Bab 141: Si Kembar Bayangan
Lin Kuang tidak berkata apa-apa. Ia tersenyum tipis sambil menatap sang gadis iblis, membiarkan tinju mungil gadis itu memukuli dadanya. Bagaimanapun, pukulan itu sama sekali tidak terasa sakit.
Setelah memukul selama beberapa waktu, sang gadis iblis sudah terengah-engah karena kelelahan, lalu langsung duduk di tepi ranjang. Sepasang dada indahnya yang besar tampak naik turun dengan cepat.
"Sudah lelah?"
Melihat wajah cantik sang gadis iblis, Lin Kuang bertanya sambil tersenyum.
"Hih, malas aku ladeni!"
Gadis iblis itu berkata dengan nada kesal. Wajah kecilnya yang jelita merona merah, membuatnya tampak sangat memikat.
"Kalau begitu, untuk apa kau datang ke sini? Tapi kau tidak mau mengatakannya."
Lin Kuang bertanya dengan nada geli.
"A-ada, ada urusan!"
Gadis iblis itu menjawab dengan sedikit canggung.
"Lalu, apa sebenarnya urusan itu? Cepat katakan!"
Lin Kuang bertanya dengan pasrah. Kau datang kemari tapi tidak mau bicara, siapa yang tahu apa maumu?
"A-aku, aku datang untuk berterima kasih. Ter-terima kasih karena sudah menyelamatkanku."
Wajah gadis iblis itu memerah saat ia mengucapkannya dengan suara pelan. Suaranya terdengar bagaikan dengungan nyamuk; jika pendengaran Lin Kuang tidak cukup tajam, ia pasti tidak akan bisa mendengarnya sama sekali.
"A-apa yang kau katakan?"
Lin Kuang tertegun sejenak, merasa seolah-olah ia salah dengar. Gadis iblis yang biasanya begitu arogan ini tiba-tiba datang untuk mengucapkan terima kasih? Ini sama sekali tidak masuk akal!
Gadis iblis itu sepertinya juga merasa suaranya terlalu kecil, lalu ia mengumpulkan keberaniannya dan bangkit berdiri.
"Kubilang, terima kasih karena sudah menyelamatkanku, keparat!"
Setelah berkata demikian, gadis iblis itu mendelik tajam ke arah Lin Kuang, lalu berbalik dan berlari keluar kamar.
Mendengar itu, Lin Kuang tersenyum tipis. "Gadis yang aneh."
Sambil menggelengkan kepala, Lin Kuang bersiap untuk beristirahat.
Namun, saat beristirahat, Lin Kuang merasa batinnya gelisah, seolah-olah sesuatu yang buruk akan terjadi, membuat suasana hatinya ikut meradang.
"Mungkinkah akan terjadi sesuatu?"
Duduk di atas ranjang, Lin Kuang bergumam dalam hati.
Setelah berpikir sejenak, ia mengurungkan niatnya untuk beristirahat. Ia langsung bersila di atas ranjang, memejamkan mata untuk bermeditasi, sementara indra perasaannya ditingkatkan hingga ke tingkat maksimal.
Waktu berlalu perlahan. Ketika jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, perasaan di dalam hati Lin Kuang semakin pekat.
Tepat pada tengah malam, dua suara kepakan angin yang sangat halus terdengar. Lin Kuang yang tadinya bersila di atas ranjang tiba-tiba melompat berdiri, mengenakan pakaian olahraganya, lalu dengan cepat melesat keluar kamar.
Di depan pintu ruang tamu, muncul dua sosok bayangan hitam. Kedua orang itu baru saja hendak melangkah masuk ke ruang tamu ketika mereka melihat Lin Kuang sudah berada di dalam ruangan.
"Pembunuh bayaran, berani-aninya kalian datang untuk membunuhku!"
Lin Kuang berkata dengan ekspresi dingin. Ia tahu kedua orang itu pasti akan mendengarnya.
Melihat kemunculan Lin Kuang, kedua pembunuh bayaran itu tertegun sejenak, namun mereka tetap melangkah masuk ke ruang tamu.
Kedua orang itu dijuluki sebagai si Kembar Bayangan. Dalam daftar peringkat pembunuh bayaran domestik, kekuatan mereka berdua cukup untuk masuk ke dalam sepuluh besar. Bahkan para pembunuh di peringkat lima besar pun enggan berurusan dengan mereka berdua karena mereka sangat merebutkan dan sulit dihadapi.
"Orang-orang dari Darah Gelap benar-benar bertingkah seperti anjing kudisan. Ck, ck, orang itu sudah mati, lalu kalian datang menyusul?
Jika aku tidak salah duga, kalian berdua ini adalah si Kembar Bayangan, bukan? Ck, ck, posisi kalian di daftar pembunuh bayaran domestik cukup tinggi rupanya."
Lin Kuang berkata sambil tersenyum tipis.
Bagi Lin Kuang, banyak hal yang diketahuinya dengan sangat jelas, terutama berbagai urusan yang cukup terkenal di dalam negeri.
Organisasi pembunuh bayaran bernama Darah Gelap itu sangat kuat di dalam negeri, dan bahkan di kancah internasional, organisasi tersebut memiliki pengaruh tersendiri.
Mendengar kata-kata Lin Kuang, tatapan mata si Kembar Bayangan sedikit berubah, seolah-olah mereka tidak menyangka Lin Kuang bisa mengenali identitas mereka.
