Bab 30: Tampaknya... ada sedikit kepolosan
Bab 30: Tampaknya... memang agak polos
Setelah seluruh hadiah diterima, tibalah saatnya menggelar perjamuan. Raja Langit bangkit berdiri, mengajak para abadi berpindah ke Kolam Giok, dan pesta megah pun dimulai.
Raja Langit mengangkat cawan araknya. "Para abadi sekalian, telah datang dari jauh untuk menghadiri upacara pengangkatan saudari angkatku. Hatiku sungguh gembira... Silakan, para abadi, minumlah bersama."
Setelah kata-kata basa-basi itu, musik surgawi menggema, tarian indah mengisi ruangan, benar-benar pemandangan penuh suka cita. Pesta di Kolam Giok memang selalu menjadi ajang bagi para abadi untuk saling berkenalan, membangun relasi—eh, maksudnya mempererat persahabatan antarsesama abadi.
Biasanya, pesta Kolam Giok hanya diadakan lima ratus tahun sekali. Kali ini, Kolam Giok mendapat kehormatan karena keberuntungan Wu Yue.
Perut Wu Yue terasa sangat penuh. Tadi di aula utama, ia sudah dijejali makanan oleh gurunya yang tidak berperasaan. Kini, melihat arak abadi dan buah-buahan di perjamuan, rasanya semua itu tak bisa menandingi hidangan lengkap buatan kakak keduanya di rumah. Ia benar-benar tidak berselera.
Ya, ia tidak mau mengakui bahwa perutnya yang kekenyangan membuatnya tak ingin makan lagi. Ia melirik perut kecilnya yang membuncit, lalu menggigit bibir, memutuskan mengabaikan makanan di meja dan berjalan-jalan keluar untuk menghilangkan rasa begah.
Gurunya sendiri, entah karena terlalu dingin atau memang kurang bergaul, sejak tadi duduk tanpa ada satu pun abadi yang mendekat untuk akrab dengannya.
Setelah setengah tahun bersama, Cang Li sudah cukup memahami watak Wu Yue. Melihat murid kecilnya ingin berjalan-jalan, Cang Li pun tidak melarang. Ia hanya mengangguk singkat, dan Wu Yue pun melangkah pergi dengan tubuh mungilnya yang bulat.
Kolam Giok, yang selama ini hanya ada dalam cerita mitos, kini benar-benar nyata di hadapannya. Tidak mungkin ia tidak merasa penasaran. Kolam Giok memang layak disebut sebagai salah satu tempat terindah di Sembilan Langit.
Berbeda dengan cerita mitos di kehidupan sebelumnya, di sini tidak ada Ratu Barat. Menurut kakak keduanya, tempat ini kelak akan menjadi taman pribadi Raja Langit dan calon permaisuri.
“Wah, benar-benar mewah,” gumam Wu Yue, menelusuri lorong sambil menikmati pemandangan.
Tak bisa disangkal, dunia langit memang indah. Cahaya kemerahan membias lembut, kabut kehijauan menyelimuti. Cahaya keberuntungan yang hanya bisa disaksikan manusia saat naik ke langit, di sini justru menjadi bagian dari keindahan sehari-hari.
Rumput keberuntungan yang abadi, bunga-bunga yang bermekaran tanpa pernah layu selama ribuan tahun, semuanya ada di sini. Danau bening, kabut tipis nan anggun, cahaya keemasan, kabut ungu yang memancarkan aura luar biasa—semua hanya bisa dilihat di Sembilan Langit.
Istana megah berdiri berjejer di antara awan dan kabut, samar-samar namun menawan.
Gerbang-emas, singgasana perak, bunga-bunga dan tanaman abadi; keindahan surgawi yang biasanya hanya bisa dilihat dalam mimpi, kini terpampang nyata di depan mata. Hati Wu Yue terasa begitu lapang dan bebas. Perasaan agung yang sulit diungkapkan kata-kata tumbuh begitu saja dalam dadanya.
Ia sendiri tak tahu mengapa perasaan agung dan luas itu muncul. Mungkin seperti perasaan manusia biasa saat berdiri di puncak pegunungan, perasaan yang datang tanpa alasan dan pergi pun begitu cepat.
Sebelum sempat menikmati lebih lama, perasaan itu sudah menghilang tanpa jejak. Melihat keindahan seperti ini, hati siapa pun pasti akan merasa damai. Akan lebih menyenangkan lagi kalau tak ada yang mengganggu.
Di sebuah paviliun, sekelompok abadi wanita mulai mendekat: ada Dewi, Peri, dan beberapa Gadis Ilahi, yang katanya para pengikut Dewi Bunga. Karena kecantikannya, mereka dijuluki Gadis Ilahi oleh para abadi.
