Bab 153, Kebangkitan Apokalips (Bagian Tiga!)
Situs peninggalan Dinasti Pertama Mesir Kuno.
Setelah mengurung Profesor X, Tuan Sinister segera bergegas menuju Mesir untuk memantau pekerjaan penggalian makam Apocalypse.
Pekerjaan penggalian telah mencapai tahap akhir. Hanya dibutuhkan beberapa bahan peledak untuk meledakkan lapisan pecahan batu terakhir guna membuka sebuah terowongan menuju istana Apocalypse.
Apocalypse, yang bernama asli En Sabah Nur, adalah seorang mutan yang lahir dari Dinasti Pertama Mesir Kuno lebih dari tiga ribu tahun sebelum Masehi.
Selama ribuan tahun pemerintahannya atas Mesir Kuno, Apocalypse terus-menerus menangkap para mutan yang memiliki kemampuan unik, lalu melakukan transfer kekuatan dan kesadaran untuk memindahkan seluruh eksistensinya ke dalam tubuh orang lain demi merenggut segala hal yang dimiliki korban tersebut.
Proses transfer ini tidak akan menghapus kekuatan yang telah dimiliki Apocalypse sebelumnya; sebaliknya, kemampuannya semakin terakumulasi dan bertambah kuat.
Keabadian, pengendalian molekul, dan transfer energi adalah perlengkapan standarnya.
Apocalypse memiliki banyak sekali pengikut, terutama berkat kemampuannya untuk meningkatkan level kekuatan para pengikutnya. Di dalam alur cerita film, Apocalypse membantu Storm, Psylocke, Angel, dan Magneto untuk melepaskan kekuatan mereka, secara drastis mendongkrak satu tingkat kekuatan mereka.
Di belakang Tuan Sinister, selain Juggernaut Cain Marko, terdapat dua wanita.
Salah satunya adalah seorang pembunuh bayaran berkemampuan super kuat yang disewa Tuan Sinister dengan bayaran mahal, bernama Psylocke, yang memiliki keahlian berpedang tingkat tinggi serta kemampuan mutasi untuk menciptakan senjata dari energi psikis.
Wanita lainnya adalah seorang pencopet wanita berkulit hitam yang tidak sengaja ia temui belum lama ini.
Semula, berdasarkan kepribadian Tuan Sinister, siapa pun yang berani mencuri dompetnya sudah beruntung jika tidak dicincang saat itu juga. Namun, setelah menangkap pencopet wanita tersebut, Tuan Sinister mendapati bahwa ia ternyata memiliki garis keturunan sihir sekaligus seorang mutan.
Tentu saja, saat ini sudah menjadi tren untuk menyebut para mutan sebagai manusia super, hanya saja Tuan Sinister kurang menyukai sebutan baru tersebut.
"Hari ini, dunia ini akan menyambut penguasa sejati mereka, sesosok dewa yang agung. Cain si Juggernaut, Elizabeth sang Psylocke, Ororo sang Storm, Apocalypse akan memandu kalian menuju jalan ke abadian."
Tuan Sinister membuka kedua belah tangannya, menatap dengan ekspresi penuh semangat ke arah tiga ksatria yang telah ia pilih untuk Apocalypse.
Di antara ketiganya, Juggernaut mengenakan helm merah sehingga ekspresi wajahnya tidak terlihat, sementara Psylocke memasang ekspresi jijik.
Omong kosong apa soal memandu jalan keabadian, seandainya bukan karena majikan ini bodoh tapi banyak uang, ia sama sekali tidak sudi mendengarkan cara bicara orang gila tersebut.
Adapun Storm alias Ororo merasa jauh lebih kesal lagi.
Ia sama sekali tidak percaya pada skenario kebangkitan mutan kuno untuk menguasai dunia. Ororo sendiri merupakan seorang imigran asal Kenya, dan di dalam aliran darah keluarganya mengalir sihir pengendali cuaca.
Namun, seiring dengan semakin tipisnya garis keturunan sihir tersebut dan merosotnya martabat keluarga, ia menjadi seorang anak jalanan yang bertahan hidup dengan cara mencuri.
Storm alias Ororo bisa menggunakan sihir putih sekaligus seorang manusia super yang memiliki kemampuan mutasi untuk mengendalikan cuaca, hanya saja di usianya saat ini, kemampuan pengendali cuacanya belum sepenuhnya bangkit sebelum akhirnya ia dibawa oleh Tuan Sinister ke tempat penggalian makam Apocalypse.
Duar! Duarrr!!
Seiring dengan suara ledakan yang bersahutan, makam Apocalypse berhasil dihancurkan. Setelah tertidur selama ribuan tahun, seberkas sinar matahari untuk pertama kalinya kembali menyinari istana Apocalypse.
Merasakan energi dari matahari.
Di dalam reruntuhan istana di bawah tanah, tiba-tiba muncul pola-pola keemasan yang berkumpul dari segala penjuru dan mengalir deras menuju tempat peristirahatan terakhir Apocalypse.
Bummmm!!
Satu lagi suara gemuruh yang menggelegar terdengar, bagaikan sebuah gempa bumi, seluruh wilayah Mesir merasakan guncangan yang hebat.
