Bab 30 Ingin Mencicipi Masakan Jiang Chengcheng
Setelah berhasil menanamkan benih kecurigaan, Jiang Yunyao menundukkan pandangan, menyembunyikan kilatan kegembiraan di matanya.
Di Kompleks Perumahan Tinglan Linju.
Jiang Chengcheng bersin beberapa kali berturut-turut. Ia menduga dalam hati, mungkin keluarga Jiang sedang memaki-makinya lagi. Bagaimanapun, penyakit lambung Jiang Yunfeng kambuh saat berada di kediamannya. Dengan adanya Jiang Yunyao, ia tidak perlu khawatir keluarga Jiang akan melemparkan kesalahan itu kepadanya. Bahkan jika itu bukan kesalahannya, kebencian Jiang Yunyao terhadapnya pasti akan membuat wanita itu mencari cara untuk menyalahkannya. Namun, bagi Jiang Chengcheng, satu atau dua tuduhan tambahan tidaklah berarti; ia sudah terlalu sering memikul beban kesalahan yang bukan miliknya.
Sekitar satu jam setelah keluar dari ruang operasi, Jiang Yunfeng akhirnya sadar kembali. Saat itu, hanya Ji Zhengmei yang tersisa di sisi tempat tidur. Melihat putranya siuman, ia segera mendekat, "Feng'er, kau sudah sadar? Apa ada bagian yang terasa tidak nyaman?"
Wajah Jiang Yunfeng masih pucat, dan ia merasa sekujur tubuhnya begitu lemah hingga untuk duduk saja terasa sulit.
"Bu, berapa lama aku tidur?"
Ingatan Jiang Yunfeng terhenti saat ia didorong masuk ke ruang operasi, dan kini ia terbangun di ranjang rumah sakit.
"Kau tidur lebih dari satu jam. Dokter berpesan bahwa ini adalah penyakit lambung yang disebabkan oleh pola makan tidak teratur dalam jangka panjang. Mulai sekarang, kau harus makan tepat waktu, tidak boleh lagi makan sembarangan atau melewatkan waktu makan. Selain itu, segala jenis makanan pedas dan merangsang dilarang keras. Jika aku sampai mengetahuinya, aku akan meminta ayahmu untuk memblokir kartu kreditmu."
Jiang Yunfeng masih berada di usia yang mengandalkan uang saku dari keluarga. Mendengar ancaman pemblokiran kartu kredit, keningnya langsung berkerut.
"Bu, apa tidak terlalu berlebihan?"
Ia merasa itu hanyalah sakit lambung biasa yang sudah sering dialaminya. Lagipula, jika saja Jiang Chengcheng tidak berhenti memasak untuknya belakangan ini, penyakitnya tidak akan kambuh. Jadi, semua ini adalah kesalahan Jiang Chengcheng. Jika wanita itu tetap memasak dan mengingatkannya makan tepat waktu, ia pasti tidak akan berakhir di sini. Seperti dugaan Jiang Chengcheng, semua orang di keluarga Jiang secara otomatis menyalahkan dirinya atas kambuhnya penyakit Jiang Yunfeng.
"Kau sudah dibawa oleh ambulans, dan kau bilang ini tidak serius? Apa kau menunggu sampai lambungmu bocor atau terjadi pendarahan hingga nyawamu terancam baru kau merasa ini serius? Aku sudah bicara pada ayahmu, mulai sekarang jika kau tidak makan tepat waktu, uang sakumu akan dipotong seratus ribu setiap kali kejadian sampai habis. Setelah itu, kau cari uang sendiri. Jangan harap kakak-kakakmu atau Yunyao akan membantumu. Aku akan memberitahu mereka. Semua ini demi menyembuhkan kebiasaan burukmu!"
Ji Zhengmei tidak ingin lagi melihat pemandangan putranya dijemput ambulans karena sakit lambung. Ia terpaksa menekan titik lemah Jiang Yunfeng agar kebiasaannya berubah.
"Kalau begitu, suruh saja Jiang Chengcheng kembali ke rumah dan memintanya memasak untukku lagi serta mengingatkanku makan tepat waktu. Bukankah selama ini dia yang merawatku?"
Jiang Yunfeng tidak ingin mengakuinya, tetapi ia memang merindukan masakan Jiang Chengcheng. Entah mengapa, masakan koki di rumah terasa hambar dan tidak menggugah selera. Masakan Jiang Chengcheng, meski bahannya sederhana, selalu terasa jauh lebih lezat.
"Dia bahkan tidak datang menjengukmu saat kau dirawat di rumah sakit, masih mengharapkan dia memasak untukmu? Dia itu seperti kacang lupa kulitnya. Ibu justru takut dia sengaja menaruh racun di makananmu. Kalau kau tidak suka masakan koki kita, Ibu akan mencarikan koki lain. Nanti kau yang mencicipinya dan pilih yang paling kau sukai."
Dalam kondisi seperti ini, Jiang Yunfeng tentu harus makan. Namun, karena Jiang Chengcheng jelas sudah tidak bisa diatur, Ji Zhengmei hanya bisa mengambil jalan tengah. Jiang Yunfeng ingin membantah, tetapi teringat bahwa Jiang Chengcheng benar-benar tidak datang menjenguknya, ia pun mengangguk dengan sangat enggan.
