-baik, apapun yang terjadi, jangan pernah kehilangan kendali atas dirimu sendiri!" ujar He Wenxing dengan tenang dan santai.
"Bagaimana aku tidak panik? Sekarang Zhao Yun Shi menjadi target mereka, siapa yang tahu apa yang akan dilakukan orang-orang itu, dan kebetulan aku malah tidak bisa menghubunginya! Aku yakin dia sedang dalam bahaya!" sahut Liu Qing dengan nada cemas.
He Wenxing menepuk bahu Liu Qing sambil berkata pelan, "Jangan khawatir, ayo ikut aku masuk dan makan dulu. Masakan hotel ini enak dan tempatnya juga cukup tersembunyi, jadi lebih aman untuk bicara."
Liu Qing masih ingin membantah, tapi He Wenxing hanya melirik tajam hingga Liu Qing menutup mulut dan mengikuti di belakangnya.
He Wenxing ternyata sudah memesan ruang privat di restoran itu. Setelah bicara sebentar dengan pelayan, mereka pun masuk ke dalam.
Begitu sampai di ruang privat, He Wenxing menatap Liu Qing sambil tersenyum, "Adik kecil, jangan terlalu khawatir. Percayalah, semua sudah kuatur. Tak lama lagi, Zhao akan datang, dia hanya sedikit ketakutan saja."
Mendengar ini, Liu Qing akhirnya bisa bernapas lega. Ia menatap He Wenxing dengan kesal, "Kak, kalau semuanya sudah diatur, kenapa tidak bilang dari tadi? Hampir saja aku mati ketakutan!"
"Aku hanya ingin kau belajar tenang. Kau harus tahu, jika kau terlalu peduli, kau justru jadi gampang panik. Ingat, jangan pernah membiarkan apapun menggoyahkan hatimu. Begitu kau kehilangan kendali, semua yang kau lakukan akan berantakan," nasihat He Wenxing pada Liu Qing.
Liu Qing mengangguk kikuk, "Lain kali aku akan lebih hati-hati."
Liu Qing tahu He Wenxing melakukan semua ini demi kebaikannya. Dulu, ia memang bukan orang yang mudah panik. Dalam kehidupannya sebelumnya, ia selalu tenang menghadapi apapun. Namun, sejak memiliki ikatan-ikatan baru di kehidupan ini, ia merasa dirinya berubah.
"Kak, sebenarnya apa yang terjadi pada Zhao Yun Shi? Apakah ada yang benar-benar menyerangnya? Siapa orang-orang itu?" tanya Liu Qing tak sabar.
"Masalah ini, nanti saja kau tanyakan langsung pada Zhao Yun Shi. Aku juga belum yakin sepenuhnya," jawab He Wenxing sambil mengernyitkan dahi.
Tak lama kemudian, Zhao Yun Shi datang bersama seorang pria. Melihat Zhao Yun Shi masuk, Liu Qing langsung lega, buru-buru menghampiri dan menggenggam tangannya, "Syukurlah kau baik-baik saja. Aku benar-benar hampir mati ketakutan!"
Zhao Yun Shi melihat wajah Liu Qing yang begitu cemas, hatinya terasa hangat. Ia tersenyum tipis dan berkata, "Aku tidak apa-apa, tadi hanya keluar sebentar, tidak terjadi apa-apa kok."
"Kau masih saja menyembunyikan sesuatu dariku? Bukankah semuanya sudah di sini sekarang? Apa yang kau lakukan tidak membuatmu terlihat terlalu bodoh?" sahut Liu Qing sambil melirik kesal.
Liu Qing tahu Zhao Yun Shi sengaja tidak bicara agar ia tidak khawatir, jadi ia tidak benar-benar marah.
Zhao Yun Shi pun tersipu, lalu melihat orang-orang di sekitarnya dan berkata pelan pada Liu Qing, "Di sini banyak orang, kita duduk saja dulu."
Setelah mereka duduk, Liu Qing memandang Zhao Yun Shi, menunggu penjelasan darinya.
Zhao Yun Shi tahu ia tidak bisa lagi menyembunyikan apa pun, apalagi ada pria yang bersamanya tadi. Ia pun menghela napas dan berkata, "Sebenarnya tidak terjadi apa-apa, hanya saja ada beberapa orang yang mencoba merampokku, lalu kakak ini menolongku."
Zhao Yun Shi mengatakan semuanya dengan santai, tapi Liu Qing tahu pasti kejadian itu jauh lebih berbahaya dari yang diceritakan.
Karena Zhao Yun Shi tidak mau bicara lebih lanjut, Liu Qing pun menatap pria yang baru datang bersama Zhao Yun Shi. Jika dugaannya benar, pria ini pasti tahu lebih banyak.
He Wenxing memberi isyarat pada pria itu, lalu berkata kepada semua orang di ruangan, "Ini sahabatku, namanya Qi Lin. Keahliannya tidak perlu diragukan lagi. Biar dia yang jelaskan."
Semua mata tertuju pada Qi Lin, sementara Zhao Yun Shi menunduk malu.
Tanpa basa-basi, Qi Lin duduk di samping He Wenxing dan mulai bicara, "Memang benar apa yang dikatakan Nona Zhao. Ada sekelompok orang yang tiba-tiba ingin menculiknya. Awalnya aku tidak langsung bertindak karena ingin memastikan identitas mereka, tapi ternyata mereka hanya suruhan, bukan pelaku utama."
Liu Qing buru-buru bertanya, "Lalu, kau tahu siapa dalangnya?"
"Ada beberapa petunjuk, tapi aku belum yakin. Kalau benar mereka, masalah ini tidak akan mudah diselesaikan. Kekuasaan mereka jauh di atas kemampuan kita," Qi Lin menjawab dengan nada cemas.
Kata-kata itu justru membuat He Wenxing tertarik. Ia tersenyum sambil bertanya, "Siapa sebenarnya mereka? Sampai-sampai kita tak bisa melawan?"
"Mereka adalah keluarga Wu dari Ibu Kota. Tapi ini masih dugaan, karena sebagian besar bukti memang mengarah ke keluarga Wu. Kepastianya nanti akan terungkap," jawab Qi Lin tenang.
"Keluarga Wu? Itu benar-benar lawan yang sulit," He Wenxing terlihat terkejut dan agak tidak nyaman saat mendengar nama keluarga Wu.
Jelas sekali, He Wenxing sangat segan terhadap kekuatan keluarga Wu.
"Adik, kalau benar mereka keluarga Wu, ini bakal sulit. Keluarga Wu bukan keluarga sembarangan, kita benar-benar tidak bisa sembarangan melawan mereka," ujar He Wenxing dengan wajah serius.
"Keluarga Wu? Memangnya mereka siapa? Sehebat apa mereka?" tanya Liu Qing penasaran.
"Keluarga Wu itu seperti legenda. Mereka muncul mendadak, tidak ada yang tahu bagaimana mereka bisa jadi besar dan berkuasa," jelas He Wenxing.
"Memangnya apa yang membuat mereka begitu ditakuti?" tanya Liu Qing lagi.
"Beberapa tahun lalu, ada kejadian yang membuat nama keluarga Wu makin disegani. Saat itu, keluarga Liu, keluarga terbesar di Ibu Kota, pernah menyinggung keluarga Wu. Dalam semalam, seluruh anggota keluarga Liu lenyap tanpa jejak. Semua aset mereka pun tiba-tiba berpindah tangan ke keluarga Wu," He Wenxing mengenang kejadian itu dengan desahan. Dulu, keluarga Liu adalah penguasa Ibu Kota, namun akhirnya berakhir tragis.