Wu Yue melirik sejenak pada para abadi wanita yang mendekat, dengan aura yang anggun—ada yang sombong, ada yang manis, ada yang dingin—namun ia tetap tenang dan kembali menikmati pemandangan. Bagi Wu Yue, keindahan di depannya jauh melebihi para abadi wanita itu.
“Eh, bukankah ini sang putri baru dari Sembilan Langit? Kenapa sendirian di sini, tanpa seorang pelayan pun? Kalau sampai terjadi apa-apa, bagaimana jadinya?”
“Putri kecil? Putri kecil dari mana? Zhu Ying, matamu jangan-jangan bermasalah.”
“Dewi Fu Rong jangan salah paham pada Dewi Zhu Ying. Ia tak salah lihat. Hanya saja, fisik putri kita yang satu ini memang unik. Harus menunduk dulu baru bisa melihatnya.”
Yuanjun Chunhua yang ikut bicara tampak baru sadar telah berkata kurang pantas. Ia menutup mulut sambil tertawa kecil, pura-pura meminta maaf. “Aduh, maafkan mulutku yang suka ceplas-ceplos. Aku tidak sengaja, putri jangan dimasukkan ke hati.”
“Hahaha, Yuanjun Chunhua, kau memang terlalu jujur, suka bicara apa adanya. Tapi tenang saja, putri kita ini siapa, masa iya akan mempermasalahkan? Bukan begitu, putri?”
Harapan untuk menikmati pemandangan dengan tenang pupus sudah. Wu Yue menarik pandangannya dari kejauhan, lalu menoleh seolah baru menyadari kehadiran para abadi itu.
“Wah, sejak kapan di sini ada begitu banyak kakak peri cantik? Kakak-kakak peri juga sedang menikmati pemandangan, ya? Tempat ini memang bagus sekali untuk melihat-lihat. Kalian benar-benar tahu tempat yang indah.”
Suara lembut dan polos itu, begitu murni dan bersih. Melihat sikap Wu Yue, tampaknya ia sama sekali tidak mendengar percakapan para Dewi dan Yuanjun tadi.
Dewi Zhu Ying: “...”
Dewi Fu Rong: “...”
Yuanjun Chunhua: “...”
Peri Zi Yao yang berusaha mencairkan suasana: “...”
Ternyata, sandiwara yang mereka buat barusan sama sekali tidak berguna. Putri kecil ini tampaknya... memang agak polos.
“Putri, kenapa sendirian di sini?” Dewi Zhu Ying yang paling cepat tanggap segera tersenyum ramah, bertanya lembut.
“Eh, aku makan terlalu banyak, jadi keluar sebentar untuk jalan-jalan. Nanti harus kembali lagi, masih harus makan lagi. Kakak-kakak peri, makanan di langit enak sekali, aku belum puas makan.”
Wu Yue memegangi perutnya yang buncit, mengerutkan kening, wajahnya tampak agak bingung.
Para peri, dewi, dan yuanjun yang hadir: “...”
Putri baru ini, murid kesayangan dari Gunung Jiuyi... sepertinya memang sangat doyan makan. Melihat bentuk tubuhnya, para peri, dewi, dan yuanjun itu pun diam-diam mengangguk.
Kalau makanannya tidak enak, mana mungkin bisa gemuk seperti ini.
Mata para abadi itu pun langsung berbinar. Semua pikiran licik yang tadi sempat terlintas, seketika sirna.
Bagaimanapun juga, putri ini adalah murid kesayangan dari Gunung Jiuyi! Lihat saja, sepanjang hari tadi, bagaimana sang guru memeluk dan menyuapinya dengan penuh perhatian.
Dulu, mereka hanya bisa bermimpi mendapat perhatian seperti itu. Tapi dalam kenyataan, siapa yang berani berharap mimpi itu jadi nyata?
Kini, melihat putri kecil yang begitu polos dan doyan makan, mereka jadi berpikir... mungkinkah, barangkali, lewat putri ini, mereka bisa mendekat pada sang guru?
Kalaupun tidak bisa, setidaknya bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih sering berkunjung ke Gunung Jiuyi, sekadar melihat dari jauh pun sudah cukup!
...
Di tengah pesta Kolam Giok.
Menyisihkan sedikit perhatiannya, Raja Langit yang diam-diam mengamati Wu Yue, tak kuasa menahan sudut bibirnya yang bergerak-gerak.
Apa yang baru saja ia lihat?
Anak kecil dari Keluarga Rubah Langit ini, hanya dengan beberapa kata saja, sudah berhasil membelokkan pikiran para peri dan dewi yang ada.