"Kalian bahkan tahu nama besar kami, si Kembar Bayangan?
Bocah, karena kau sudah tahu, apakah kau akan bunuh diri atau membiarkan kami berdua yang repot-repot menghabisimu?"
Ucap pemimpin si Kembar Bayangan dengan nada menyeramkan.
"Huh, saat kalian melompat turun dari atap tadi, apakah otak kalian terbentur sampai rusak? Kata-kata bodoh seperti itu bisa-bisanya keluar dari mulut kalian? Kalian benar-benar tidak tahu diri."
Lin Kuang berkata dengan nada tidak senang. Kedua keparat ini benar-benar menganggap dirinya sebagai boneka tanah liat yang bisa diremas semau mereka?
Mendengar ucapan Lin Kuang, si Kembar Bayangan kembali tertegun.
Biasanya ketika mereka pergi menjalankan misi, siapa pun yang mendengar nama si Kembar Bayangan pasti akan ketakutan setengah mati hingga buang air dan memohon ampun sambil berlutut?
Hal semacam itu sudah menjadi pemandangan biasa bagi mereka, tetapi Lin Kuang justru berani membantah dan bahkan memaki mereka, membuat si Kembar Bayangan merasa sangat murka.
"Ck, ck, bocah, nyali mu besar sekali. Sebentar lagi, kami akan membuatmu membayar mahal atas keangkuhanmu!"
Pemimpin si Kembar Bayangan kembali berbicara dengan nada menyeramkan dan sangat tidak sedap didengar.
"Badut, tempat ini tidak cocok untuk bertarung.
Bukankah kalian ingin membunuhku? Kalau begitu, ikuti aku."
Sambil berbicara, Lin Kuang melangkah santai melewati mereka berdua, lalu membuka pintu utama dan melangkah ke luar.
Si Kembar Bayangan tertegun sejenak, hampir tidak percaya bahwa Lin Kuang bisa begitu santai berjalan melewati mereka. Selama mereka menjalankan berbagai misi, ini adalah pertama kalinya mereka menemui lawan seperti itu!
"Adik, berhati-hatilah. Bocah ini sepertinya tidak sederhana."
Pemimpin si Kembar Bayangan berkata dengan nada yang agak serius.
"Tidak masalah, dia hanya bocah yang besar kepala. Ayo pergi, Kak, aku ingin melihat trik apa yang bisa dimainkan oleh bocah ini."
Anggota kedua si Kembar Bayangan berkata dengan nada meremehkan.
Sambil berbicara, ia melangkah menyusul Lin Kuang.
Melihat itu, sang kakak pun buru-buru mengikutinya dari belakang.
Ketiga orang itu dengan cepat meninggalkan kompleks vila dan kembali ke area hutan tempat Lin Kuang menghabisi Tian Wei sebelumnya.
"Tempat ini cukup bagus. Orang yang kalian utus terakhir kali tewas di tanganku di sini, dan kurasa tempat ini juga sangat cocok untuk dijadikan kuburan kalian."
Lin Kuang berdiri dengan tangan bersidekap di belakang punggung, tersenyum tipis.
"Ck, ck, membunuh kami? Hanya mengandalkanmu? Bocah, otakmu sudah konslet ya?"
Anggota kedua si Kembar Bayangan berkata dengan nada suram yang penuh dengan cibiran.
"Coba saja kalau tidak percaya. Untuk menghadapi kalian berdua, apakah aku perlu membual?"
Lin Kuang berkata dengan nada yang sangat mendominasi.
Namun, di telinga si Kembar Bayangan, kata-kata itu terdengar sangat arogan dan menyebalkan!
"Kakak, serang! Bocah ini terlalu sombong, mari kitahabisi dia!"
Anggota kedua si Kembar Bayangan berucap dengan suara dingin.
Seketika itu juga, dua bilah pisau pendek yang memancarkan kilau dingin muncul di tangannya. Begitu pula dengan sang kakak, yang juga mengeluarkan dua bilah pisau belati dari balik pakaiannya.
Dalam sekejap, keduanya menerjang maju bersamaan. Keempat bilah pisau yang berkilat tajam itu menusuk ke arah tubuh Lin Kuang dengan liar.
Sang kakak menyerang bagian atas tubuh Lin Kuang, mengincar kepala, leher, dan dada.
Sementara sang adik menyerang bagian bawah tubuh Lin Kuang, mengincar perut dan kedua kakinya!
Melihat koordinasi serangan mereka berdua, mata Lin Kuang sedikit bersinar. Harus diakui, kerja sama di antara si Kembar Bayangan ini memang memiliki keunggulan tersendiri, pantas saja mereka bisa mencatatkan nama besar di dunia pembunuh bayaran.
"Kekuatan yang lumayan, hanya saja kecepatan kalian masih agak lambat."
Lin Kuang berdiri dengan tangan bersidekap di belakang punggung, tersenyum santai.
Seketika itu juga, bayangan tubuh Lin Kuang bergerak bagaikan hantu, menghindari serangan mereka berdua dalam sekejap.
Bahkan ujung pisau di tangan si Kembar Bayangan sama sekali tidak berhasil menyentuh pakaian Lin Kuang!
Melihat pemandangan tersebut, ekspresi wajah kedua orang itu mau tidak mau berubah drastis. Kecepatan yang ditunjukkan oleh Lin Kuang benar-benar membuat mereka terkejut bukan main!