Bab 130 Mendekatlah sedikit
Melihat pesona Yang Ruotong, hati Lin Kuang berdebar. Terlebih ketika teringat pemandangan yang dilihatnya di kamar mandi hari itu, telapak tangan Lin Kuang tanpa sadar meremas bagian dada Yang Ruotong yang berisi.
Uji iklan tanda air Uji iklan tanda air
Dalam sekejap, tubuh mungil Yang Ruotong bergetar hebat. Wajah cantiknya memerah hingga seakan-akan darah hendak menetes, sementara sepasang mata indahnya melotot tajam kepada Lin Kuang.
Namun, selain rasa malu, sepertinya tak ada tanda-tanda ia benar-benar menyalahkannya.
Saat itu, Lin Kuang pun tersadar. Tatapannya dipenuhi kecanggungan.
“Ehm… Kak Tong, kau temani Xinxin dulu. Aku naik ke atas untuk mengobati Ruoxi.”
Dengan sangat canggung, Lin Kuang segera berbalik dan naik ke lantai atas. Ia tak berani berlama-lama di sana.
“Apakah aku sedang terlalu merindukan perempuan? Kalau tidak, mengapa tanganku sampai tak bisa kukendalikan?”
Lin Kuang menatap tangan kanannya sambil menggerutu dalam hati.
Kemudian ia mengangkat telapak tangannya ke bawah hidung dan menciumnya. Sepertinya masih ada aroma harum samar yang tertinggal.
Menyadari apa yang dilakukannya, Lin Kuang merasa semakin canggung. Ia segera menurunkan tangannya lalu masuk ke kamar Yang Ruoxi.
Saat itu, Yang Ruoxi sudah duduk bersila di atas ranjang dan sedang menunggu kedatangannya.
“Ruoxi, aku datang.”
Duduk di belakang Yang Ruoxi, Lin Kuang berkata sambil tersenyum lebar.
Mendengar itu, wajah kecil Yang Ruoxi sedikit memerah. Mengapa ucapan Lin Kuang terdengar begitu ambigu? Seolah-olah mereka berdua hendak melakukan sesuatu.
“Ruoxi, pusatkan pikiranmu. Apa yang sedang kau pikirkan?”
Duduk di belakangnya, Lin Kuang bertanya dengan rasa ingin tahu.
“Ah… tidak, tidak ada apa-apa. Kita mulai saja.”
Yang Ruoxi segera menjawab, wajah cantiknya sedikit merona.
“Baiklah, kita mulai.”
Sambil berkata demikian, Lin Kuang menempelkan telapak tangannya ke punggung Yang Ruoxi, lalu mengalirkan tenaga sejati yang sangat panas dan kuat dari dalam tubuhnya ke tubuh Yang Ruoxi.
Setengah jam kemudian, Lin Kuang menarik kembali tangannya. Mereka berdua pun turun dari ranjang.
“Ruoxi, tadi sebenarnya apa yang kau pikirkan?”
Melihat wajah kecil Yang Ruoxi, Lin Kuang bertanya dengan senyum usil.
“A-apa? Aku tidak memikirkan apa pun!”
Menatap sorot mata Lin Kuang yang penuh maksud tersembunyi, Yang Ruoxi berkata dengan wajah memerah.
“Benarkah? Jangan-jangan kau sedang memikirkanku?”
Lin Kuang bertanya sambil tersenyum lebar.
“Dasar narsis dan tak tahu malu! Aku sama sekali tidak memikirkanmu!”
Yang Ruoxi menjawab dengan kesal.
“Begitu? Jadi kau benar-benar tidak memikirkanku?”
Lin Kuang bertanya dengan nada sedih.
“Tidak, tidak!”
Yang Ruoxi kembali menegaskan.
“Ah, sungguh menyedihkan.”
Lin Kuang memasang wajah penuh penderitaan. Sikapnya tampak seperti seorang istri muda yang baru saja ditinggalkan, dengan raut wajah yang dipenuhi rasa tersakiti.
Melihat hal itu, hati Yang Ruoxi terasa sedikit tidak nyaman.
“B-bukan berarti aku sama sekali tidak memikirkanmu.”
“Haha, aku sudah menduganya. Mana mungkin Ruoxi tidak memikirkanku?”
Lin Kuang berkata sambil tersenyum puas, seolah-olah rencananya telah berhasil.
Melihat itu, wajah cantik Yang Ruoxi kembali memerah. Ia akhirnya sadar bahwa dirinya sekali lagi telah ditipu oleh bajingan di hadapannya.
“Bajingan! Aku tidak mau bicara denganmu lagi!”
Yang Ruoxi berkata dengan geram, lalu berbalik dan pergi.
Menatap punggung Yang Ruoxi yang menjauh, Lin Kuang tertawa geli dalam hati. Gadis itu benar-benar seperti anak kecil, terlalu polos.
Setelah itu, Lin Kuang pun turun dan pergi.
Ia duduk sebentar di lantai bawah. Menjelang pukul sembilan malam, barulah Lin Kuang pergi dan mengemudi kembali ke vila Liu Shilin.
Di dalam vila, Liu Shilin duduk sendirian di ruang tamu. Kedua tangannya menopang dagu, sementara tatapannya kosong menerawang.
“Shilin, apa yang sedang kau pikirkan?”
