Bab Tiga Padang Rumput Hijau Membentang
Wajah Yun Fei tampak penuh keterkejutan.
Ia memandang tak percaya saat kartu makan ditemukan dari dalam mejanya sendiri.
Namun, teman-teman di sekitarnya malah menatapnya dengan pandangan penuh hinaan.
“Jadi benar di kelas kita ada pencuri, kukira itu cuma gosip saja!”
“Sialan, pantesan waktu itu kartu makanku hilang, pasti itu ulah dia.”
“Hei, bukannya waktu itu kamu sendiri bilang kartumu hilang karena ceroboh? Kok sekarang malah dibilang dicuri orang?”
Kerumunan di sekitar terus saja memperbincangkan kejadian itu.
Sementara Yun Fei hanya merasa kepalanya kosong, bergumam tak percaya.
“Tak mungkin... Ini tidak seharusnya terjadi...”
“Benar... Pasti ada yang sengaja menjebakku...”
Saat itu Yun Fei benar-benar mulai meragukan hidupnya sendiri.
Namun, ia segera sadar kembali.
Sayangnya, di saat seperti itu, siapa lagi di kelas yang benar-benar percaya padanya?
...
Yun Fei berdiri tanpa ekspresi di dalam ruang guru.
Di depannya duduk seorang pengajar berseragam, Bu Bai.
Perempuan itu berkulit putih, cantik, wajahnya tirus dengan mata bening yang menggoda.
Dada indahnya, naik turun karena napas yang memburu, menandakan hatinya sedang sangat kesal.
Bu Bai adalah wali kelas Yun Fei.
“Ceritakan, sebenarnya apa yang terjadi?”
Wajah Yun Fei murung. “Saya juga tidak tahu kenapa, Bu! Kartu makan itu tiba-tiba saja muncul di meja saya.”
“Kamu pikir orang lain akan percaya dengan ucapanmu?” Bu Bai mengetuk meja, lalu melanjutkan.
“Karena hal ini sudah terjadi, kamu hanya bisa menerima hukuman. Setidaknya, pelanggaran berat sudah pasti kamu dapatkan.”
“Apa? Pelanggaran berat?”
Yun Fei langsung panik.
“Bagaimana bisa seperti ini? Saya jelas tidak mencuri, kenapa harus dituduh?”
“Masalahnya, pacarmu, Zhang Fang, menjadi saksi dan membenarkan bahwa kamu memang mengambil kartu makan orang lain.”
“Aku... sialan...”
Ternyata memang ulah sepasang bajingan itu.
Yun Fei langsung naik pitam.
Baru sekarang ia sadar.
Pasti Zhang Fang dan Li Shuai Cai sengaja menjebaknya.
Mereka ingin menghancurkannya.
Soal ini memang tidak terlalu besar, tapi juga tidak kecil. Meski mungkin tidak sampai pidana, namun akan jadi noda dalam riwayat hidupnya.
Bahkan, bisa saja ia disarankan untuk keluar dari kampus.
Ini menyangkut masa depannya.
Yun Fei semakin panik.
“Bu Bai, dengarkan dulu penjelasan saya...”
“Sudah, tak perlu dijelaskan lagi. Pihak sekolah sudah mengambil keputusan,” kata Bu Bai sembari mengetuk meja.
“Masalah ini sudah tersebar, bukti dan saksi lengkap, penjelasanmu tidak akan ada gunanya.”
Ia pun terdiam sejenak, lalu melanjutkan.
“Kamu juga sebentar lagi lulus dan akan masuk masyarakat, jadi sebaiknya kamu tenang saja. Pulanglah dan tulis surat pernyataan penyesalan. Akan saya usahakan agar pelanggaran beratmu bisa dibatalkan.”
“Tapi, Bu...”
“Keluarlah dulu, tulis suratnya.”
Yun Fei masih ingin membela diri, tapi langsung dihentikan.
Wajahnya semakin muram.
Menahan amarah dalam hati, ia melangkah keluar dari ruang guru dengan diam.
“Tunggulah kalian, dasar bajingan...”
...
Begitu keluar dari kantor guru, Yun Fei merasa teramat tertekan.
Ia ingin sekali membalas dendam pada sepasang pengkhianat itu.
Meski hatinya penuh ketidakrelaan, ia hanya bisa menahan diri.
Bagaimanapun, kuliahnya hampir selesai. Kalau ia melawan pihak kampus, bisa-bisa ijazah pun tak didapat.
Lima tahun kuliah kedokteran, sia-sia saja.
Belajar tanpa henti, berjuang keras, jika akhirnya tidak lulus, membayangkannya saja sudah membuat putus asa.
Namun kini ia dijebak.
Ia harus menerima catatan pelanggaran berat.
Harus menulis surat penyesalan. Betapa memalukan dan menyakitkan!
Ia benar-benar merasa putus asa.
Seperti mayat hidup, Yun Fei melangkah keluar dari gedung kampus.
Senja telah turun.
Tanpa arah, Yun Fei berjalan menyusuri lingkungan kampus.
“Eh, bukankah ini si pencuri kartu makan dari kampus kita? Masih berani keluyuran di sini? Belum ditangkap polisi?”
Yun Fei menoleh.
Ternyata, Li Shuai Cai dan Zhang Fang sedang melintas.
Li Shuai Cai berkata dengan nada menggoda dan penuh hinaan.
“Wah, bro, kamu keren juga! Aku sudah coba rasanya, lumayan juga!”
Zhang Fang yang berada di pelukan Li Shuai Cai pun tampak canggung.
“Sialan kau!”
Musuh di depan mata, amarah Yun Fei pun meledak.
Ia langsung menarik kerah baju Li Shuai Cai dan mengangkatnya, siap menghajar.
Situasi pun nyaris tak terkendali...