"Baiklah."
"Karena kau sudah tidur lama, pasti lapar, kan? Ibu akan bertanya pada dokter apakah kau sudah boleh makan, lalu Ibu akan membelikan sesuatu di luar. Kau ingin makan apa?"
Sejak pergi ke Tinglan Linju mencari Jiang Chengcheng hingga sekarang, Ji Zhengmei belum makan apa pun. Ia sendiri mulai merasa lapar.
"Terserah saja."
Jiang Yunfeng tidak peduli, toh makanan dari luar tidak akan terasa istimewa. Ji Zhengmei beranjak keluar dari kamar rawat, memastikan kondisi putranya pada dokter, lalu pergi ke restoran terdekat untuk membungkus makan malam.
Baru saja sampai di depan rumah sakit, ia berpapasan dengan Jiang Yunchen yang baru pulang kerja. Jiang Yunchen memanggilnya, "Bu, sudah malam begini, mau ke mana?"
Jiang Yunchen datang untuk menggantikan giliran menjaga. Besok siang, giliran Jiang Yunye yang akan datang.
"Adikmu sudah sadar, Ibu mau membelikan makanan. Setelah sekian lama, dia pasti lapar."
Melihat rencana Ji Zhengmei untuk membeli makanan di luar, Jiang Yunchen sedikit mengernyit, "Kita tidak tahu bagaimana kebersihan makanan di luar. Aku akan menelepon seseorang untuk mengantarkannya saja. Malam ini aku yang akan berjaga di rumah sakit. Ibu sudah lelah, biar kusuruh orang mengantarmu pulang."
"Baiklah, kalau begitu Ibu pulang saja. Menunggu seharian membuat badanku terasa kaku. Nanti di rumah biar Jiang..."
Ji Zhengmei berhenti di tengah kalimat, tetapi Jiang Yunchen tahu apa yang hendak dikatakan ibunya. Jika dulu, Jiang Yunchen mungkin menganggap itu hal biasa, bahkan menganggap bahwa itu memang tugas Jiang Chengcheng. Namun, sekarang Jiang Chengcheng jelas tidak akan mau menuruti mereka lagi.
Jiang Yunfeng saja sakit tidak dijenguk, apalagi meminta Jiang Chengcheng memijatnya.
"Jika Ibu ingin mencari orang untuk memijat, biar aku yang mengaturnya. Ibu tunggu saja di rumah."
Meminta Jiang Yunchen memijat ibunya adalah hal yang mustahil, namun ia bisa membayar orang lain untuk melakukan bakti tersebut.
"Baiklah, atur saja."
Ji Zhengmei tidak ragu lagi. Ia berbalik meninggalkan rumah sakit, diantar oleh asisten Jiang Yunchen kembali ke vila keluarga Jiang, lalu asisten itu akan pulang dan besok pagi menjemput Jiang Yunchen untuk bekerja. Seorang asisten yang kompeten harus bisa berperan sempurna sebagai sopir.
Jiang Yunfeng menunggu dengan sia-sia. Saat melihat Jiang Yunchen masuk ke kamar rawat sendirian, ia merasa bingung.
"Kenapa kau yang datang? Di mana Ibu?"
"Aku menyuruh Ibu pulang. Malam ini aku yang berjaga. Makan malam akan segera diantar."
Setelah berkata demikian, Jiang Yunchen membuka laptopnya dan mulai mengurus pekerjaan kantor di satu-satunya meja yang ada di kamar rawat. Melihat sikap Jiang Yunchen, Jiang Yunfeng terdiam.
Dua puluh menit kemudian, sebuah restoran terkenal di Jiucheng mengirim pesanan. Isinya hanya sayur-mayur tanpa daging sedikit pun. Wajah Jiang Yunfeng langsung memucat saat melihat makanan tersebut.
"Kak, dokter hanya menyuruhku menghindari makanan pedas dan merangsang, bukan berarti aku tidak boleh makan daging, kan?"
Apa maksud dari menu penuh sayuran ini? Ia sakit lambung, bukan kelebihan nutrisi. Dengan makanan seperti ini, bagaimana gizinya bisa seimbang untuk memulihkan lambungnya?
"Aku sudah memesan pada pihak restoran agar mereka yang menentukan menunya. Kau makan saja apa yang ada. Kalau bisa dimakan, ya dimakan. Kalau tidak bisa... tetap harus dimakan."
Sudah selarut ini, ia tidak ingin repot-repot menelepon restoran lagi untuk meminta pengaturan ulang.
"Masih jauh lebih enak masakan Jiang Chengcheng."
Jiang Yunfeng bergumam pelan, namun tatapan tajam Jiang Yunchen menghentikannya. Pada akhirnya, Jiang Yunfeng terpaksa menghabiskan santapan serba sayur itu. Saat Jiang Yunfeng selesai makan, Jiang Yunchen juga baru saja menyelesaikan dokumen pentingnya. Ia mendongak dan melihat meja di hadapannya sudah berantakan.