Bab Sembilan Puluh Enam: Mekanisme Reinkarnasi di Dunia yang Berbeda
Karena siklus seperti ini, bagi makhluk hidup, hanyalah sekejap memejamkan mata dan membukanya kembali, itulah satu kali reinkarnasi. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ketika seseorang di usia senja perlahan menutup kedua matanya karena letih dan kehabisan tenaga, setelah seumur hidup bekerja keras, sudah sewajarnya ia beristirahat. Sedangkan kelahiran adalah seperti bangun dari tidur panjang, lalu memulai hidup yang baru.
Ingatan, dalam pengertian harfiahnya, adalah proses di mana makhluk hidup mengkode, menyimpan, dan mengambil kembali semua informasi yang dialami sepanjang hidupnya. Proses ini bisa dianggap sebagai kenangan yang penuh keterikatan. Hubungan antara jiwa, ingatan, dan tubuh sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata, tak bisa dijelaskan secara logis—intinya, tak mungkin dipahami. Tiada menjadi ada, satu sekaligus seribu, menyeluruh, tak terbatas—tak ada konsep yang benar-benar pasti. Dari sini bisa dibayangkan betapa luar biasanya Pohon Jiwa yang mampu merapikan ingatan dan membentuk jiwa.
Barulah saat ini Yang Jian mengerti mengapa Pohon Duka mampu mengubah arus waktu, membantu kekasih di kehidupan lampau untuk mengingat segalanya.
Di sepanjang lembah Sungai Kuning, jiwa-jiwa yang menunggu reinkarnasi seakan memenuhi setiap sudut, namun tak satu pun yang tampak. Itu karena serpihan jiwa dan ingatan mereka telah lebur menjadi tanah, jatuh ke dasar Sungai Kuning, menyuburkan Pohon Jiwa yang maha besar. Sebagai imbalannya, Pohon Jiwa akan membantu para arwah itu menjalani kelahiran berikutnya. Hubungan antara segala makhluk dan Pohon Jiwa adalah saling bergantung dan hidup berdampingan.
Kedatangan Yang Jian dan Tu Shan Rongrong tentu saja menarik perhatian Suku Sungai Kuning. Ketika para anggota suku hendak maju untuk menanyai mereka, Penguasa Sungai Kuning yang telah lebih dulu melihat Yang Jian segera mencegahnya. Menghadapi Yang Jian, sang iblis penjelmaan, Penguasa Sungai Kuning sama sekali tak berani lengah. Dengan penuh hormat, ia mengundang Yang Jian dan Tu Shan Rongrong untuk singgah sejenak di Istana Sungai Kuning.
Menanggapi undangan itu, Yang Jian lebih dulu menoleh pada Tu Shan Rongrong. Melihat tak ada penolakan darinya, ia pun menerima tawaran Penguasa Sungai Kuning dengan senang hati.
Di dalam Istana Sungai Kuning yang kini telah ramai dan penuh aroma dupa, beberapa pelayan berdiri di belakang dengan kipas anyaman, dan tiga tokoh utama, yakni Yang Jian, Tu Shan Rongrong, serta Penguasa Sungai Kuning, duduk di kursi kehormatan.
Menatap Yang Jian yang duduk di sampingnya dengan senyum ramah dan wajah bersahabat, di permukaan Penguasa Sungai Kuning tampak riang, tapi di dalam hati hanya dia yang tahu betapa getir dan takutnya ia. Menghadapi bencana tak terduga dalam wujud Yang Jian, ia berada dalam posisi serba salah. Kalau mengusir, ia bukan lawan yang sepadan. Kalau membiarkan, ia takut Yang Jian tiba-tiba berubah murka dan menghancurkan Sungai Kuning. Jika itu terjadi, kekacauan besar akan melanda, memengaruhi siklus reinkarnasi seluruh makhluk di dunia. Yang Jian bisa saja pergi begitu saja, tapi bagaimana dengan dirinya? Dosa sebesar itu, sekalipun sebagai Penguasa Sungai Kuning, ia tak sanggup menanggungnya. Bahunya tak cukup kuat untuk beban sebesar itu!
