Bab 9: Apakah Sum-sum Tulangku Masih Berfungsi dengan Baik?
Luo Yiyan menatap Gu Yixuan, lalu berbisik lembut, "Beristirahatlah dengan tenang, aku akan pergi sebentar."
Setelah berkata demikian, ia berbalik dan berjalan menuju pintu kamar rawat. Begitu keluar, raut wajahnya yang penuh perhatian seketika lenyap. Ia menyipitkan mata, tatapannya menyiratkan kilatan dingin. Ia tahu di lantai mana Yan Lijin dirawat, lalu ia melangkah menuju lift.
Lift berdenting saat tiba di lantai tujuan, pintu pun terbuka perlahan. Ia keluar tanpa ragu, melangkah dengan wajah dingin. Suara ketukan hak tingginya di lantai terdengar nyaring dan terburu-buru, menggema di lorong yang sunyi. Mengikuti arah suara keributan, Luo Yiyan tiba di depan pintu kamar, lalu mendorongnya tanpa ragu.
Sekejap, suasana gaduh di dalam ruangan seolah terhenti. Kamar itu penuh sesak, semua mata tertuju padanya dengan tatapan terkejut. Luo Yiyan mengenal wajah-wajah itu; ia pernah bertemu mereka di acara pernikahan yang kacau waktu itu. Mengabaikan ekspresi mereka, dengan tatapan tegas dan dingin, ia berjalan lurus ke arah Yan Lijin.
Yan Lijin yang sedang bersandar di ranjang rumah sakit sedikit mengangkat alis saat melihat kemunculannya. Ia bertanya santai, "Kenapa kau ke sini?"
Luo Yiyan tidak menjawab, ia terus berjalan hingga tepat di depan ranjang Yan Lijin. Saat semua orang masih terpaku dalam keheranan, terdengar suara tamparan yang keras. "Plak!" Ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menampar wajah Yan Lijin. Tamparan itu begitu telak hingga wajah tampan nan dingin milik Yan Lijin seketika bengkak dan memerah, dengan bekas lima jari yang terlihat jelas.
Suasana seketika membeku, semua orang terpaku kaku karena kejadian mendadak itu. Tatapan Yan Lijin memancarkan niat membunuh yang tajam, dingin seperti dari neraka. Dadanya naik turun menahan amarah yang meluap.
"Kau ingin mati?"
Luo Yiyan menantang tatapan mematikan itu tanpa rasa takut, lalu mencibir, "Mati? Heh, aku justru ingin melihat apakah kau berani. Yan Lijin, aku sudah lama menahan diri terhadapmu!" Suaranya sedingin es, penuh dengan kebencian yang selama ini terpendam. "Apakah sumsum tulangku yang kau ambil itu memuaskan?" Setiap kata diucapkannya dengan penuh dendam.
"Aku ingat kau sendiri yang menyetujuinya, apa maksud ucapanmu sekarang?" Nada suaranya datar, namun matanya menyipit berbahaya seperti binatang buas yang mengincar mangsa, niat membunuhnya semakin nyata. Orang-orang di sekitar bahkan tidak berani bernapas, kamar itu menjadi sangat sunyi hingga hanya terdengar napas yang terburu-buru.
Luo Yiyan tidak bergeming. Ia melangkah maju, menatap Yan Lijin lekat-lekat tanpa mundur sedikit pun. "Heh, memang aku yang setuju, tapi sekarang, aku merasa itu sungguh tidak sepadan."
Mendengar tuduhan itu, Yan Lijin mengira Luo Yiyan hanya ingin mencari keuntungan. Ia sedikit mendongak, menatap Luo Yiyan dengan pandangan meremehkan, seolah sedang menimbang barang yang tidak berharga. Dengan sudut bibir yang melengkung sinis, ia berujar penuh penghinaan, "Katakan, apa yang kau inginkan? Uang? Kedudukan? Atau hal konyol lainnya? Jangan berpura-pura menjadi korban di sini, bukankah kau hanya ingin memeras keuntungan dariku?" Sembari berkata, ia bersandar dengan malas di ranjang, kesombongannya semakin kentara.
Luo Yiyan menatap sikap sok itu dan justru tertawa, namun tawanya tanpa kehangatan, justru terkesan dingin. Ia berbicara pelan namun dengan ketegasan yang tak bisa diabaikan, "Baiklah, aku memang menginginkan sesuatu."
Yan Lijin melambaikan tangan dengan tidak sabar seperti mengusir lalat, nadanya angkuh, "Katakan! Asalkan tidak keterlaluan, aku bisa memberikannya padamu." Sikapnya yang sok kuasa menunjukkan bahwa ia menganggap apa pun yang diminta Luo Yiyan hanyalah barang sepele yang mudah ia berikan.
Luo Yiyan menarik napas dalam-dalam, suaranya jernih dan tegas, cukup keras untuk didengar semua orang di ruangan itu: "Mari kita bercerai."
Begitu kata-kata itu terucap, seluruh ruangan seketika sunyi senyap. Semua orang menatap bergantian antara Luo Yiyan dan Yan Lijin dengan ngeri, tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Ekspresi meremehkan Yan Lijin seketika berubah, seolah ia benar-benar murka. Ia bangkit dari ranjang dengan kasar, tangannya mencengkeram seprai hingga buku jarinya memutih. "Apa katamu?"
Ia menggeram, suaranya rendah dan ganas, seolah jika Luo Yiyan mengulanginya, ia akan menerkam dan mencabik-cabiknya. Seluruh kamar rawat seakan bergetar oleh raungan penuh niat membunuh itu, membuat semua orang ketakutan hingga tidak berani bernapas.
Luo Yiyan tetap tenang, seolah sudah menduga reaksi Yan Lijin. Ia mengulanginya dengan santai namun tegas, "Kau tuli? Aku bilang, kita bercerai!"
Yan Lijin gemetar menahan amarah, ia tertawa getir, penuh ancaman dingin, "Jangan pernah menyesal. Jika bercerai, aku pastikan kau tidak akan mendapatkan sepeser pun." Ia menatap Luo Yiyan dengan tatapan tajam, seolah ingin menembusnya, sembari merencanakan bagaimana membuat perempuan itu membayar harga atas keputusan nekatnya.
Mendengar itu, wajah Luo Yiyan merekah dengan senyuman yang sangat cantik, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia sedikit mendongak, tatapannya penuh penghinaan, lalu berbisik, "Kau pikir aku menginginkannya?"
Ia melipat tangan di dada, punggungnya tegak, memancarkan aura keberanian yang kontras dengan amarah Yan Lijin. Dalam suasana yang mencekam itu, ia terlihat begitu tegas dan lepas.
Yan Lijin menatap tajam, kobaran amarah di matanya seolah ingin melahap Luo Yiyan. "Baik, besok jam sepuluh pagi, sampai bertemu."
Luo Yiyan: "Sampai bertemu!"