Bab Dua Puluh Empat: Percayakah Kau Jika Aku Mengaku Sebagai Bos Kedua?
“Kau ini dasar genit, mana mungkin Bos Kedua tertarik padamu? Kalau Bos Kedua mau memilih, pasti juga memilih aku!”
Mendengar ucapan orang-orang itu, Liu Qing hanya bisa geleng-geleng kepala, dalam hati bertanya-tanya sejak kapan orang-orang jadi sebegitu suka bergosip. Ia pun memutuskan untuk ikut bergabung dan duduk di samping salah satu wanita.
Wanita itu bernama Chen Ling. Ketika Chen Ling melihat Liu Qing tiba-tiba duduk di sampingnya, ia terkejut dan bertanya, “Mas, kamu orang baru di perusahaan kita ya?”
“Iya, aku baru saja masuk hari ini,” jawab Liu Qing sambil tersenyum.
“Pegawai baru ya? Lihat gayamu, kayaknya masih anak sekolahan. Sudah cukup umur belum sih? Sejak kapan perusahaan kita merekrut pekerja anak?”
“Kakak, masa ngomong gitu? Aku sudah cukup umur kok. Ngomong-ngomong, tadi kalian sedang membicarakan apa sih? Kayaknya seru banget?”
Chen Ling tampak senang dipanggil ‘kakak’, dan buru-buru menjelaskan pada Liu Qing, “Adik kecil, kamu datang pas banget hari ini. Bos Kedua juga datang, katanya dia masih lajang. Aku penasaran banget, sebenarnya setampan apa sih dia?”
“Chen Ling, jangan ngelantur deh. Mana mungkin Bos Kedua tertarik sama kamu? Ngaca dulu!” Banyak rekan di sekelilingnya ikut menggoda.
Chen Ling membalas dengan nada tak senang, “Kenapa nggak mungkin? Siapa tahu Bos Kedua memang suka tipe kayak aku!”
“Sebenarnya tipe kamu juga tidak buruk, siapa tahu memang itu seleranya Bos,” Liu Qing menimpali sambil bercanda.
“Adik, kamu juga berpikir begitu? Wah, ternyata kita sehati! Mulai sekarang, di kantor sini, kakak akan melindungi kamu. Kalau ada apa-apa, cari Kak Ling saja, pasti semua beres!”
Chen Ling kelihatan sangat puas pada Liu Qing. Wajahnya lumayan dan pandai bicara, tak heran mudah disukai.
“Chen Ling, kayaknya kamu nggak dapat Bos Kedua, malah dapat kelinci kecil ya!” Orang-orang di sekitar mulai menyoraki, tampak hubungan Chen Ling dengan rekan-rekannya cukup akrab.
Namun tepat saat itu, seorang pria masuk ke ruangan. Melihat pria itu, semua orang langsung diam. Pria itu melirik Chen Ling, hendak duduk di samping, tapi melihat tempatnya sudah ditempati. Ia pun menatap Liu Qing dan bertanya, “Kamu dari mana? Nggak tahu aturan di perusahaan ini?”
“Aturan perusahaan? Aturan apa?” tanya Liu Qing kebingungan.
“Aturannya, kursi di samping Chen Ling hanya boleh diduduki aku!” pria itu membentak dingin.
“Wang Peng, memangnya urusan apa dengan kamu? Sejak kapan perusahaan punya aturan begitu?” Chen Ling menukas tak sabar. Sejak Chen Ling masuk perusahaan, Wang Peng terus-menerus mengejar dan memberinya kode, tapi Chen Ling sama sekali tak tertarik.
“Chen Ling, lebih baik kamu menurut saja. Kalau tidak, aku punya seratus cara untuk membuatmu tidak betah di perusahaan ini!” ancam Wang Peng.
Semua rekan kerja hanya bisa marah dalam hati tapi tak berani bicara.
“Kamu kenapa masih duduk di situ? Cepat minggir!” Wang Peng bertambah marah melihat Liu Qing tetap duduk di sana.
“Hari ini aku mau duduk di sini. Aku ingin lihat, kamu bisa apa?” Liu Qing tak menyangka hari pertamanya di kantor sudah bertemu orang seperti ini. Ia jadi bertanya-tanya bagaimana cara perusahaan merekrut pegawai.
