Bab Empat Puluh Enam: Identitas Chen Ling?
“Aku juga tidak banyak berinvestasi, hanya sepuluh juta saja. Apakah Pak Lin juga berniat ikut berinvestasi?” Wajah Qin Junying tampak tidak senang. Biasanya hubungan dia dan Lin Tianyang memang kurang baik. Sebenarnya alasan ia datang ke pesta ini pun karena ayah Lin Tianyang yang memintanya.
“Sepuluh juta? Baiklah, saya juga ikut sepuluh juta! Investasi Pak Qin sudah terkenal, saya yakin sepuluh juta ini di masa depan pasti akan berlipat nilainya!” Lin Tianyang berkata sambil tersenyum, namun dalam hatinya ia semakin tertarik pada Liu Qing. Jika Qin Junying saja mau berinvestasi sebesar itu, berarti Liu Qing memang benar-benar jenius. Tidak menutup kemungkinan beberapa puluh tahun lagi, anak muda ini bisa menyusulnya.
Orang-orang di sekitar yang mendengar dua tokoh paling berpengaruh di kota itu ikut menanamkan modal di perusahaan Liu Qing, mata mereka pun semakin berbinar. Andai saja bukan karena kehadiran Qin Junying dan Lin Tianyang, mereka sudah langsung maju untuk berbicara dengan Liu Qing dan Meng Dafu.
“Baiklah, anak muda, kalau ada waktu, hubungi saya, datanglah ke tempat saya. Kita bisa bertukar pikiran soal bisnis. Saya masih punya sedikit pengalaman dalam merintis usaha, mungkin ada yang bisa bermanfaat bagimu!” Qin Junying berkata ramah pada Liu Qing.
Liu Qing pun langsung mengangguk penuh kegembiraan, “Terima kasih, Pak Qin!”
Kisah perjuangan Qin Junying memang sangat legendaris. Sejak kehidupan sebelumnya saja, Liu Qing sudah mengagumi dan ingin tahu lebih banyak tentang beliau. Namun di internet, kisah awal perjuangan Pak Qin hampir tidak pernah dibahas. Jadi, Liu Qing sangat ingin mengetahui pengalaman beliau ketika dulu masih berjuang.
Setelah ragu sejenak, Liu Qing akhirnya memutuskan untuk memberi peringatan pada Qin Junying. Ia mendekat dan berbisik di telinganya, “Pak Qin, kalau Bapak percaya pada saya, hati-hatilah dengan orang-orang terdekat Anda di masa depan.”
Qin Junying menatap Liu Qing dengan kaget dan wajah tak senang, namun ia tidak marah terang-terangan. Liu Qing tahu ucapan ini pasti akan menyinggung perasaan Pak Qin, tapi ia tetap memilih untuk mengatakannya. Ia tidak ingin melihat sang raja investasi itu jatuh begitu saja.
Sementara itu, Lin Tianyang tersenyum pada Liu Qing dan berkata, “Qing, akhir-akhir ini Luoyu sering menyebut-nyebutmu. Kalau ada waktu, datanglah menjenguk dia, mampirlah ke rumah kami!”
Liu Qing mengangguk. Ia merasa Lin Luoyu seolah terlalu jauh darinya. Walau di kehidupan sebelumnya mereka pernah berinteraksi, Liu Qing selalu merasa Lin Luoyu terlalu istimewa, seperti setangkai teratai yang tetap putih bersih meski tumbuh di lumpur. Ia tak ingin merusak bunga yang begitu murni.
Setelah itu, Lin Tianyang dan Qin Junying pun pergi untuk membicarakan urusan mereka.
Begitu keduanya pergi, kerumunan orang segera mengelilingi Liu Qing dan Meng Dafu, semua berebut menyodorkan kartu nama dan menawarkan kerjasama bisnis.
“Pak Meng, selamat malam. Saya dari Grup XX, dengar-dengar perusahaan Anda baru berdiri. Mungkin kita bisa bicara soal peluang kerjasama!”
“Pak Liu, kami sangat tertarik dengan perusahaan Anda. Bolehkan kami bertukar nomor telepon agar bisa berdiskusi lebih lanjut?”
Orang-orang langsung memenuhi meja mereka, suasana jadi sangat ramai. Liu Qing segera mencari alasan untuk menghindar, “Maaf, segala urusan kerjasama di perusahaan kami diurus Pak Meng. Silakan langsung hubungi beliau, saya ada urusan lain dan harus pergi dulu!”
Setelah berkata begitu, Liu Qing buru-buru pergi. Sedangkan Meng Dafu tidak terlihat terganggu, malah dengan senang hati menerima semua kartu nama yang diberikan. Orang-orang itu adalah para tokoh penting, anak konglomerat, yang biasanya sulit sekali untuk didekati. Kali ini mereka sendiri yang datang menawarkan diri, Meng Dafu pun tak menolak satu pun.
