Dalam sebuah novel bergenre Mary Sue, para pembaca semua menyukai tokoh pria kedua, sang Raja Iblis, yang dengan sepenuh hati hanya mencintai sang tokoh utama wanita dan rela mengorbankan segalanya de
Markas pusat Sekte Xuanyuan, Sang Penguasa Iblis Wenren E telah mengurung diri selama tujuh hari. Pintu kamarnya tertutup rapat; makanan dan air yang dikirimkan bawahan setiap hari tak pernah disentuh barang setetes pun. Tak seorang pun tahu, ilmu tinggi apa lagi kiranya yang tengah ia selami.
Ketua Yuan, yang bertanggung jawab atas urusan markas besar, berada dalam kebimbangan. Sang Penguasa menutup diri tanpa sepatah pun perintah, dan ia tak tahu kapan Wenren E akan keluar, apakah benar telah mendapat pencerahan baru atau berhasil menembus tingkatan kekuatan berikutnya. Lantas, perlu atau tidak ia menyiapkan pesta perayaan?
Wenren E bukanlah pribadi yang suka bermewah-mewahan; ia pun tak gemar tata cara seremonial. Namun, andai sang Penguasa benar-benar telah menambah kekuatan, setidaknya segenap anggota sekte patut diarahkan berkumpul di aula utama, menanti sang Penguasa keluar dari masa pertapaannya, mengucap selamat atas pencapaian baru, dan meneguhkan mimpi kejayaan Sekte Xuanyuan menguasai dunia persilatan.
Setelah berpikir panjang, Ketua Yuan akhirnya memutuskan meminta petunjuk kepada Penjaga Kiri sekte, Yin Hanjiang. Yin Hanjiang adalah orang kepercayaan sang Penguasa; sebelum menutup diri, Wenren E pun sempat berbicara dengannya. Maka, ia pastilah orang yang paling memahami keinginan sang Penguasa.
Tujuh hari sudah Yin Hanjiang berjaga di depan ruang pertapaan, mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya sedingin salju. Ia seorang yang pendiam dan jarang berbicara; mendengar keluhan Ketua Yuan, rona dingin di wajahnya sempat berubah hampa,