“Kamu pegawai baru, kan? Sekarang juga pergi dari sini! Aku nyatakan kamu dipecat!” Wang Peng menunjuk Liu Qing.
“Wang Peng, jangan keterlaluan! Apa salahnya dia sampai harus dipecat? Di sini siapa yang berkuasa, kamu atau pemilik perusahaan?” kata Chen Ling dengan nada marah.
“Kalau bos nggak ada, tentu aku yang berkuasa!” Wang Peng tetap dengan gaya congkaknya.
“Tuan besar datang! Tuan besar datang!” tiba-tiba seseorang berlari masuk dan berseru.
Mendengar itu, semua orang buru-buru duduk rapi. Wang Peng pun melotot pada Chen Ling dan Liu Qing, lalu mencari kursi lain.
“Adik, jangan takut. Tenang saja, kakak akan melindungi kamu. Kalau dia berani memecatmu, aku ikut keluar. Aku juga sudah muak!” Chen Ling menenangkan Liu Qing.
“Kak, siapa sih orang itu, kok sombong banget?” tanya Liu Qing penasaran.
“Itu supervisor perusahaan. Dia merasa punya hubungan keluarga dengan Tuan Meng, jadi suka bertingkah semaunya. Semua orang di sini nggak suka sama dia!” jawab Chen Ling kesal.
Mendengar itu, Liu Qing mengernyitkan dahi. Jadi dia keluarga Tuan Meng, rupanya tidak mudah menghadapinya. Tak disangka di tahun 2002 hubungan keluarga masih sangat berpengaruh. Walau wajar saling membantu, seharusnya tetap melihat apakah orang itu memang layak atau tidak.
Tuan Meng pun masuk sambil membawa naskah. Ia melihat Liu Qing duduk di samping Chen Ling, tapi tak berkata apa-apa, lalu berjalan langsung ke depan bersama Meng Zihan. Namun, Meng Zihan menatap Liu Qing dengan penuh amarah, matanya tak beralih sedetik pun.
Chen Ling yang melihat tatapan Meng Zihan itu bertanya pada Liu Qing, “Kamu kenal putri Tuan Meng?”
“Bisa dibilang begitu,” jawab Liu Qing dengan canggung.
Tuan Meng lalu berdeham dua kali dan berkata, “Baik, hari ini kita rapat. Ini pertama kalinya kita semua lengkap di sini. Karena perusahaan ini baru berdiri, saya ingin membahas rencana pengembangan ke depan.”
Tuan Meng pun mulai berpidato panjang lebar. Dari gayanya, ia jelas sudah banyak berusaha, meski kebanyakan materi hanya menyalin dari internet, tapi niatnya patut dihargai.
Chen Ling berbisik pelan, “Katanya Bos Kedua mau datang, kok aku belum lihat ya?”
“Mungkin dia sudah datang, malah duduk di sebelahmu!” jawab Liu Qing sambil tersenyum.
“Hah? Mana?” Chen Ling menengok ke sekitar, lalu menatap Liu Qing, “Jangan-jangan maksudmu kamu sendiri?”
“Kenapa? Tidak percaya?” Liu Qing mengangkat bahu sambil tersenyum.
“Aduh, jangan bercanda. Lihat saja, kamu ini masih kelihatan kayak anak sekolahan, mana mungkin Bos Kedua. Sudahlah!” Chen Ling tak percaya sama sekali.
Wang Peng yang duduk tidak jauh dari mereka, melihat Chen Ling dan Liu Qing tertawa-tawa, langsung berdiri dan membentak, “Kalian berdua ngapain? Ini rapat, tahu diri dong!”
Bentakan Wang Peng langsung memotong pidato Tuan Meng. Wajah Tuan Meng tampak sangat tidak senang. Ia menatap Wang Peng dan berkata, “Apa tidak bisa nanti saja bicara?”
“Bukan, sepupu, lihat mereka tadi...”
Belum sempat Wang Peng selesai bicara, Tuan Meng sudah membentak sambil menepuk meja, “Sudah berapa kali aku bilang, di perusahaan jangan panggil aku sepupu! Sekarang duduk dan diam!”
Melihat itu, Wang Peng hampir meledak karena marah. Ia tak menyangka sepupunya justru memarahinya, sedangkan Chen Ling dan Liu Qing sama sekali tidak ditegur.