Liu Qing bersama Chen Ling segera bergegas meninggalkan aula. Ia memang sudah tidak ingin berlama-lama di sana.
Saat keduanya hendak pergi, tiba-tiba seorang pria gemuk menghadang. Pria itu tersenyum pada Liu Qing dan berkata, “Saudaraku, jangan buru-buru pergi. Kenalan dulu, namaku Shao Hongfang.”
Selesai berkata, pria gemuk itu mengulurkan tangan, namun Liu Qing tidak berniat untuk berkenalan, ia langsung menjawab dengan nada tak sabar, “Sudah saya bilang, kalau mau bicara soal bisnis silakan cari Pak Meng Dafu. Saya tidak mengurus itu di perusahaan.”
Namun Liu Qing tidak menyadari, saat Chen Ling melihat Shao Hongfang, ekspresinya jelas terkejut, seperti mengenal orang itu.
“Saudara Liu, Anda salah paham. Saya bukan mau mengajak kerjasama, hanya ingin berkenalan saja! Bisa mendapat perhatian dari Pak Lin dan Pak Qin sekaligus, pasti Anda bukan orang biasa!” Shao Hongfang menarik kembali tangannya yang gemuk ke atas perutnya.
“Pak Shao, saya rasa Anda salah paham. Pak Lin dan Pak Qin hanya terlalu baik pada saya. Saya ada urusan, permisi dulu, lain waktu saja kita bicara!” Liu Qing segera berbalik, enggan berlama-lama di situ, apalagi mengingat beberapa anak konglomerat menyebalkan tadi.
“Saudara Liu, jangan terburu-buru. Ini kartu nama saya, kalau ada waktu kita bisa kontak-kontak,” ujar Shao Hongfang sambil menyodorkan kartu nama.
Liu Qing akhirnya menerimanya. Ia tahu, kalau tidak diambil, ingin pergi pun pasti tidak akan mudah.
Liu Qing dan Chen Ling pun berjalan ke pintu keluar. Ia memperkirakan Meng Dafu akan sibuk cukup lama, jadi ia memutuskan tidak menunggu lagi. Ia lalu berkata pada Chen Ling, “Sampaikan pada Pak Meng, saya ada urusan, kami pulang duluan.”
Chen Ling mengangguk lalu kembali masuk ke dalam. Sementara Liu Qing sendiri keluar mencari taksi di sekitar gedung. Namun, tak disangka, Shao Hongfang kembali muncul.
“Saudara Liu, kebetulan sekali bertemu lagi. Sedang menunggu mobil? Kalau mau, naik saja mobil saya, biar saya antar!” kata Shao Hongfang dengan senyum lebar.
Liu Qing tak tahu apa sebenarnya maksud Shao Hongfang, namun karena sifatnya yang selalu waspada, ia tetap menolak tawaran itu. Shao Hongfang pun tidak marah, seolah sudah menduga Liu Qing akan menolak.
Tak lama, Chen Ling keluar. Begitu melihat Shao Hongfang, ia langsung berkata dengan nada sinis, “Ada apa denganmu? Bukankah tadi sudah disuruh pergi? Kenapa masih di sini?”
Mendengar ucapan Chen Ling, Shao Hongfang menoleh padanya. Lemak di tubuhnya tampak bergetar. Melihat itu, Chen Ling sedikit terkejut dan buru-buru bersembunyi di belakang Liu Qing.
Dalam hati, Shao Hongfang diliputi tanda tanya. Ia merasa pernah melihat Chen Ling, namun tidak bisa mengingatnya. Namun karena melihat sikap Chen Ling yang begitu penuh permusuhan, ia pun meminta maaf, “Maaf ya, Saudara Liu, kalau ada waktu, silakan hubungi saya.”
Setelah Shao Hongfang pergi, barulah Chen Ling bernapas lega. Liu Qing memandang Chen Ling dengan bingung dan bertanya, “Ada apa? Kenapa aku merasa kamu seperti sangat takut padanya?”
“Ngaco! Mana mungkin aku takut sama dia? Kalau pun ada yang harus takut, dia yang harus takut padaku!” jawab Chen Ling dengan nada dingin.
Setelah itu, Chen Ling kembali mengingatkan Liu Qing, “Oh ya, akhir pekan ini aku traktir makan, jangan lupa ya!”
“Aku tahu. Kau sudah mengingatkan berkali-kali. Sebenarnya kamu mau apa sih? Cepat katakan, kalau tidak, aku tidak akan datang!” Liu Qing masih merasa curiga dengan tujuan Chen Ling.
“Sudah kubilang, nggak ada maksud apa-apa. Kamu pikir aku ini siapa? Pokoknya jangan sampai lupa!” Chen Ling menjawab dengan sedikit kesal.