Bab 126: Keduanya Tertangkap
"Tuan, tindakan Anda ini sama saja dengan menerobos masuk ke rumah orang! Saya bisa melapor ke polisi!" seru Chen Ruilian dengan nada tajam, berharap bisa menakut-nakuti Lin Kuang.
Lin Kuang berbalik, tatapannya kini sedingin es.
"Chen Ruilian, katakan padaku, siapa yang menyuruhmu menaburkan zat karsinogenik itu pada kain-kain tersebut? Berapa banyak uang yang sebenarnya kau terima?"
Lin Kuang membentak dingin. Aura yang kuat memancar dari dalam dirinya, menyelimuti Chen Ruilian dengan tekanan yang mencekam. Wajah Chen Ruilian berubah pucat pasi, ia terduduk lemas di lantai dengan tatapan yang penuh kepanikan.
Lin Kuang menatapnya dengan dingin, merekam setiap ekspresi yang terpancar di wajah wanita itu. Ia tahu dugaannya tidak salah; orang yang sengaja menaburkan bahan berbahaya itu memang Chen Ruilian. Jika bukan, mengapa tatapannya begitu panik dan ketakutan? Itu bukanlah reaksi orang yang tidak bersalah.
"Ka-kau... apa maksudmu? Jangan coba-coba memfitnahku!"
Setelah cukup lama, Chen Ruilian baru bisa menguasai dirinya. Ia berdiri dari lantai dan berteriak dengan suara melengking, namun kepanikan dan ketakutan di matanya justru semakin menjadi-jadi.
"Aku tidak ingin membuang waktu denganmu. Katakan siapa dalangnya, maka aku akan mengampunimu. Jika tidak, inilah akibatnya!"
Sambil berbicara, Lin Kuang mengeluarkan Desert Eagle dari balik punggungnya dan menodongkan moncong pistol hitam itu tepat ke dahi Chen Ruilian.
Merasakan sensasi dingin dari logam senjata di dahinya, Chen Ruilian gemetar hebat hingga ia kehilangan kendali atas kandung kemihnya. Bau busuk seketika memenuhi ruangan. Menghadapi situasi ini, Chen Ruilian tidak lagi berani berpura-pura bodoh. Ia pun menceritakan kronologi kejadian dengan jujur.
"Tolong, jangan bunuh aku! Meskipun aku menerima satu juta, semua ini karena dipaksa oleh Cui Zhongsha. Kalau aku tidak melakukannya, mereka akan membunuhku. Kumohon, jangan bunuh aku!" rintih Chen Ruilian sambil menangis. Kali ini ia benar-benar ketakutan.
"Apa pekerjaan Cui Zhongsha itu? Di mana dia tinggal?" tanya Lin Kuang lagi.
"Aku... aku tidak tahu apa pekerjaannya. Kami hanya berhubungan satu arah. Jika ada urusan, dia akan meneleponku untuk menemuinya," jawab Chen Ruilian.
"Baiklah, telepon dia. Pergilah ke tempat kalian biasa bertemu," ujar Lin Kuang datar.
"Bi-biasanya kami bertemu di rumahku," jawab Chen Ruilian dengan suara bergetar.
"Kalau begitu, suruh dia datang ke sini. Cepat! Dan bersihkan dirimu dulu!" Lin Kuang menyimpan kembali pistolnya.
"Baik, a-aku akan meneleponnya sekarang." Dengan tangan gemetar, Chen Ruilian menghubungi ponsel Cui Zhongsha. Setelah membuat janji, ia segera pergi ke kamar mandi.
Sekitar lima belas menit kemudian, Chen Ruilian selesai mandi dan berganti pakaian. Harus diakui, wanita ini cukup menawan dan bisa dibilang cantik. Namun, Lin Kuang tidak peduli. Ia duduk di sofa menunggu dengan tenang, sementara Chen Ruilian berdiri di samping, bahkan tidak berani bernapas dengan lega.
Sepuluh menit berlalu, suara ketukan pintu terdengar. Ketukan itu membuat Chen Ruilian terlonjak kaget. Melihat itu, Lin Kuang berdiri dan memberi isyarat kepada Chen Ruilian. Wanita itu mengangguk cepat, mencoba menenangkan diri sebelum membuka pintu.