Melihat Penguasa Sungai Kuning yang gelisah dan tak tenang selama perjamuan, Tu Shan Rongrong hanya bisa menahan tawa dan diam-diam melirik Yang Jian. Namun wajah Yang Jian tampak tenang, tanpa sedikit pun kesadaran sebagai tamu tak diundang atau biang kerok. Siapa Yang Jian? Ia dikenal berwajah tebal tiada tara. Ini belum seberapa, urusan memalukan yang lebih parah pun pernah ia alami. Saat berkunjung ke Alam Kematian dahulu, gara-gara Dewi Hou Tu, ia bahkan belum pernah makan hidangan dunia arwah. Kini, kesempatan mencicipi makanan khas Sungai Kuning tak boleh ia lewatkan.
Soal Penguasa Sungai Kuning tiba-tiba berbalik wajah, Yang Jian malah tak peduli. Kalau berani, silakan coba dulu kepalan tangannya! Apa istimewanya Penguasa Sungai Kuning? Kalau ia berani, Yang Jian ingin lihat siapa yang berani mencegahnya! Apa Kera Lengan Panjang? Kera Enam Telinga? Tuan Muda Ketiga, Kera Pantat Merah? Raja Naga? Siapa yang berani bersuara? Tak satu pun! Ketika kuasa besar bertindak sewenang-wenang, terang-terangan menindas, tak seorang pun berani bicara.
Sementara itu, Yang Jian dengan penuh harap menunggu hidangan khas Sungai Kuning. Memang, di dunia sebelumnya, ada yang berspekulasi makanan mereka adalah kotoran berwarna kuning. Tapi Yang Jian tentu tak percaya Penguasa Sungai Kuning sehari-hari makan kotoran. Lagipula, ia tak peduli apa tradisi suku itu. Kalau benar mereka menyajikan kotoran, tentu saja ia akan muak.
Kalau sampai ia marah, siapa tahu, barangkali ia malah melahap para cacing Sungai Kuning itu dengan saus. Soal moralnya kini, Yang Jian sendiri pun tak yakin. Bagaimanapun, mereka yang menapaki jalan iblis pasti terpengaruh oleh sifat iblis, dan di lubuk hati pasti ada perubahan, tak terkecuali Yang Jian, sang pendiri jalan iblis.
Untungnya, Penguasa Sungai Kuning pernah pergi ke dunia luar dan tahu perbedaan selera antara sukunya dan ras lain. Karena itu, makanan yang dihidangkan, walau tak seindah atau semewah hidangan bangsa manusia atau siluman, setidaknya tidak aneh-aneh. Seperti tumis kantong beruang, cacing darah dengan rumput bercahaya, kue tanah, sup ubi dengan kumbang licin, meski Yang Jian dan Tu Shan Rongrong tak mencicipinya, setidaknya masih bisa diterima.
Tentu saja, Suku Sungai Kuning juga punya sesuatu yang istimewa. Misalnya, buah jiwa dari Pohon Jiwa, yang bisa menyehatkan jiwa, memperkuat kekuatan rohani, menajamkan pikiran, dan memberi berbagai manfaat luar biasa. Juga ada arak duka khas mereka yang sungguh nikmat. Saat tegukan pertama, hati seolah dipenuhi ribuan kepedihan, membuat siapa pun dilanda keputusasaan. Bukankah orang berkata, segala derita tak seberat derita di hati? Minum arak ini, bukan hanya melupakan duka, malah tambah nestapa. Meski tak beracun, dampaknya seribu kali lebih kuat dari racun. Tapi, jika dinikmati perlahan, akan terasa manis setelah pahit, seolah semua urusan jadi lancar—makna pahit sebelum manis tersimpan dalam arak ini.
Setelah perjamuan penuh sukacita selesai, Yang Jian dan Tu Shan Rongrong berjalan keluar dari Sungai Kuning dengan gembira diiringi Penguasa Sungai Kuning. Begitu keduanya menghilang dari pandangan, Penguasa Sungai Kuning tak bisa menahan diri lagi, meluapkan kekesalannya.
“Sialan, mereka pikir ini tempat wisata? Jelas-jelas datang untuk merampok!”
“Cih, dasar dua bajingan…”
“Tiga ratus ribu buah jiwa, puluhan ribu ton arak duka, mereka benar-benar tega meminta!”