Kerumunan orang di tempat kejadian kencang berlarian menyelamatkan diri. Tepat ketika Ororo berniat memanfaatkan kekacauan untuk menyelinap pergi, tanah di depannya tiba-tiba hancur berkeping-keping, berubah menjadi kepulan pasir hisap yang berputar-putar di udara.
"Apa itu?!" Ekspresi Ororo dan Psylocke membeku.
Tampak badai pasir hisap berputar menutupi langit dan bumi, lalu berpusar menyebar ke segala arah. Di tengah badai pasir yang memenuhi langit itu, keluarlah sesosok makhluk dengan sekujur tubuh berwarna biru gelap.
"Aku merasakan panggilan yang penuh keimanan. Apakah kalian yang membangunkanku? Anak-anakku!"
Sebuah suara rendah menembus kehampaan yang tak berujung, terpancar langsung ke dalam benak setiap orang yang berada di tempat kejadian.
Apocalypse yang baru saja bangkit tentu saja tidak berbicara dalam bahasa Mesir ataupun bahasa Inggris, namun ia mampu menggunakan pikirannya untuk berkomunikasi tanpa hambatan dengan siapa pun di sana.
Tuan Sinister memasang senyum menjilat sambil menggosok-gosok kedua tangannya seperti lalat: "Dewa sejati yang abadi, Yang Mulia Apocalypse yang agung, sejak aku menerima 'wahyu suci' Anda, aku tidak pernah berhenti mencari keberadaan Anda, dengan segenap jiwa raga ingin membangkitkan Anda dari tidur panjang."
Meskipun disanjung habis-habisan oleh Tuan Sinister, Apocalypse masih merasa sedikit pusing. Bagaimanapun juga, ia telah tertidur selama ribuan tahun sehingga merasa sedikit kikuk.
"Sekarang, siapakah penguasa dunia ini? Dan bagaimana keadaan kaumku?"
Dalam pandangan dunia Apocalypse, ia masih tertinggal di masa dinasti Mesir Kuno ribuan tahun lalu. Tuan Sinister terdiam sesaat, tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana. Setelah berpikir sejenak, ia menunjuk ke arah truk besar di belakangnya.
"Yang Mulia Apocalypse, cerita ini sangat panjang. Nanti setelah kita kembali, aku akan menjelgaskannya perlahan kepada Anda."
Di dalam alur cerita aslinya, Apocalypse menyentuh sebuah televisi dan merambah jaringan data untuk membaca seluruh pengetahuan peradaban modern dalam sekejap. Namun saat ini, jangankan televisi, bahkan tempat tinggal yang layak pun tidak ada di sekitar sini.
Apocalypse tidak lagi mempermasalahkan siapa penguasa saat ini, karena ia yakin setelah dirinya bangkit, ia akan kembali menguasai dunia ini.
Setelah itu, Apocalypse mengalihkan pandangannya kepada tiga orang di belakang Tuan Sinister.
Pertama adalah Juggernaut.
"Kau bukan seorang mutan, tapi... kau memiliki kekuatan luar biasa yang melampaui batas, sayang sekali kau belum tahu cara menggunakannya!"
Apocalypse mengulurkan satu tangannya, perlahan mendekati Juggernaut yang bertubuh kekar. Juggernaut tidak mengerti apa yang hendak dilakukan lawannya; ia mengepalkan tinjunya, sementara hatinya diliputi oleh gelombang emosi liar yang tidak diketahui asal-usulnya, seolah-olah siap meledak kapan saja.
"Aarrgh! Rrrrrgh!!"
Seluruh tubuh Juggernaut tiba-tiba diselimuti oleh nyala api berwarna merah darah. Ia meraung penuh amarah, seolah-olah ada amarah tak bertepi yang ingin ia luapkan. Pada saat yang sama, kepalan tangannya semakin erat, dan dari buku-buku jarinya tumbuh duri-buli tulang yang menyerupai baja.
Bahkan otot-otot di tubuh Juggernaut mengalami metamorfosis kualitatif menyerupai baja, membuatnya tampak seperti raksasa Titan yang ditempa dari tembaga dan besi.
"Ya Tuhan, apa yang telah kau lakukan padanya?!"
Psylocke yang berada di samping benar-benar merasa ketakutan.
Sebelumnya, Juggernaut sudah menjadi sesosok makhluk yang sangat kuat. Di dalam komik, Juggernaut bahkan mampu menahan secara langsung palu Thor dan cakar adamantium Wolverine. Sekarang, setelah kemampuannya ditingkatkan oleh Apocalypse untuk membantunya menguasai kekuatan dewa kegelapan Cyttorak secara lebih mendalam, kekuatannya telah mencapai lompatan kualitatif.
Tepat saat Psylocke melamun, pandangan mata Apocalypse entah sejak kapan telah jatuh tertuju padanya.
"Kemarilah, tunjukkan padaku kekuatanmu."
Psylocke melirik Juggernaut yang tubuhnya semakin membesar dan menebal, lalu ia memaksa dirinya untuk menyunggingkan senyuman canggung: "Tuan yang terhormat, kalau saya, lebih baik tidak usah!"