"Si cantik, kenapa berpakaian begitu minim? Sedang merayuku?" suara seorang pria terdengar.
Seorang pria berusia tiga puluhan melangkah masuk dan langsung memeluk serta menciumi Chen Ruilian dengan liar. Jelas sekali, pria ini adalah Cui Zhongsha.
Melihat itu, Lin Kuang mengerutkan kening. Ia mencengkeram kerah baju Cui Zhongsha dan langsung melemparkannya ke lantai.
"Aduh!" Cui Zhongsha mengerang kesakitan.
Sebelum pria itu sempat sadar sepenuhnya, Lin Kuang menendang pangkal pahanya. Cui Zhongsha melolong kesakitan, keringat dingin bercucuran di dahinya.
"Kau... siapa kau?" tanya Cui Zhongsha dengan tatapan garang saat melihat Lin Kuang.
"Siapa aku? Tidak perlu tahu. Jawab dulu, siapa kau? Mengapa kau menyuruh Chen Ruilian membawa zat karsinogenik ke pabrik Yashi?" tanya Lin Kuang datar sambil kembali menendang paha pria itu.
"Pelacur! Dasar pelacur busuk, kau berani mengkhianatiku!" Cui Zhongsha menatap Chen Ruilian dengan kebencian luar biasa, seolah ingin menelannya hidup-hidup. Chen Ruilian gemetar ketakutan dan tidak berani berkata sepatah kata pun.
"Aku sedang bertanya padamu, apa kau tuli?" Lin Kuang menginjak pangkal paha Cui Zhongsha dengan keras.
Cui Zhongsha hendak berteriak, namun saat melihat tatapan dingin Lin Kuang yang terasa tidak manusiawi, ia menelan kembali teriakannya.
"Kau... sebenarnya kau ini siapa?!" tanya Cui Zhongsha dengan wajah pucat, tangannya diam-diam bergerak ke arah punggung.
"Jangan pedulikan siapa aku. Aku tanya sekali lagi, siapa kau sebenarnya?!" Suara Lin Kuang semakin dingin, hingga suhu di ruangan itu seakan ikut turun.
Cui Zhongsha menelan ludah dengan susah payah, matanya penuh horor. Tiba-tiba, ia menarik tangannya dari balik punggung dan menodongkan pistol ke arah Lin Kuang.
"Aku adalah orang yang akan membunuhmu!" Cui Zhongsha hendak menarik pelatuk.
Namun, ia tidak menyangka bahwa gerakannya sudah terbaca oleh Lin Kuang. Saat pistol itu baru muncul, Lin Kuang bergerak secepat bayangan dan menginjak tangan pria itu.
"Krak!" Pergelangan tangan Cui Zhongsha hancur di bawah injakan Lin Kuang, dan pistol itu jatuh ke lantai.
"Aaaah!" Jeritan kesakitan yang memilukan keluar dari mulut Cui Zhongsha.
"Tutup mulutmu dan jawab pertanyaanku!" perintah Lin Kuang dingin.
Cui Zhongsha benar-benar ketakutan. Keyakinan terakhirnya telah hancur, dan ia tidak lagi memiliki keberanian untuk melawan.
"Aku... aku akan bicara. Aku orang dari Badan Pengawas Kualitas. Semua ini dilakukan atas perintah atasan."
"Oh? Atasan?" tanya Lin Kuang.
"Ya, Kepala Badan. Kudengar ini semua perintah dari Tuan Muda Chu, Chu Zhongtian. Tapi itu hanya dengar-dengar, aku tidak yakin."
"Bagus kau tahu diri. Di mana rumah kepala badanmu?" tanya Lin Kuang lagi.
Cui Zhongsha tidak berani menyembunyikan apa pun dan segera memberikan alamat rumah sang kepala badan. Lin Kuang mengangguk, lalu memukul Cui Zhongsha hingga pingsan, mengikatnya, dan membiarkannya tergeletak di ruangan itu.
"Kau awasi dia di sini. Jangan berani pergi. Jika kau pergi, kau tahu apa akibatnya!" Lin Kuang menatap Chen Ruilian dengan dingin sebelum berbalik dan pergi.