Melihat Liu Shilin seperti kehilangan arah, Lin Kuang bertanya sambil tersenyum.
“Ah… tidak ada apa-apa. Kau sudah pulang?”
Liu Shilin menoleh kepada Lin Kuang yang duduk di sampingnya, lalu bertanya sambil tersenyum.
“Ya, aku sudah pulang. Kau juga tidak perlu cemas lagi. Masalah Yashi sudah selesai.”
Melihat beratnya beban pikiran Liu Shilin, Lin Kuang berkata sambil tersenyum.
“A-apa? S-sudah selesai?”
Liu Shilin tertegun. Dengan mata terbelalak, ia menatap Lin Kuang seolah tak percaya.
Lin Kuang mengangguk sambil tersenyum.
“Tentu saja. Besok kau akan tahu. Yashi sudah baik-baik saja.”
“Lin Kuang, kau sungguh luar biasa!”
Sambil berkata demikian, Liu Shilin memeluk tubuh Lin Kuang dan mengecup sudut bibirnya dengan penuh semangat. Wajahnya menunjukkan kegembiraan yang tak dapat disembunyikan, seakan seluruh kemurungan sebelumnya telah lenyap.
Lin Kuang menatap Liu Shilin dengan tatapan kosong. Bahkan lidahnya sempat menjilat sudut bibirnya.
“Shilin, kau baru saja menciumku?”
“Hah?”
Mendengar ucapan Lin Kuang, Liu Shilin tertegun.
Barulah saat itu Liu Shilin menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Wajah cantiknya seketika memerah, dan matanya dipenuhi rasa malu. Ia menundukkan kepala, menghindari tatapan Lin Kuang, sementara hatinya terasa sangat canggung.
Ia tadi hanya terlalu gembira. Karena terbawa suasana, ia langsung menciumnya.
Bagaimanapun, Yashi adalah seluruh jerih payah Liu Shilin. Walaupun ia mengatakannya dengan ringan—bahwa ia tidak akan peduli sekalipun perusahaan itu bangkrut dan ia masih bisa membuka perusahaan baru—jauh di lubuk hatinya, ia sebenarnya sangat memedulikannya.
Sebab, Yashi bagaikan anaknya sendiri. Melihat anaknya perlahan-lahan menuju kehancuran, bagaimana mungkin ia tidak merasa cemas? Beberapa hari terakhir benar-benar sangat melelahkan baginya.
Namun, ketika mendengar ucapan Lin Kuang tadi, kegembiraan yang begitu besar langsung membuat Liu Shilin kehilangan kendali.
Liu Shilin yang terlalu bahagia bahkan tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan kegembiraannya, sehingga ia spontan mencium Lin Kuang.
Terlebih lagi, itu adalah ciuman pertamanya. Dengan begitu saja, dalam keadaan linglung, ia menyerahkannya sendiri. Memikirkannya membuatnya sedikit kesal.
Liu Shilin terus menundukkan kepala tanpa berkata apa-apa, sementara Lin Kuang hanya menatapnya dengan pandangan kosong.
Setelah terdiam selama puluhan detik, atau mungkin lebih lama, Lin Kuang akhirnya tersadar.
“Shilin.”
Lin Kuang memanggil Liu Shilin yang masih menundukkan kepala.
“Ah… a-ada apa?”
Dengan kepala tertunduk, Liu Shilin menjawab pelan. Saat ini ia sama sekali tidak berani mengangkat wajah, sebab tidak tahu bagaimana harus menghadapi Lin Kuang.
“Bolehkah aku menciummu sekali lagi?”
Lin Kuang berkata sambil tersenyum lebar.
Mendengar itu, Liu Shilin tertegun. Wajahnya memerah saat ia melotot kepada Lin Kuang.
“Pantas saja Shiyu bilang kau bajingan!”
Liu Shilin berkata dengan kesal. Pria ini benar-benar tahu caranya mengambil kesempatan. Namun, jauh di dalam hatinya, ia sama sekali tidak merasa marah.
“Hehe, baiklah. Aku hanya bercanda.”
Lin Kuang kemudian berkata dengan sungguh-sungguh, “Aku ingin memberitahumu bahwa masalah ini memang sudah selesai, tetapi kelak perusahaan kita mungkin masih akan menghadapi masalah lain. Jadi, kau harus lebih berhati-hati dan juga lebih kuat. Apa pun yang terjadi, selama aku masih ada, aku tidak akan membiarkan Yashi hancur!”
Menatap mata indah Liu Shilin yang masih dipenuhi rasa malu, Lin Kuang mengucapkannya dengan sangat serius.
Mendengar perkataannya, tubuh Liu Shilin bergetar hebat. Rasa terima kasih yang mendalam tampak jelas di matanya.
“Lin Kuang, terima kasih.”
Liu Shilin mengucapkannya dengan sangat tulus.
“Tidak perlu berterima kasih. Itu memang hal yang seharusnya kulakukan.”
Lin Kuang berkata sambil tersenyum.
“Duduklah lebih dekat.”
Liu Shilin tiba-tiba berkata.
Lin Kuang sempat tertegun, tetapi tetap mendekat.
Saat itulah Liu Shilin, dengan wajah memerah, mengerucutkan bibirnya lalu mengecup sudut bibir Lin Kuang dengan lembut.
Terima kasih kepada Yong Bu Jie Shi dan Doraemon atas hadiahnya!